Sabtu, 31 Maret 2012 - 08:13:26 WIB
Baru 8 Bulan Menjabat Bupati Tapteng, Bonaran Situmeang Tercium Bau KorupsiKategori: Jakarta - Dibaca: 414 kali

Baca Juga:Membongkar Proyek Permai Group (Bag 5) Bos PT. Ananto Jempieter Harus Segera Ditangkap KPKPembangunan Puskesmas Mampang Pakai Bahan Bekas, Kasudinkes Jaksel BungkamSMKN 1 Indramayu Wakili Kabupaten Indramayu Penilaian Kinerja UPPKPK Diminta Periksa Pembebasan Tol Cisumdawu

- Kasusnya Sudah di KPK

- Asal Usul Dana Pesta Rakyat Rp 5 Miliar Tidak Jelas

Jakarta, Jaya Pos

Belum genap setahun menduduki kursi orang nomor satu di Kabupaten Tapanuli (Tapteng) Provinsi Sumatera Utara, Bonaran Situmeang sudah digoyang dengan isu korupsi. Bupati Tapteng yang dilantik pada 9 Agustus 2011 lalu itu juga dituding membangun birokrasi yang bobrok dan cenderung menguntungkan diri sendiri serta kelompoknya. Mantan pengacara Anggodo Widjojo juga dicap tidak pro rakyat.  

Adalah Asosiasi Wartawan dan LSM (Aswal) Sibolga-Tapteng yang pertama kali melempar tudingan miring terhadap Bonaran Situmeang. Dalam puluhan kali aksi demontrasi yang dilakukan Aswal, terungkap bau busuk dalam pemerintahan di Tapteng yang dipimpin Bonaran, salah satunya adalah pelaksanaan Pesta Rakyat Tapteng pada 12 dan 13 Nopember 2011 lalu yang diperkirakan menelan dana Rp 5 miliar.

Total dana Rp 5 miliar untuk pesta rakyat tersebut dibagi menjadi dua bagian. Pertama, biaya akomodasi pesta, makanan dan peralatan ditaksir Rp 2 miliar lebih. Kedua, pengadaan kaos BOSUR (Bonaran-Sukran) Rp 2,8 miliar. Dari mana Bonaran mendapatkan dana sebesar itu untuk pesta dua hari? Inilah yang dipertanyakan Zulkarnaen Parinduri, Simon Situmorang dkk di Aswal.

Dari keterangan yang dikumpulkan Jaya Pos di Pandan Tapteng, pihak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat tidak pernah mengalokasikan dana Rp 5 miliar untuk pelaksanaan Pesta Rakyat Tapteng tahun 2011. Demikian juga pengadaan kaos Bosur sebanyak 86.000 potong yang dibagikan pada saat Pesta Rakyat tersebut, dananya tidak ada dalam APBD Tapteng.

Khusus dalam pengadaan 86.000 potong kaos Bosur, Jaya Pos meminta keterangan Pantun Banjarnahor, pengusaha industri tekstil di Jakarta yang menyediakan kaos tersebut. Pantun mengaku bahwa dirinya yang membuat, memproduksi dan mengirimkan kaos tersebut ke Tapteng untuk kepentingan Pesta Rakyat Tapteng. Ia merinci, untuk 1 potong kaos dibayar dengan Rp 32.000.  “Total biaya untuk pembuatan 86.000 potong kaos Bosur sebesar Rp 2.832.000.000 sudah termasuk ongkos kirim ke Tapanuli Tengah,” kata Pantun kepada Jaya Pos di Jakarta, Kamis (29/3) lalu.

Siapa yang membayarkan biaya pembuatan kaos Bosur tersebut? Pantun mengaku bahwa Bonaran Situmeang lah yang mengonder kaos tersebut dan ia mendapat bayaran dari Bonaran sendiri sebesar Rp 2.832.000.000. Ia membantah bahwa kaos tersebut merupakan sumbangan pribadi dia untuk Bonaran.  “Salah satu sub bidang perusahaan saya adalah industri tekstil termasuk kaos, jadi ini pekerjaan biasa buat saya. Untuk kaos Bosur, saya bantu sesuaikan dengan harga pabrik, bukan harga pasar. Kaos itu bukan sumbangan pribadi, namun saya dibayar lunas oleh saudara Bonaran Situmeang,” ungkap Pantun.

Pembayaran kaos Bosur tersebut dilakukan Bonaran melalui transfer bank ke rekening Pantun di Jakarta. “Saya bisa tunjukkan kepada siapapun, bahwa kaos itu dibayar. Saya menerima bayarannya melalui transfer dari Bonaran. Jadi jelas, itu bukan sumbangan apalagi disebut kompensasinya saya akan mengatur proyek di Tapteng,” tegas Pantun.

Pengakuan Pantun ini memang menjadi pembenaran atas tudingan miring kepada Bonaran. Dari mana pria yang sebelumnya berkiprah di Jakarta sebagai pengacara itu mendapatkan uang yang cukup besar untuk pelaksanaan Pesta Rakyat Tapteng khususnya pengadaankaos yang dibayarnya dengan uang sendiri.

Merujuk pada laporan kekayaan Bonaran yang diserahkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebelum mencalonkan diri sebagai bupati, pria kelahiran 7 Desember 1962 itu hanya mempunyai harta Rp 1,2 miliar terdiri dari rumah, mobil dan perhiasan.

Ketidakjelasan asal usul dana Pesta Rakyat Tapteng khususnya pengadaan kaos Bosur tersebut dengan cepat sudah sampai ke KPK di Jakarta. Lembaga pembasmi korupsi tersebut sudah menerima laporan dugaan korupsi yang melibatkan Bupati Tapteng, Bonaran Situmeang. Selain itu, Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan juga mendapatkan laporan sekaligus permohonan guna mengawasi transaksi keuangan Bonaran.

Harus Diusut Tuntas

Dimintai tanggapannya sebagai praktisi hukum dan juga penggiat anti korupsi, Direktur Eksekutif Goverment Againt Coruption and Discrimination (GACD), Andar M Situmorang berpendapat, desakan Aswal untuk mengusut asal usul dana Pesta Rakyat khususnya pengadaan kaos Bosur sebesar Rp 2,8 miliar yang berasal dari uang pribadi Bonaran memang sangat penting.  “Bonaran harus menjelaskan kepada masyarakat khu-susnya di Tapteng dari mana asal usul dana pesta rakyat tersebut. Secara hukum juga dia harus mempertanggungjawabkan bila ada uang yang ia terima dari pihak ketiga dengan kompensasi proyek dan sebagainya.

KPK harus bekerja untuk mengusut bila ada dugaan korupsi atau gratifikasi yang dilakukan Bonaran,” tegas pria yang juga berprofesi sebagai pengacara itu.

Masih diam

Jaya Pos mencoba menghubungi Bupati Tapteng, Bonaran Situmeang guna meminta keterangan terkait tudingan yang dialamatkan kepadanya. Sayangnya, dua nomor telepon seluler Bupati tersebut tidak dapat dihubungi.

Pesan singkat (SMS) yang dikirim ke nomor ponselnya pun tidak berbalas. Sementara menurut informasi, saat ini Bonaran berada di Jakarta dalam rangka pendidikan dan pelatihan di Kementerian Dalam Negeri.

Ketua DPRD Tapteng, Sintong Gultom yang dihubungi Jaya Pos ke telepon selulernya juga tidak berkomentar. Pesan singkat (SMS) yang dikirimkan kepada kader Partai Demokrat tersebut juga tidak mendapatkan balasan. red


0 Komentar













Isi Komentar :
Nama :
Komentar:
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 



TerpopulerWalikota Tanjungbalai Hadiri Seminar Nasional Yang Diselenggarakan Pusat Kajian Selat Malaka USU Me (66460)Proyek Kawasan Wisata Penataran Blitar Abaikan Spek Kadis dan Satker Disbudpar Lempar Tanggung Jawab (60952)Kejanggalan Pengadaan Barang dan Jasa di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kab Sidoarjo Terciu (52716)Sintong Gultom Bubarkan Rapat Banmus DPRD Setiran Bonaran Situmeang (18423)Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kab Pasuruan, Realisasi Drainase di Desa Rejosari Kecamatan (16282)Perempuan Misterius Titip Bayi, Gegerkan Warga Kolelet Picung (15541)BPPT MoU Dengan Pemkab Natuna Kaji Pemanfaatan Teknologi Guna Mendukung Percepatan Pembangunan Dae (15263)Sepasang Kekasih Tewas Di Hotel Kisaran (14952)Kejahatan Freddie Tan, Menjual Aset Triliunan Milik Pemprov DKI Jakarta (14712)Diduga Mabuk, Tarian Gemulai Siswi SMAN 1 Mojosari Mojokerto Viral (10931)
Bedah JayaposProyek Jl Pelang-Batu Tajam Ketapang Rp 56,4 M Terindikasi Gagal MutuKetapang, Jaya Pos Proyek Peningkatan Jalan Pelang-Batu Tajam yang dilaksanakan oleh PT Marga Mulya senilai ...


Kejari Kabupaten Bandung Setor Uang Pengganti Perkara Tipikor ke Kas NegaraDiduga Lakukan Pungli, Kepala Desa Dan Panitia PTSL Dilaporkan Ke Kejari PandeglangDiduga Belum Kantongi IMB, Pembangunan Tower Pemancar Dari Ratelindo Berjalan MulusPetugas Tahanan Kejari Kabupaten Bandung Amankan Pembesuk Bawa SabuDaud Pasaribu SH, : Fakta Persidangan, Objek Perkara Merupakan Harta Warisan Ibu Sinap Untuk PoniyemDewan Kunjungi Proyek 2.2 Milyar, Pelaksana Tuding Bekas PPK Persulit MerekaMerasa Dirugikan, Afrets Elat Melaporkan Keluarga Tumbel ke Polresta Manado
Laporan KhususKesakralan Gunung Pusuk Buhit Perlu DipertahankanCatatan Aliman Tua Limbong (Wartawan Jaya Pos) Menurut beberapa sumber penelitian, para ilmuwan, setelah ...


DPRD Muba Tanggapi Audiensi Baznas MubaSiap Tanggap Bencana, Kodim 0711 Pemalang Menamam Rumput VertiverPemkab Gumas Gelar Forum Konsultasi Publik Penyempurnaan Rancangan RKPD 2021Kabid Humas Polda Sulsel Silaturrahmi Dengan Wartawan MarosEbid Diana Putra: Kita Akan Wujudkan Masyarakat SejahteraPemkab Sukabumi Kembali Pertahankan Opini WTPBupati Gumas Lantik 12 Pejabat Struktural Kecamatan Manuhing