Sabtu, 06 April 2013 - 07:48:01 WIB
NP dan S Dilaporkan ke Polda, Miliaran Dana Koperasi PT Askrindo Diacak-acak Dua Pengurus LamaKategori: Bedah Jaya Pos - Dibaca: 1312 kali

Baca Juga:Industri Oli Palsu Di depan Mata, Kapolres Jakarta Pusat Bungkam, Ada Apa?Haknya Dikebiri Pengembang Nakal, Pemilik Rusun Minta Perlindungan Hukum Kepada Pemprov DKI JakartaD'Dragon Menyangkal Sediakan MirasBPMP2T Terima 300 Surat Pengaduan Dari Masyarakat

Jakarta, Jaya Pos

PT. Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) selama ini dikenal sebagai perusahaan plat merah yang kerap merugi. Namun untuk urusan korupsi, tetap saja berjalan. Sejumlah oknum di tubuh badan usaha milik negara (BUMN) ini mengeruk keuntungan dari keuangan negara yang dikelola perusahaan.

Belum lama terungkap pembobolan dana PT Askrindo sebesar Rp 442 miliar, kini ada lagi indikasi korupsi di perusahaan yang sekarang dipimpin Antonius Chandra S. Napitupulu itu. Bedanya, kasus baru ini diduga terjadi pada Koperasi Karyawan Asuransi PT Askrindo.

Dua pengurus inti Koperasi Karya­wan Askrindo periode 2008-2011, yakni NP dan S diduga kuat melakukan penggelapan dana koperasi miliaran rupiah. Keduanya sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada  21 Januari 2013 lalu dengan tuduhan penggelapan uang koperasi sebesar Rp 2.190.000.000.

Selama menjadi pengurus koperasi, NP dan S dengan leluasa mengacak-acak keuangan koperasi tanpa aturan. Sejumlah temuan yang mengindikasikan penyimpangan yang dilakukan kedua pria itu antara lain penggunaan uang koperasi melalui rekening pribadi NP dan S masing-masing Rp 425.000.000 dan Rp 896.576.350, pencairan cheque BSM nomor C 151932 senilai Rp 603.500.000 oleh S.

Kemudian penarikan uang tunai sebesar Rp 222.500.000 dan pencairan cheque sebesar Rp 1.664.020.000 oleh S, kerjasama Koperasi Karyawan Askrindo dengan PT. Usayana Utama dimana ada pinjaman yang disetor ke rekening pribadi NP sebesar Rp 400.000.000, penggunaan dana koperasi yang tidak jelas peruntukannya yang diperoleh dari selisih antara jumlah asset dengan jumlah kewajiban dan ekuitas sepanjang tahun 2008-2011 sebesar Rp 8.152.495.919.

Keduanya juga bertanggung jawab atas penggunaan dana yang berasal dari penarikan tunai kas dan bank dari tahun 2008-2011 dengan total Rp 4.674.670.886, penyetoran dana kas dan bank yang tidak jelas dari mana sumbernya dari tahun 2008-2011 dengan total Rp 2.066.165.000 dan kontribusi yang tidak jelas atas kerjasama Koperasi Karyawan Askrindo dengan pihak ketiga, salah satunya dengan PT Muko-Muko Maju Sejahtera.

Jaya Pos sudah mencoba melakukan konfirmasi kepada NP dan S, namun keduanya tidak memberikan keterangan. Demikian juga Direktur Utama PT Askrindo, Antonius Chandra S. Napitupulu. Pria yang mulai menjabat sejak Agustus 2011 tersebut juga belum bersedia memberikan penjelasan terkait skandal dana koperasi yang terjadi di perusahaan yang ia pimpin saat ini.

Pembobolan

Skandal korupsi di tubuh PT Askrindo bukan kali pertama. Pertengahan tahun 2012, majelis hakim Pengadilan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menjatuhkan vonis lima tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider enam bulan kurungan kepada bekas Direktur Keuangan PT Askrindo Zulfan Lubis. Tidak hanya Zulfan, bekas petinggi Askrindo lain yakni Rene Setiawan bersama beberapa orang swasta juga diganjar hukuman. Mereka terbukti terlibat pembobolan dana PT Askrindo sebesar Rp 442 miliar.

Askrindo diduga melakukan investasi fiktif dalam bentuk repurchase agreement (repo), Kontrak Pengelolaan Dana (KPD), obligasi, dan reksadana di sejumlah manajer investasi dan perantara pedagang efek. Berdasarkan data Bapepam-LK, penempatan investasi tersebut dilakukan melalui lima perusahaan yakni PT Harvestindo Asset Management, PT Jakarta Investment, PT Reliance Asset Management, PT Batavia Prosperindo Financial Services, dan PT Jakarta Securities. red


0 Komentar













Isi Komentar :
Nama :
Komentar:
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 



TerpopulerMembongkar Proyek Permai Grup (Bag 1), PT AJ Dapat Jatah Rp 35 M di Kementerian Perhubungan (119380)Komisi IX DPR RI dan Menteri Kesehatan Agar Meninjau Kembali Pembangunan Rumah Sakit Internasional (89569)Diduga Peras Pengusaha Toko Material dan Toko Emas, PPATK Diminta Audit Harta Pejabat KPP Pratama Ko (44695)SMPN 2 Pasar Kemis Butuh Ruang Kelas Baru (40443)PP Amanatul Ummah Tidak Penuhi Janjinya Pada Wali Murid (39122)Bayi Hasil Hubungan Gelap Dibuang di WC Sekitar Kabah ( Nestapa Pahlawan Devisa di Negeri Orang Bgn (35395)Tanah Milik H.Amiruddin Pase Jadi Ajang Kejahatan Koneksitas Hakim Dan Penyidik Kepolisian (34180)Perusahaan Martua Sitorus Ngemplang Pajak Rp 7,2 Triliun? (30343)Ibunda Ajeng Mamamia Dimejahijaukan (29137)Gurame PJTV Ajang Penyaluran Artis Penyanyi (21818)
Bedah JayaposUsut Aliran Duit Saweran Ke DPRD Subang Senilai Rp.1,9Milyar !Subang, Jaya Pos Duit hasil dugaan korupsi terdakwa suap dan gratifikasi kasus korupsi penyalahgunaan dana ...


Proyek Saluran Bulak Banteng Tengah Diduga Bentur PerpresRekanan Mendesak Kepolisian dan Kejaksaan Tindak Oknum DisdikKerusakan di Kawasan Hulu DAS Cimanuk, Akibatkan Banjir BandangBiaya Pembangunan Penyediaan Sarana Air Baku Intake Tirawan Mencapai Rp. 25 MilyarProyek Jalan Baru Lokal Tipe 2 Gagal Kontruksi, PT Diatasa Jaya Mandiri Layak Diblack ListTambang Emas Ilegal Leluasa Beraktifitas, 4 WNA Tiongkok Diringkus Polres SolselPeningkatan Jalan Dengok-BTS Pacitan Terindikasi Dikorupsi (bag 2)
Laporan KhususPemkab Melawi Sampaikan Tujuh RaperdaMelawi, Jaya Pos Pada waktu masa sidang ketiga rapat paripurna pertama tahun 2016 pada Selasa (20/9) di ...


Paulus: ASN Harus Ditempatkan Sesuai JurusanPawai Taaruf Pembukaan MTQ XVI Kabupaten Rohul 2016 MeriahKades Sumber Deras Launching Budi Daya Jamur MerangAPBD Perubahan Kabupaten OKU Tahun 2016 Disetujui DewanWabub Tinjau Penanaman Padi Secara Nasional Dalam Bekerja, Wartawan Harus ProfesionalKumendong Terima Kunjungan DPRD Kotamobagu