Senin, 30 Juli 2018 - 10:15:12 WIB
Kemenperin Ajak Perguruan Tinggi Agar Berperan di Era Revolusi IndustriKategori: Jakarta - Dibaca: 52 kali

Baca Juga:Sudin Dikdas Jakbar Bagikan Kartu Belajar Gratis di SMKN 53Bupati Samosir Launching Madu Asli Lintong Ni HutaKacab JR Kepri Kunjungi Pengobatan Gratis di Pelabuhan PELNI SekupangDirjen Kemenhub Surati Bupati Banggai
JAKARTA, JAYAPOS -  Kementerian Perindustrian terus mengajak perguruan tinggi di Indonesia agar berperan strategis dalam memasuki era perubahan pada revolusi industri 4.0. Langkah kolaboratif triple helix, antara pemerintah dengan pelaku industri dan akademisi ini dinilai penting untuk mewujudkan ekosistem yang mendukung penerapan ekonomi digital.
 
“Industri 4.0 merupakan perjalanan di bidang inovasi dan teknologi. Namun, khusus di Indonesia, yang juga kita pacu adalah empowering human talents. Jadi, kunci kuncinya ada tiga, sumber daya manusia, teknologi dan inovasi,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika menjadi pembicara pada Seminar Nasional Entrepreneurship Indonesia 4.0 yang diselenggarakan Institut Pertanian Bogor (IPB) di Jakarta, Sabtu (28/7).
 
Di hadapan 700 perserta termasuk para alumni Sekolah Bisnis IPB, Menperin menjelaskan, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 guna  mengimplementasikan berbagai jurus jitu dalam kesiapan menuju revolusi industri generasi keempat.
 
"Negara-negara di Asia telah menyiapkan diri di era industri 4.0 ini, seperti India dengan Made in India, dan Thailand dengan Thailand 4.0. Maka itu, Indonesia juga sudah siap," paparnya. Airlangga optimistis, melalui Making Indonesia 4.0, Indonesia akan menjadi negara 10 besar dengan ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2030.
 
Dalam mencapai aspirasi nasional itu, upaya yang perlu ditingkatkan adalah pendidikan. Salah satunya, perguruan tinggi menjadi pusat keunggulan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan. Apalagi, ke depan, Indonesia akan memasuki bonus demografi sebagai momentum masa keemasan. Saat ini, di antara negara-negara G20, Indonesia berada di posisi ke-16.
 
“Beberapa negara telah membuktikan saat berada di dalam golden years, ekonominya bisa lebih tinggi. Tetapi hanya bisa dilakukan apablia mengimplementasikan ekonomi digital,” ungkapnya. Menperin meyakini, penerapan ekonomi digital atau industri 4.0, bakal mampu mendongkrak 1-2 persen untuk pertumbuhan ekonomi, menambah hingga 10 juta lapangan kerja, dan peningkatan kontribusi industri manufaktur sebesar 25 persen pada tahun 2030.
 
Untuk itu, Kemenperin memberikan apresiasi kepada IPB yang telah melahirkan banyak lulusannya dalam mendukung sektor industri. Terlebih lagi, perguruan tinggi ini juga sudah meluncurkan program IPB 4.0. “Tentunya kami berharap, Making Indonesia 4.0 dapat menginspirasi seluruh bangsa guna menghadapi revolusi industri 4.0 ini,” tutur Airlangga.
 
Kemenperin akan mendorong alumni IPB bisa link and match dengan kebutuhan sektor industri saat ini, misalnya industri hasil pertanian, perkebunan, dan kehutanan seperti produsen kertas dan farmasi, serta makanan dan minuman. “Kami juga minta IPB bisa menjaga sustainability industri dan lingkungan. Contohnya, pengembangan new material berbasis bio, karena sumber daya alam kita cukup melimpah, dan sekarang Indonesia arahnya ke sana,” terangnya.
 
Rektor IPB Arif Satria menyampaikan, pihaknya telah menyiapkan peta jalan pengembangan riset baru  dalam rangka menemukan material baru bagi dunia industri di era revolusi industri 4.0. “Sudah banyak  negara mengembangkan material baru pertanian untuk industri, seperti di China yang menjadikan  rumput laut sebagai bahan baku pengganti katun. Dalam pengembangan riset ini, IPB tidak hanya  terpaku pada anggaran pemerintah saja, tetapi bagaimana berkolaborasi dengan industri,” ungkapnya.
 
Potensi Industri 4.0
 
Pada kesempatan yang sama, Menperin menjelaskan, Indonesia punya potensi besar dalam menerapkan revolusi industri generasi keempat. Apalagi, Indonesia telah menjadi basis produksi sektor manufaktur dari perusahaan-perusahaan global untuk memenuhi pasar domestik dan ekspor. 
 
Airlangga menceritakan, implementasi industri 4.0 pertama kali didorong oleh Jerman pada tahun 2011. Alasannya, mereka ingin mengembalikan sektor manufaktur menjadi kekuatan perekonomiannya.
 
“Jadi, apabila kita ingin masuk ke negara maju, tidak hanya berbasis jasa. Selama ini sektor manufaktur kita memberikan kontribusi yang besar terhadap PDB. Di Eropa, tidak punya SDM melimpah, sehingga lari ke otomatisasi, robotik, dan seterusnya. Kita lihat juga negara lain di Asia, seperti India dan Thailand yang fokus pada pengembangan sektor manufaktur,” paparnya.
 
Merujuk data The United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), posisi Indonesia berada di peringkat ke-4 di dunia, setelah Korea, Jerman dan China sebagai negara yang kontribusi sektor manufakturnya di atas 17 persen. “Dengan demikian, sekarang posisi kita sebagai salah satu negara manufaktur yang besar, dan menjadi benchmark bagi negara lain,” ungkap Airlangga.
 
Selanjutnya, di lihat dari pertumbuhan industri manufaktur nasional, rata-rata masih di atas lima persen. Sektor pengolahan ini menjadi pendorong utama dalam pertumbuhan ekonomi. Efek berantainya bisa meliputi pada peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan devisa.
 
“Contohnya di sektor industri mesin dan perlengkapan itu hampir tiga kali pertumbuhan ekonomi, yakni sebesar 14,98 persen, kemudian industri makanan dan miuman mencapai 12,7 persen,” sebutnya. Selain itu, terjadi kenaikan nilai ekspor di sektor industri hingga 13,14 persen pada tahun 2017 dibanding tahun sebelumnya dan mampu berkontribusi sebesar 74 persen untuk seluruh nilai ekspor Indonesia.
 
Menperin menyampaikan, guna menjaga kinerja sektor manufaktur, perlu keberlanjutan produki melalui arus pasokan bahan baku yang baik termasuk dari potensi bahan baku baru. “Untuk new material ini bisa dari hasil hutan, seperti untuk kebutuhan industri farmasi, kertas, dan tekstil,” ujarnya.
 
Ke depan, lanjut Airlangga, negara Norwegia dan Finlandia sudah menggunakan fiber dari kayu. “Kita punya competitive advantage di bidang kayu karena di negara subtropis perlu 20 tahun untuk panen kayu, kita bisa 8-10 tahun. Makanya, kita harus cari solusi teknologi dan lingkungan,” imbuhnya.
 
Di sisi lain, pemerintah tengah mendorong penumbuhan dan pemerataan industri terutama di luar Jawa. “Kita akan replikasi kawasan industri seperti di klaster Bekasi Selatan, dengan satu juta orang lapangan pekerjaan yang berhasil diciptakan di kawasan industri tersebut, GDP-nya dari seluruh pabrik lebih dari USD35 miliar per tahun atau GDP-nya per kapita sebesar USD35 ribu,” ungkap Menperin.
 
Beberapa pembangunan kawasan industri di luar Jawa, seperti di Morowali, Sei Mangkei, Lhokseumawe, dan Lampung terus menunjukkan progres yang baik. Kemenperin juga semakin aktif menarik investor untuk mengisi kawasan industri tersebut. “Saat ini, kita mampu produksi stainless steel dari nickel ore jadi hot rolled coil (HRC), dari yang awalnya harga USD40-80 bisa mencapai di atas USD2.000 untuk HRC. Jadi ada peningkatan nilai tambah. Kita juga ekspor stainless steel terbesar ke AS,” tuturnya.
 
Guna memasuki industri 4.0, Kemenperin pun mendorong pembangunan infrastruktur digital melalui peningkatan jaringan internet hingga 5G untuk di kawasan industri. “Bahkan, kami mulai masuk ke lingkungan pesantren untuk pengenalan ekonomi digital ini, sehingga kita sebut ekonomi gotong royong di era digital untuk menumbuhkan sektor industri kecil dan menengah (IKM),” pungkasnya. (Dapot)

0 Komentar













Isi Komentar :
Nama :
Komentar:
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 



TerpopulerKejanggalan Pengadaan Barang dan Jasa di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kab Sidoarjo Terciu (50469)Proyek Kawasan Wisata Penataran Blitar Abaikan Spek Kadis dan Satker Disbudpar Lempar Tanggung Jawab (18735)Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kab Pasuruan, Realisasi Drainase di Desa Rejosari Kecamatan (13556)BPPT MoU Dengan Pemkab Natuna Kaji Pemanfaatan Teknologi Guna Mendukung Percepatan Pembangunan Dae (12870)Perselingkuhan Antar Kepsek Akhirnya Terbongkar (8132)Mandi Seperti Manusia Petugas Yakin Bonita Adalah Harimau 'Jadi-Jadian' (5423)Tujuh Komoditas Unggulan Dinas Perkebunan Propinsi Jawa Timur (5177)Sintong Gultom Bubarkan Rapat Banmus DPRD Setiran Bonaran Situmeang (4414)Dua Siswa Kelas 3 SMKN Tutur Dikeluarkan, Disuruh Buat Pernyataan Pengunduran Diri (4069)PT IIGF Adakan Baksos di Desa Telajung (3684)
Bedah JayaposDugaan Pungli Program Redis di Kecamatan Sobang, LSM Setempat Siap Laporkan ke Aparat HukumPandeglang, JAYAPOS - Terkait dugaan pungutan liar (pungli) Program Redistibusi yang sedang berjalan ...


Futsal Pogot Samping Balai RW Asal Jadi, Penyelenggara Dispora BungkamKebakaran Jenggot, Kadis PUTR Kabupaten Agam Marah-Marah Pemasangan Lampu PJU Darmo Terindikasi DikorupsiDiduga Tanpa IMB, Pembangunan Pasar Rao-Rao Tetap DilanjutkanTPM P3TGAI Desa Banyubiru Tertutup Pada WartawanAnggota DPRD Geram, Bangun Drainase Tidak Sesuai HarapanKejati Minta Tindak PT Citra Indah Lestari, Proyek Rp 4 M di Kapuas Terindikasi Tak Sesuai Kontrak
Laporan KhususRapat Paripurna DPRD Tanah Datar Terkait APBDTanah Datar, JAYAPOS - Ranperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kabupaten Tanah Datar tahun 2017 ...


Publikasi Kinerja Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor Semester I Tahun 2018Bupati Heri Amalindo Lepas Rombongan Karnaval HUT RI Ke-73Detik-Detik Proklamasi HUT Kemerdekaan RI di Muara Enim BerkumandangBangun Kesehatan, Padangpanjang Canangkan GermasRibuan Manusia Menari Maumere di Penutupan TMMD BanjarnegaraMengenang Sejarah Aceh di Pameran Aceh Story ExpoPangdam Diponegoro Bangun Jembatan Sutabrata Desa Sawangan