Oleh: Wimar Eliaser Simandjorang
Pegiat Lingkungan Berbasis Budaya
Putra Batak yang Tinggal di Kaki Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-mula
SAMOSIR, JAYA POS — Selama puluhan tahun, barangkali kita telah keliru memahami lagu “O Tao Toba” karya almarhum Nahum Situmorang.
Kita sering menyanyikannya sebagai lagu kerinduan. Lagu tentang keindahan Danau Toba yang membangkitkan rasa cinta dan nostalgia bagi orang Batak di perantauan.
Tetapi jika kita mau berhenti sejenak dari sekadar menikmati melodinya, lalu membaca liriknya dengan hati dan pikiran yang lebih dalam, kita akan menemukan sesuatu yang jauh lebih besar.
“O Tao Toba” bukan sekadar lagu cinta kepada tanah kelahiran. Ia adalah peta kehidupan.
Peta tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan alam.
Dan yang menarik, pesan itu lahir jauh sebelum istilah sustainability, konservasi, perubahan iklim, atau pembangunan berkelanjutan menjadi bahasa populer seperti sekarang.
Mari kita dengarkan kembali apa yang ditulis Opung Nahum:
“Angka dolok na timbo / Do mangkaliangi ho.”
Perhatikan baik-baik. Nahum tidak memulai kisahnya dari air.
Ia memulainya dari dolok—gunung dan perbukitan yang mengelilingi Tao Toba.
Mengapa?
Karena alam tidak pernah berdiri sendiri.
Dolok menjaga Tao. Tao memberi kehidupan kepada manusia. Manusia seharusnya menjaga kembali dolok dan Tao.
Itulah sebuah lingkaran kehidupan.
Jika salah satu mata rantainya kita putus, keseimbangan itu akan terganggu. Ketika dolok digunduli, air kehilangan penjaganya. Ketika tutupan hutan hilang, erosi meningkat, mata air terganggu dan akhirnya kualitas kehidupan di sekitar Tao ikut terancam.
Sesungguhnya hukum ekologis itu sudah lama dikenal dalam kebijaksanaan masyarakat Batak, bahkan sebelum kita mengenal istilah ilmu lingkungan.
Tao yang Indah Adalah Tao yang Menghidupi
Nahum kemudian menulis:
“Hauma na tung bolak / Adaran na pe lomak / Pinahan na pe rarak / Pandaraman pe bahat.”
Sekali lagi, mari kita perhatikan apa yang dibanggakan Nahum.
Bukan hotel yang menjulang.
Bukan resort yang mewah.
Bukan bangunan yang memenuhi tepian danau.
Bukan pula keramba yang semakin luas.
Yang dibanggakan justru adalah hauma na bolak—lahan pertanian yang luas tempat manusia memperoleh pangan.
Adaran na lomak—padang yang subur untuk ternak.
Pinahan na rarak—ternak yang berkembang.
Dan pandaraman na bahat—ruang kehidupan yang membuat kampung tetap bernapas.
Dengan kata lain, bagi Nahum, keindahan Tao Toba bukan semata-mata persoalan pemandangan.
Tao Toba disebut “uli” karena ia mampu menghidupi.
Inilah yang sering kita lupakan.
Danau yang indah tetapi tidak mampu lagi menghidupi masyarakat di sekitarnya, apakah masih pantas kita sebut sebagai Tao yang uli?
Pemandangan yang indah tetapi airnya tercemar, apakah itu benar-benar keindahan?
Pertumbuhan pariwisata yang menghasilkan banyak bangunan, tetapi pada saat yang sama mengurangi ruang hidup masyarakat dan menekan daya dukung lingkungan, apakah itu kemajuan yang sesungguhnya?
Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu kita renungkan bersama.
Sebab pembangunan tidak boleh berhenti pada berapa banyak bangunan yang berdiri atau berapa banyak wisatawan yang datang.
Ukuran keberhasilan pembangunan seharusnya juga dilihat dari apakah alam tetap sehat dan masyarakat sekitar tetap mampu hidup layak.
“Raja ni Sude na Tao”
Karena itu, ketika Nahum menyebut:
“O Tao Toba / Raja ni sude na tao,”
kata “Raja” seharusnya tidak kita pahami hanya sebagai ungkapan romantis.
Dalam perspektif budaya Batak, raja bukan sekadar orang yang memiliki kekuasaan.
Raja adalah pemikul tanggung jawab.
Tao Toba disebut Raja ni sude na tao karena danau ini menjadi sumber kehidupan bagi begitu banyak kehidupan di sekelilingnya.
Ia bukan hanya objek untuk dipandang.
Ia adalah sistem kehidupan yang harus dijaga.
Di Sianjur Mula-mula, di kaki Dolok Pusuk Buhit, kita memahami bahwa kehidupan manusia tidak pernah terpisah dari tanah, air, hutan, ternak, pertanian dan komunitas.
Karena itu, ketika kita menyebut diri sebagai keturunan dan ahli waris dari tanah Batak, sesungguhnya kita tidak hanya mewarisi nama, marga dan budaya.
Kita juga mewarisi tanggung jawab ekologis.
Pertanyaannya sederhana:
Sebagai anak-anak dan ahli waris Tao Toba, sudahkah kita menjaga Raja kita?
Atau justru kita sendiri yang perlahan-lahan membuatnya sakit?
Jangan Hanya Menjual Keindahan
Kita membuang sampah ke tapian yang dahulu tio jala uli.
Kita menebang kayu di dolok yang dahulu mangkaliangi.
Kita mempersempit ruang terbuka dan lahan produktif.
Kita mengubah ruang kehidupan menjadi bangunan-bangunan yang belum tentu memberikan manfaat yang sebanding bagi masyarakat lokal.
Kemudian kita berdiri di atas panggung, menyanyikan dengan lantang:
“O Tao Toba na uli…”
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Jangan-jangan kita terlalu sibuk menjual keindahan Tao Toba kepada dunia, tetapi lupa merawat sumber keindahan itu sendiri.
Jangan-jangan kita terlalu sibuk berbicara tentang destinasi wisata, tetapi lupa bahwa sebelum menjadi destinasi, Tao Toba adalah ruang kehidupan.
Pariwisata tentu penting.
Pembangunan tentu diperlukan.
Investasi tentu dibutuhkan.
Tetapi semuanya harus ditempatkan dalam satu prinsip: alam bukan korban pembangunan. Alam adalah fondasi pembangunan itu sendiri.
Kalau fondasinya rusak, cepat atau lambat seluruh bangunan kehidupan akan ikut runtuh.
Seandainya Nahum Pulang Hari Ini
Saya tidak menulis ini untuk menyalahkan siapa pun.
Saya menulis ini juga untuk mengingatkan diri sendiri.
Saya tinggal di kaki Dolok Pusuk Buhit. Setiap hari saya melihat Tao itu.
Karena itu, pertanyaan ini rasanya pantas kita letakkan di hati masing-masing:
Jika hari ini almarhum Nahum Situmorang pulang dan berdiri di tepi Tao Toba, apa yang akan beliau lihat?
Apakah beliau masih menemukan tapian na tio, tempat anak-anak dapat bermain dan mandi?
Apakah masih terlihat hauma na bolak, tempat orang tua menanam dan menghasilkan pangan?
Apakah dolok masih hijau dan mampu menjaga air?
Apakah ternak masih memiliki ruang?
Ataukah yang terlihat adalah air yang semakin keruh, lereng yang kehilangan tutupan, ruang hidup yang semakin sempit dan alam yang semakin terbebani?
Jika yang kedua yang beliau lihat, mungkin kita perlu menahan diri.
Jangan dulu bernyanyi.
Mari kita rawat terlebih dahulu Tao-nya.
Kita pulihkan dolok-nya.
Kita bersihkan tapiannya.
Kita lindungi sumber airnya.
Kita pertahankan ruang hidup masyarakatnya.
Kita pastikan pembangunan tidak menghilangkan masa depan.
Setelah itu, barulah kita bernyanyi kembali dengan kepala tegak.
Sebab menyanyikan “O Tao Toba na Uli” bukan sekadar menyuarakan kebanggaan.
Ia seharusnya menjadi janji.
Janji bahwa kita tidak hanya menikmati keindahan yang diwariskan leluhur, tetapi juga menjaga agar keindahan itu tetap dapat dinikmati anak cucu.
Tao Toba bukan warisan yang boleh kita habiskan.
Tao Toba adalah titipan.
Dan setiap titipan pada akhirnya akan diminta kembali pertanggungjawabannya.
Mungkin itulah makna terdalam lagu Nahum Situmorang.
Bukan sekadar mengajak kita mencintai Tao Toba, tetapi mengingatkan kita bagaimana cara mencintainya.
Karena mencintai Tao Toba bukan hanya dengan menyanyikannya.
Mencintai Tao Toba adalah menjaganya tetap hidup. ***












