Sabtu, 03 November 2012 - 05:36:34 WIB
Kriminalisasikan Pasangan Suami Istri, IPW: Copot Penyidik dan Kapolsek CengkarengKategori: Bedah Jaya Pos - Dibaca: 899 kali

Baca Juga:Perpat Desak Walikota Batam Copot ZulhendriKanwil Depag Sulsel Bangun Proyek "Siluman"PP No 84 Tahun 1999 Belum Berlaku di BukittinggiSopir Nakal Rugikan Masyarakat dan Pemerintah

Jakarta, Jaya Pos

Kepala Polisi Sektor (Kapolsek) Cengkareng, Kompol Rudy Reinewald dan aparatnya diduga telah melakukan pelanggaran hukum dan menabrak hak asasi manusia (HAM) atas kriminalisasi yang diterima oleh pasangan suami istri, Sutanto (44) dan Yayuk (34). Warga Kapuk, Jakarta Barat itu dilaporkan seorang warga keturunan Tionghoa bernama Junaidi ke Polsek Cengkareng dengan tuduhan penipuan dan penggelapan.

Tuduhan Junaidi diduga tidak mendasar, kerena baik Sutanto maupun Yayuk tidak pernah menipu maupun menggelapkan sesuatu milik Junaidi.

Ketika pertama kali dipanggil polisi untuk dimintai keterangan, Sutanto kaget bukan kepalang. Ia tak mengira Junaidi yang sangat dekat selama ini dengan keluarganya telah membuat laporan yang mengada-ada di Polsek Cengkareng. Selama ini, Junaidi sering minta tolong kepada Sutanto maupun istrinya Yayuk untuk berbagau urusan.

Junaidi melaporkan Sutanto dan Yayuk atas tuduhan penipuan dan penggelapan dalam pengurusan BPKB hilang dan pendaftaran listrik baru. Namun Sutanto membantah semunya dengan alasan yang sangat jelas dan masuk akal.

Menurut Sutanto, suatu hari Junaidi datang ke rumahnya meminta bantuan guna mengurus BPKB hilang. Berhubung Yayuk, istri Sutanto sering mengurus dokumen kendaraan, maka pekerjaan itu diterimanya.  Guna pengurusan ini, Yayuk menerima  uang untuk pengurusan sebesar Rp 900 ribu dan yang kedua Rp 600 ribu.

“Di tengah pengurusan dokumen BPKB tersebut, ternyata kendaraan tersebut diblokir oleh bank sehingga pengurusan tidak bisa dilanjutkan, dan petugas  menyarankan agar blokir bank dicabut dulu oleh pemiliknya,” cerita Sutanto.

Istri Sutanto pun melaporkan hal itu kepada Junaidi agar blokir bank dibuka untuk melanjutkan pengurusannya. Tunggu punya tunggu, ternyata Yayuk sudah dilaporkan ke Polsek Cengkareng dengan tuduhan pasal 378 dan 372 KUHP.

Untuk masalah listrik, Sutanto menceritakan, bahwa ia pernah diminta Junaidi untuk mendaftarkan pemasangan listrik baru ke rumahnya. Dalam pengurusan pemasangan listrik, ia diberikan dana Rp 600 ribu untuk pembayaran pendaftaran gambar dan konsuil di kantor PLN.

Kemudian Junaidi  memberi lagi Rp 900 ribu untuk pengurusan selanjutnya, dan setelah beberapa lama, Junaidi meminta dokumen yang telah diurus Sutanto untuk selanjutnya didaftar di kantor PLN.

Ketika Junaidi mendaftarkan pemasangan baru, pihak PLN menolak karena yang mendaftarkan atas nama Sutanto. Dengan marah-marah Junaidi memberikan kembali berkas pendaftaran kepada Sutanto sembari menyuruh agar Sutanto yang mendaftarkan, tapi dana Rp 400 ribu untuk pendaftaran sambung baru tidak diberikan Junaidi. Atas dasar itulah, Junaidi pun melaporkan Sutanto ke Polsek Cengkareng dengan tuduhan pasal 378 dan 372 KUHP tentang penipuan dan penggelapan.

Proses aneh

Banyak keanehan dalam proses penyidikan kasus yang dialami Sutanto dan Yayuk. Milsanya, panggilan dari Polsek Cengkareng yang ia terima pada tgl 9 Desembar 2011 silam, dibuat dalam satu surat pangilan dengan dua obyek perkara.Yang paling aneh, surat panggilan pertama yang diterima oleh Sutanto, hari, tanggal dan bulan ditempel tempel dengan lem.

Ketika mendapat panggilan itu, Sutanto menyuruh temannya bernama Lim untuk menjumpai Kapolsek menanyakan keabsahan panggilan yang ia terima. Kemudian Lim mendapat keterangan dari Wakapolsek saat itu. Wakapolsek minta maaf atas kerja anak buahnya dan berjanji akan memberi peringatan kepada penyidik, Iptu Basir.

Setelah kasus ini berjalan 10 bulan, pada 3 Oktober 2012 Polse Cengkareng kembali mengirimkan surat panggilan kepada Sutanto dan Yayuk, sehingga surat panggilan pertama dua kali diterima oleh Sutanto dengan kasus yang sama.  Berhubung karena ada halangan, pasangan suami istri itu pun tidak menghadiri panggilan tersebut.

Pada tanggal  10 Oktober 2012, panggilan kedua datang. Ironisnya, anak Sutanto dan Yayuk yang berumur 14 tahun pun turun dipanggil sebagai saksi oleh Polsek Cengkareng, kemudian anaknya perempuan dipanggil lagi sebagai saksi.

Merasa ada tekanan fisikis dan keanehan dalam proses penyidikan itu, Yayuk memberanikan diri melaporkan  penyidik  Polsek Cengkareng bernama  Iptu Basir  ke Propam dan Kapolda Metro Jaya.

“ Saya sudah stress berat melihat ulah Iptu Basir, bahkan kerja  tidak konsentrasi lagi. Saya ini orang kecil, apa karena Junaidi banyak uangnya  langsung diterima laporannya” kata Sutanto.

Usut Tuntas

Kriminalisasi yang diterima Sutanto dan Yayuk sudah sampai ke telinga pemerhati kepolisian, Neta S Pane. Direktur Eksekutif Indonesian Police Watch (IPW) tersebut menyesalkan langkah penyidik Polsek Cengkareng yang dianggapnya tidak professional dan berpihak.

“Ketika saudara Junaidi melaporkan Sutanto dan Yayuk ke Polsek Cengkareng, unsur- unsur pasal 378 dan 372  yang dikenakan kepada yang bersangkutan dasarnya apa?  Junaidi datang ke rumah Yayuk minta tolong mengurus sesuatu, namun terganjal dengan kendaraan Junaidi yang bermasalah. Demikian juga saudara Sutanto. Bukti  pengurusan itu ada, apa ini bisa dikatan penipuan dan penggelapan,” tegas Neta.

Neta meminta Kapolda Metro Jaya, agar memberikan sanksi yang tegas kepada Kapolsek Cengkareng dan penyidiknya, agar kedepannya jangan terjadi lagi kasus yang serupa. “Mulai dari Kapolsek sampai ke penyidiknya harus diberi sanksi, mungkin sangat tepat pencopotan,” tegas Neta. Tim


0 Komentar













Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 



TerpopulerMembongkar Proyek Permai Grup (Bag 1), PT AJ Dapat Jatah Rp 35 M di Kementerian Perhubungan (113008)Komisi IX DPR RI dan Menteri Kesehatan Agar Meninjau Kembali Pembangunan Rumah Sakit Internasional (81928)PP Amanatul Ummah Tidak Penuhi Janjinya Pada Wali Murid (14313)Tanah Milik H.Amiruddin Pase Jadi Ajang Kejahatan Koneksitas Hakim Dan Penyidik Kepolisian (9975)Dilaporkan Ke KPK, Pejabat DKI Korupsi Tanah Rp 49 Miliar (8181)Masyarakat Tapanuli Tengah Demo Didepan Kantor KPK Minta Ketua KPK Tangkap Bonaran Situmeang (8011)Sudah Tiga Jenderal Polisi Pembawa Gerbong Terbelit Kasus (7384)Harian JAYA POS (6560)Demo di Kantor Bupati Tapteng, Minta Bonaran Situmeang Segera Ditangkap (6369)SMPN 2 Pasar Kemis Butuh Ruang Kelas Baru (6236)
Bedah JayaposDiduga Proyek Bermasalah 3 LSM Laporkan ke KPKBantaeng, Jaya Pos Kegiatan reklamasi proyek dari Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga ...


Kejaksaan Akan Usut Dugaan Korupsi PDAM TirtaweningProyek peningkatan Sistem Lalu Lintas Kapal di Dumai, Publik Pertanyakan Bentuk Proyek dan KeberadaaAhli Waris Keluarga Tiga Menteng, Menuntut Pembayaran Ganti Rugi Lahan SDN No 14 dan 41Putihkan 5.000 Ha Sawit Ilegal Milik PT. BGA Group, Pejabat Ketapang Diisukan Terima Fee Rp 40 M52 unit Perumahan Dibangun PT Erminta Diduga Tanpa IMBButuh Perhatian Kapoldasu, Pemerasan dan Perampokan Marak di JalinsumDiduga Manager PT. PAL Main dengan Mafia Tanah
Laporan KhususJokowi - JK deklarasikan kemenangannya di Sunda KelapaJakarta, Jaya Pos Setelah Komisi Pemilihan Umum Pusat Jakarta, Selasa Malam, menetapkan Joko Widodo dan ...


"Ida Hinadenggan ni Angka na Sarohai"Tradisi Budaya Mudik Tradisi Mudik Bagi Kaum PerantauQuck Count dari Berbagai Lembaga Survei, Pasangan Jokowi-JK Unggul SementaraKelompok Tani Pribumi Kalbar Dukung Jokowi-JK Jadi Presiden RIGerakan Batak Bersatu Dukung Jokowi-JKBudaya Adat Totokng Simpang Pasir Dukung Jokowi-JKPuisi Gejolak Asmara & Kaca Oleh: Sarah Engeline Joseph.