Minggu, 08 April 2012 - 10:59:00 WIB
Kelompok Tani Desa Makamenggit Diklat PertanianKategori: Nusa Tenggara Timur - Dibaca: 494 kali

Baca Juga:Ribuan Siswa dan Guru Ikuti SPKSG dan O2SNBonaran Berpesta Dengan Dana Siluman Rp 5 M Membongkar Proyek Permai Group (6), Pejabat Unsri dan UNJ Tersangka di KejagungPengawas Bangunan di Kecamatan Kalideres Banjir Upeti dari Bangunan Mewah

Sumba Timur, Jaya Pos

Sejumlah 30 orang petani dari Desa Makamenggit, Kecamatan Nggoa, Kabupaten Sumba Timur mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) di Sekolah Lahan Petani Organik (SLPO) yang diprakarsai oleh Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia atau (IPPHTI), bekerja sama dengan DKH dan Gereja Kristen Sumba (GKS).

Kegiatan ini bertujuan, bagaimana melihat kehidupan ekonomi para petani Desa Makamenggit yang mayoritasnya hidup bertani dan kehidupan ekonominya dalam garis kemiskinan. “Sudah dua tahun berturut-turut gagal panen karena iklim yang tidak mendukung dan kemarau panjang. Sehingga alternative untuk menyambung hidup terpakasa masyarakat masuk hutan untuk mencari ubi hutan (iwi) untuk diolah jadi makanan,” kata salah seorang tokoh Desa Makamenggit kepada Jaya Pos.

Menurut pembimbing SLPO Rahmat Bahwa, tujuan SLPO ini adalah menjadikan seorang petani yang mandiri, petani yang bisa memimpin dan petani peneliti. “Di sini kami melatih bagaimana sistim pola bertani yang baik. Maka, pola tanam yang diterapkan adalah merubah pola tanam padi dari yang biasanya, yakni tanam tidak beraturan menjadi anakan padinya banyak dan pola baru yang diajarkan adalah pola SRI, yaitu tanam satu pohon dengan ukuran 25X30/27X30 cm biasanya mendapat 1 Ha benihnya dua setengah karung. Tapi dengan pola SRI, lahan 1 Ha, benih padi yang disiapkan hanya 7kg.

Sistim pemupukannya adalah kembali kepada alam. Artinya, memanfaatkan sesuatu yang tidak berharga menjadi sberarti dan berguna,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga mengajarkan cara membuat pupuk cair/mol cair (mikro organik lokal) cair. Salah satu bahannya adalah urea organik lokal dan pupuk NPK padat. Bahan dasarnya adalah urine manusia. “Untuk pestisida nabati juga, kami ajarkan dan telah kami praktekkan untuk pencegahan penyakit dan hama pada padi.

Pola tanam padi SRI dengan satu-satu pohon sangat tepat dan penghematan bibit,” tambah Rahmat.

Salah satu anggota SLPO Markus Dedungara menuturkan, di saat kami diterapkan pola tanam SRI setelah 49 hari setelah tanam, ternyata dari satu anakan padi berkembang sampai 50 dan 60 anakan padi. “Bayangkan, sangat luar biasa, selain pola tanam SRI, kami juga diajarkan untuk mengetahui keadaan tanah unsur hara, ke asaman tanah, dan tanaman apa yang cocok dengan kondisi tanah.

Kami diarahkan untuk meneliti apa sebabnya tanaman merana, penyakit dan bagaimana penanggulangannya dengan menggunakan pestisida nabati/local,” ujarnya.

Masih menurut Markus, mereka harus paham dan kenali tingkat serangan hama/ penyakit, baru diadakan tindakan penyemprotan pestisida nabati. “Kami juga diajarkan pembuatan pupuk kompos atau padat juga, itu dilatih dan di praktek.

Sekarang kami lagi menerapkan pola tanam S.R.I di lahan pribadi kami dengan penggunaan pupuk organik yang telah kami dapat ilmunya dari dosen pembimbing IPPHTI.

Bagi kami, sebagai petani sangat bersyukur dan berterima kasih kepada IPPHTI, DKH dan GKS Waingapu, sebab dengan adanya program SLPO ini, kami para petani telah menemukan mutiara kehidupan di dalam tanah yang kami olah sebagai petani,” ungkapnya. Bud


0 Komentar













Isi Komentar :
Nama :
Komentar:
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 



TerpopulerProyek Kawasan Wisata Penataran Blitar Abaikan Spek Kadis dan Satker Disbudpar Lempar Tanggung Jawab (59567)Kejanggalan Pengadaan Barang dan Jasa di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kab Sidoarjo Terciu (51426)Walikota Tanjungbalai Hadiri Seminar Nasional Yang Diselenggarakan Pusat Kajian Selat Malaka USU Me (44033)Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kab Pasuruan, Realisasi Drainase di Desa Rejosari Kecamatan (14911)Perempuan Misterius Titip Bayi, Gegerkan Warga Kolelet Picung (14186)BPPT MoU Dengan Pemkab Natuna Kaji Pemanfaatan Teknologi Guna Mendukung Percepatan Pembangunan Dae (14014)Sepasang Kekasih Tewas Di Hotel Kisaran (13754)Kejahatan Freddie Tan, Menjual Aset Triliunan Milik Pemprov DKI Jakarta (13213)Sintong Gultom Bubarkan Rapat Banmus DPRD Setiran Bonaran Situmeang (11114)Perselingkuhan Antar Kepsek Akhirnya Terbongkar (9192)
Bedah JayaposPengelolaan Dana Pokir Desa Bojongkeding Diduga Sarat KKNSubang, Jaya Pos Kultur perilaku korup birokrasi di negeri ini kian hari semakin kompleks dan parah. Korupsi ...


Kantor Terbengkalai Rapat Malah Digelar di Rumah KadesAnggaran Pembelian Kendaraan Roda 4 Diduga Mark Up, Kades Ciawi Berdalih Sisa Lebihnnya DisilpakanGetwien Menduga Ada Pihak Sengaja Rekayasa Kasus Menantunya Untuk Cari NamaKetua BPD Bukit Kemuning Tuding Kades Gelapkan DDKangkangi Izin, Aktivitas Mall Matahari dan Gedung Novita Pertaruhkan Nyawa Pengunjung UNTIRTA Pertanyakan Tanah Hibah Yang Diberikan Pemkab PandeglangPekerjaan Bersumber DD di Desa Boddi Kecamatan Mandalle Terkesan Amburadul
Laporan KhususZAF International Semakin Diminati MasyarakatDepok, Jaya Pos ZAF International merupakan lembaga pendidikan yang berkomitmen dengan pengembangan Sumber ...


Pembangunan Tanggul Banjir Blok Pulo Direspon Positif MasyarakatApri Terima Satyalencana Karya Bhakti Praja Nugraha dari Wapres JKBupati OKI Buka Gerak PKK dan BBGRM XVI Rencana Proyek RSUD di Pantura Capai Rp 500 MTMMD, Wujud Nyata Kemanunggalan TNI-RakyatBupati Tanjab Barat Pimpin Rapat Persiapan HUT RI Ke 74 dan Tanjab Barat Ke 54Pemerintah Segera Cairkan DAK Nonfisik Jenis Baru Tahun 2019