Minggu, 14 Juli 2019 - 06:54:00 WIB
Adat Suku BatakKategori: Laporan Khusus - Dibaca: 217 kali

Baca Juga:Pemberangkatan CJH Sulteng, Penerbangan Reguler Tidak TergangguKades Rimpian Lempar Tanggungjawab6 orang PSK Positif Terjangkit Menderita HIV75 Pemuda Ikuti Penyuluhan Bahaya Narkoba

Catatan: Aliman Tua Limbong (Wartawan Jaya Pos) - Bagian ke Tiga Belas

Pengertian Adat secara umum adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan kelembagaan dan hukum adat yang lazim dilakukan suatu daerah.

Dari perkataan adat muncul kata adat-istiadat yang artinya perlakuan kebudayaan dan aturan yang telah ditetapkan dalam lingkungan masyarakat.
Dari pengertian itu, dapat disimpulkan bahwa adat itu adalah suatu kebiasaan warisan leluhur bergantung daerahnya masing-masing.

Kali ini, penulis mencoba memberi pemahaman tentang adat-istiadat Suku Batak. Pada zaman penjajahan Belanda, daerah Batak masih satu wilayah yang dikenal dengan istilah Keresidenan yang berpusat di Kota Sibolga. Seiring berjalannya waktu, sistem pemerintahan berubah menjadi kabupaten yang pada waktu itu dikenal Kabupaten Tapanuli Utara.

Tidak lama Kabupaten Dairi dimekarkan sehingga Kabupaten Tapanuli Utara terdiri dari 5 wilayah pengembangan yakni: 1.Wilayah Silindung, 2. Wilayah Toba, 3. Wilayah Humbang Nahornop, 4. Wilayah Humbang Hasundutan dan 5. Wilayah Samosir.

Mengapa penulis harus menjelaskan sejarah perjalanan sisten penerintahan tersebut? Alasannya adalah sebab masing-nasing daerah memiliki adat-istiadat yang hakiki yang bernuansa kedaeraan bukan kelompok atau paguyuban.

Setiap daerah ada tata cara adat-istiadat yang menggambarkan jati diri maupun dalam kehidupan bersosial budaya yang diwariskan nenek moyang terdahulu kepada keturunannya.

Akan tetapi diatas segalanya kebiasaan yang telah dilakukan di setiap daerah muaranya adalah Dalihan Natolu yang mempedomani Manat Mardongan Tubu artinya harus menghormati satu rumpun yang masih sanak saudara, Elek Marboru artinya harus menarik perhatian dari pihak saudara perempuan, dan Somba Marhula Hula artinya harus hormat terhadap saudara pihak isteri.

Ada beberapa perbedaan adat di setiap daerah. Misalnya acara adat perkawinan Silindung, Humbang, dan Toba hampir sama yang menegaskan tidak boleh anaknya melaksanakan acara adat perkawinan jika orang tuanya belum melakukan acara adat perkawinannya.

Sementara Samosir tidak masalah ketika seseorang melakukan adat perkawinan wakaupun orang tuanya belum melaksanakan acara adat.
Demikian halnya dalam hal pembagian jambar, dalam acara pesta perkawinan di Samosir secara umum tidak ada Ulu ni Dekke Mulak, masih banyak perbedaan adat yang tidak dapat dipaparkan dalam tulisan ini.

Para pembaca, tulisan hanya pemantik selaligus menggugah hati para pembaca jika memang disana-sini ada yang kurang. Mari kita duduk bersama untuk meluruskannya. Karena setiap perbedaan harus dihormati dan perbedaan itulah sebenarnya membuat kita bahagia.(****)

 


0 Komentar













Isi Komentar :
Nama :
Komentar:
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 



TerpopulerProyek Kawasan Wisata Penataran Blitar Abaikan Spek Kadis dan Satker Disbudpar Lempar Tanggung Jawab (59646)Kejanggalan Pengadaan Barang dan Jasa di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kab Sidoarjo Terciu (51496)Walikota Tanjungbalai Hadiri Seminar Nasional Yang Diselenggarakan Pusat Kajian Selat Malaka USU Me (49434)Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kab Pasuruan, Realisasi Drainase di Desa Rejosari Kecamatan (14978)Perempuan Misterius Titip Bayi, Gegerkan Warga Kolelet Picung (14258)BPPT MoU Dengan Pemkab Natuna Kaji Pemanfaatan Teknologi Guna Mendukung Percepatan Pembangunan Dae (14075)Sepasang Kekasih Tewas Di Hotel Kisaran (13806)Kejahatan Freddie Tan, Menjual Aset Triliunan Milik Pemprov DKI Jakarta (13302)Sintong Gultom Bubarkan Rapat Banmus DPRD Setiran Bonaran Situmeang (11865)Perselingkuhan Antar Kepsek Akhirnya Terbongkar (9275)
Bedah JayaposMaladministrasi Pelayanan Mutasi Kendaraan di Samsat Kota Bekasi Semakin ParahBekasi, Jaya Pos Pelayanan mutasi kendaraan di Samsat Kota Bekasi sarat dengan maladministrasi, dimana ...


Punya Beking di Kejagung, Pejabat Masih "Kutip" KontraktorPengelolaan DAK 64 Miliar, Disdik Ketapang Diduga Berkubang di Pusaran KKNTender Dibatalkan, Ada Tekanan Dahsyat ?Proyek Talud Pengaman Pantai Pering Diduga Tidak Sesuai SpekAPBDes Pademonegoro Diduga Masuk Kantong KadesRealisasi APBDes Sidokepung Kecamatan Buduran Tidak TransparanLahan Pertanian Milik Pemprov Jatim Disewakan di Kecamatan Tutur, Uangnya Kemana ?
Laporan KhususAmryatul Anam dan Melan Puspitasari Terpillih Menjadi Pradana Ambalan Pandu-KunthiJawa Tengah, Jaya Pos Amryatul Anam dan Melan Puspitasari terpilih menjadi Pradana Ambalan Pandu-Kunthi pada ...


Sekang Dewek Nggo Dewek Volly Pantai, Staf Teritorial JuaraBupati Tasikmalaya: Teruslah Berkreasi, Berkarya Dalam Gerakan PramukaRaperda Perubahan APBD 2019 Disahkan20 Anggota DPRD Kota Padang Panjang Dilantik dan DisumpahIlyas Panji Alam Sholat Idul Adha di Masjid An-NurPUBLIKASI KINERJA DINAS LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN BOGOR TAHUN 2019Bertemu di IPDN, Bupati Bantaeng Bincang Akrab dengan Wapres