SAMOSIR, JAYA POS – Di tengah derasnya arus informasi yang melaju lebih cepat dari daya ingat manusia, satu hal kerap terabaikan: apa yang tidak ditulis, perlahan akan hilang. Ingatan kolektif tentang asal-usul kampung, nilai-nilai adat, hingga kearifan membaca tanda-tanda alam tidak lenyap seketika, melainkan memudar, bergeser, lalu menghilang tanpa jejak.
Di titik inilah menulis menemukan maknanya yang paling dalam—bukan sekadar aktivitas, melainkan tindakan menjaga kehidupan. Menulis menjadi cara untuk merawat ingatan, mengikat pengetahuan, dan memastikan bahwa warisan leluhur tidak terputus oleh zaman.
Dalam tradisi Batak, dikenal semangat parholong ni pustaha—roh pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Tanpa tulisan, cerita hanya hidup dari mulut ke mulut, rentan berubah oleh waktu dan ingatan. Namun melalui tulisan, masa lalu tidak sekadar disimpan, tetapi juga bisa dihadirkan kembali, dipahami, dan dijadikan pijakan untuk melangkah ke masa depan.
Lebih dari sekadar ekspresi pribadi, menulis adalah kerja kolektif. Ia menentukan apakah sebuah komunitas tetap memiliki arah atau justru kehilangan jejak sejarahnya. Dari laklak—media tulis tradisional Batak—hingga layar telepon genggam masa kini, bentuknya boleh berubah, tetapi tujuannya tetap sama: menjaga nilai, menyimpan pengetahuan, dan mewariskan pengalaman, termasuk kegagalan, sebagai pelajaran berharga.
Tulisan juga berfungsi sebagai pedoman hidup. Aturan adat, praktik menjaga hutan, hingga cara mencegah bencana lahir dari pengalaman panjang yang teruji waktu. Ketika ditulis, semua itu menjadi pegangan bersama; ketika diabaikan, ia mudah dilupakan. Bahkan dalam situasi darurat, tulisan yang jelas dan terstruktur mampu menggerakkan tindakan cepat dan tepat.
Tak kalah penting, tulisan adalah bukti. Di era modern, niat baik saja tidak cukup. Sejarah, hak atas tanah, serta kiprah nyata komunitas membutuhkan dokumentasi yang kuat. Tulisan memberi legitimasi—ia menyatakan bahwa sebuah komunitas ada, berkontribusi, dan memiliki hak untuk didengar serta dihargai.
Tulisan juga menjembatani jarak. Bagi anak rantau, membaca kisah kampung halaman bukan sekadar nostalgia, tetapi panggilan pulang—membangkitkan rasa memiliki yang melahirkan kepedulian. Dari kepedulian itulah muncul tindakan nyata. Bahkan di mata dunia, komunitas yang mampu menarasikan dirinya sendiri akan lebih mudah dipercaya dan dihargai.
Namun, makna menulis kerap disalahpahami. Di tengah budaya digital, tulisan sering diukur dari jumlah pembaca, tanda suka, atau komentar. Padahal, menulis bukanlah kembang api yang gemerlap sesaat. Ia lebih menyerupai pohon yang ditanam—tumbuh perlahan, berakar kuat, dan memberi manfaat jangka panjang.
Tidak semua tulisan harus ramai. Sebuah tulisan yang dibaca segelintir orang, tetapi mampu menggerakkan satu hati untuk peduli, telah menjalankan fungsinya. Dampak sejati tidak selalu hadir dalam jumlah besar, melainkan dari perubahan kecil yang nyata.
Karena itu, menulis tidak perlu menunggu pengakuan. Pujian bersifat sementara, tetapi tulisan yang lahir dari niat menjaga dan mewariskan akan bertahan melampaui waktu—bahkan ketika penulisnya telah tiada.
Ukuran keberhasilan menulis pun patut dimaknai ulang. Bukan pada seberapa banyak yang membaca, melainkan pada sejauh mana tulisan itu mampu menumbuhkan pemahaman, kepedulian, dan tanggung jawab. Jika itu tercapai, maka tulisan telah menemukan tujuannya.
Memang, menulis sering terasa sunyi. Tidak selalu ada respons cepat atau apresiasi yang terlihat. Namun justru dalam kesunyian itulah lahir karya yang tahan lama. Para leluhur menulis tanpa mengetahui siapa yang akan membacanya kelak. Tetapi karena mereka menulis, generasi hari ini masih memiliki arah.
Pada akhirnya, menulis adalah cara agar manusia tidak tercerabut dari akarnya. Ia menjaga keterhubungan dengan masa lalu sekaligus memberi arah bagi masa depan.
Menulis bukan tentang menjadi viral. Menulis adalah tentang menjaga yang penting agar tidak hilang.
Sebab suatu hari nanti, ketika waktu telah berlalu, tulisanlah yang akan bersaksi—bahwa kita pernah ada, pernah berpikir, dan pernah berusaha menjaga apa yang kita anggap berharga. ***
Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl.Ec., Dipl.Plan., M.Si












