Minggu, 08 April 2012 - 10:59:00 WIB
Kelompok Tani Desa Makamenggit Diklat PertanianKategori: Nusa Tenggara Timur - Dibaca: 413 kali

Baca Juga:Ribuan Siswa dan Guru Ikuti SPKSG dan O2SNBonaran Berpesta Dengan Dana Siluman Rp 5 M Membongkar Proyek Permai Group (6), Pejabat Unsri dan UNJ Tersangka di KejagungPengawas Bangunan di Kecamatan Kalideres Banjir Upeti dari Bangunan Mewah

Sumba Timur, Jaya Pos

Sejumlah 30 orang petani dari Desa Makamenggit, Kecamatan Nggoa, Kabupaten Sumba Timur mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) di Sekolah Lahan Petani Organik (SLPO) yang diprakarsai oleh Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia atau (IPPHTI), bekerja sama dengan DKH dan Gereja Kristen Sumba (GKS).

Kegiatan ini bertujuan, bagaimana melihat kehidupan ekonomi para petani Desa Makamenggit yang mayoritasnya hidup bertani dan kehidupan ekonominya dalam garis kemiskinan. “Sudah dua tahun berturut-turut gagal panen karena iklim yang tidak mendukung dan kemarau panjang. Sehingga alternative untuk menyambung hidup terpakasa masyarakat masuk hutan untuk mencari ubi hutan (iwi) untuk diolah jadi makanan,” kata salah seorang tokoh Desa Makamenggit kepada Jaya Pos.

Menurut pembimbing SLPO Rahmat Bahwa, tujuan SLPO ini adalah menjadikan seorang petani yang mandiri, petani yang bisa memimpin dan petani peneliti. “Di sini kami melatih bagaimana sistim pola bertani yang baik. Maka, pola tanam yang diterapkan adalah merubah pola tanam padi dari yang biasanya, yakni tanam tidak beraturan menjadi anakan padinya banyak dan pola baru yang diajarkan adalah pola SRI, yaitu tanam satu pohon dengan ukuran 25X30/27X30 cm biasanya mendapat 1 Ha benihnya dua setengah karung. Tapi dengan pola SRI, lahan 1 Ha, benih padi yang disiapkan hanya 7kg.

Sistim pemupukannya adalah kembali kepada alam. Artinya, memanfaatkan sesuatu yang tidak berharga menjadi sberarti dan berguna,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga mengajarkan cara membuat pupuk cair/mol cair (mikro organik lokal) cair. Salah satu bahannya adalah urea organik lokal dan pupuk NPK padat. Bahan dasarnya adalah urine manusia. “Untuk pestisida nabati juga, kami ajarkan dan telah kami praktekkan untuk pencegahan penyakit dan hama pada padi.

Pola tanam padi SRI dengan satu-satu pohon sangat tepat dan penghematan bibit,” tambah Rahmat.

Salah satu anggota SLPO Markus Dedungara menuturkan, di saat kami diterapkan pola tanam SRI setelah 49 hari setelah tanam, ternyata dari satu anakan padi berkembang sampai 50 dan 60 anakan padi. “Bayangkan, sangat luar biasa, selain pola tanam SRI, kami juga diajarkan untuk mengetahui keadaan tanah unsur hara, ke asaman tanah, dan tanaman apa yang cocok dengan kondisi tanah.

Kami diarahkan untuk meneliti apa sebabnya tanaman merana, penyakit dan bagaimana penanggulangannya dengan menggunakan pestisida nabati/local,” ujarnya.

Masih menurut Markus, mereka harus paham dan kenali tingkat serangan hama/ penyakit, baru diadakan tindakan penyemprotan pestisida nabati. “Kami juga diajarkan pembuatan pupuk kompos atau padat juga, itu dilatih dan di praktek.

Sekarang kami lagi menerapkan pola tanam S.R.I di lahan pribadi kami dengan penggunaan pupuk organik yang telah kami dapat ilmunya dari dosen pembimbing IPPHTI.

Bagi kami, sebagai petani sangat bersyukur dan berterima kasih kepada IPPHTI, DKH dan GKS Waingapu, sebab dengan adanya program SLPO ini, kami para petani telah menemukan mutiara kehidupan di dalam tanah yang kami olah sebagai petani,” ungkapnya. Bud


0 Komentar













Isi Komentar :
Nama :
Komentar:
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 



TerpopulerProyek Kawasan Wisata Penataran Blitar Abaikan Spek Kadis dan Satker Disbudpar Lempar Tanggung Jawab (59211)Kejanggalan Pengadaan Barang dan Jasa di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kab Sidoarjo Terciu (51048)Walikota Tanjungbalai Hadiri Seminar Nasional Yang Diselenggarakan Pusat Kajian Selat Malaka USU Me (19645)Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kab Pasuruan, Realisasi Drainase di Desa Rejosari Kecamatan (14386)Perempuan Misterius Titip Bayi, Gegerkan Warga Kolelet Picung (13825)BPPT MoU Dengan Pemkab Natuna Kaji Pemanfaatan Teknologi Guna Mendukung Percepatan Pembangunan Dae (13521)Sepasang Kekasih Tewas Di Hotel Kisaran (13442)Kejahatan Freddie Tan, Menjual Aset Triliunan Milik Pemprov DKI Jakarta (12821)Sintong Gultom Bubarkan Rapat Banmus DPRD Setiran Bonaran Situmeang (8901)Perselingkuhan Antar Kepsek Akhirnya Terbongkar (8840)
Bedah JayaposDiduga Libatkan Sejumlah oknum Dewan dan Kades, Dana Pokir Diduga Jadi Ajang BancakanSubang, Jaya Pos Aparat penegak hukum diminta segera mengusut hingga tuntas terkait dugaan bancakan dana ...


Bermasalah, Proyek Kemenhub di KKU Rp 29 M Gagal DilaksanakanPapam Kanas Kecewa Dengan Proses Hukum Di Polsek Bilah HuluWaspada! Bank BNI Cabang Lahat Ada Indikasi Kecurangan di Transaksi Mesin ATM Nasabah ?Pemdes Patimban Diduga Lakukan Pungli SKD/SKA Hingga Ratusan Juta RupiahOtong Khusni : Bukan Hanya 5 Meter, 80 % Pekerjaan Drainase Harus DibongkarRusun Warugunung Memiliki Hutang, DPBT Kota Surabaya Harus Bertanggung JawabGerombolan Pencuri TBS Dan Berondolan Kelapa Sawit PTPN III Aek Nabara Semakin Beringas
Laporan KhususSanggar Tuah Pusaka Juara I Festival Tari Kabupaten Bintan 2019Bintan, Jaya Pos Sanggar Tuah Pusaka kembali menjuarai Festival Tari Tingkat Kabupaten Bintan Tahun 2019. ...


Gelar Forum OPD, DBPR OptimalkanPembangunan Kantor Pelayanan, Gedung Sekolah dan Civic CenterMisteri Liang Sakti Batu GordangBupati Subang Terima Piagam Penghargaan Presiden RI Sebagai Pelaksana Revitalisasi Pasar Rakyat TerbKebebasan Pers Dan Penyimpangan Profesi JurnalisLantik Pengurus Forum Honorer, Bupati Sangat Serius Untuk Dukung Forum HonorerSekilas Sejarah Keturunan Op Guru Tatea BulanDialog Dengan Penerima Bansos PKH dan BPNT Di Bangka Belitung, Ini Pesan Presiden Joko Widodo