BeritaHeadline

Pulimbor Gelar Bimbingan Teknis Calon Parhata Adat Sejabodetabek Banten, Siapkan Regenerasi Pembawa Acara Adat Batak

×

Pulimbor Gelar Bimbingan Teknis Calon Parhata Adat Sejabodetabek Banten, Siapkan Regenerasi Pembawa Acara Adat Batak

Sebarkan artikel ini
Calon parhata mendapat bimbingan tehnis dari Ketua koordinatar bidang adat, Sabtu. 26/9/2026. (Foto/Lim)

TANGERANG SELATAN, JAYA POS – Pengurus Punguan Limbong, Boru & Bere (PULIMBOR) Se-Jabodetabek-Banten terus berupaya melestarikan dan memperkuat tradisi adat Batak melalui pembinaan generasi penerus. Salah satu langkah nyata dilakukan melalui kegiatan bimbingan teknis (bimtek) bagi calon parhata atau pembicara adat Batak yang digelar di Sekretariat I PULIMBOR, Taman Tekno BSD Blok H8 No. 9, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (26/9/2026).

Kegiatan yang diinisiasi Bidang Koordinator Adat dan Kerohanian PULIMBOR tersebut dipimpin langsung Ketua Bidang Koordinator Adat dan Kerohanian, Monang Limbong, dengan melibatkan 10 calon parhata yang dipersiapkan sebagai bagian dari regenerasi pembawa acara adat di lingkungan keluarga besar PULIMBOR se-Jabodetabek-Banten.

Bimtek ini menjadi bagian dari komitmen organisasi untuk memastikan keberlangsungan tradisi dan tata pelaksanaan adat Batak, khususnya dalam berbagai kegiatan kekeluargaan, baik acara sukacita maupun dukacita.

Melalui pembinaan tersebut, para calon parhata diharapkan tidak hanya memahami tata cara berbicara dalam acara adat, tetapi juga memiliki pengetahuan tentang hubungan kekerabatan, silsilah keluarga, etika, serta tanggung jawab moral dalam menjalankan tugas sebagai juru bicara adat.

Dalam arahannya, Monang Limbong terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada seluruh calon parhata untuk menyampaikan kesiapan dan kesungguhan mereka mengikuti pembinaan.

Ia menegaskan bahwa menjadi parhata bukan sekadar kemampuan berbicara di hadapan orang banyak, melainkan sebuah tanggung jawab yang membutuhkan pemahaman adat, keberanian, ketekunan, serta kepedulian terhadap keluarga besar dan marga.

Monang kemudian mengajukan pertanyaan secara langsung kepada para peserta mengenai kesediaan mereka menerima bimbingan teknis dan mempersiapkan diri apabila suatu saat dipercaya atau ditunjuk menjadi parhata dalam kegiatan adat PULIMBOR.

Pertanyaan tersebut disambut serentak oleh seluruh peserta dengan menyatakan kesediaan untuk mengikuti pembinaan dan mempersiapkan diri menjadi parhata.

Calon parhata menyatakan kesiapannya untuk melakukan simulasi. (Foto/Lim)

Kesediaan tersebut menjadi awal yang positif bagi proses regenerasi parhata di lingkungan PULIMBOR. Sebab, keberadaan parhata yang memahami adat dan mampu menjalankan tugas dengan baik merupakan salah satu unsur penting dalam menjaga kelangsungan tradisi Batak di tengah kehidupan masyarakat perkotaan.

Dalam penyampaian materi, Monang Limbong menguraikan 11 syarat dan prinsip dasar yang perlu dimiliki seorang parhata agar mampu menjalankan tugasnya secara baik, benar, dan bertanggung jawab.

Adapun sebelas prinsip tersebut meliputi:

  • Lancar berbahasa Batak, sebagai dasar komunikasi dalam menyampaikan pesan dan menjalankan tata acara adat.
  • Gigih menyimak, yakni memiliki kemampuan mendengarkan dan memahami setiap pembicaraan serta arahan dalam pelaksanaan adat.
  • Tidak malu melakukan kesalahan, melainkan berani belajar, bertanya, menerima koreksi, dan terus memperbaiki kemampuan.
  • Memahami nama dan jenis acara adat yang akan dilaksanakan, sehingga mampu menyesuaikan tata pembicaraan dengan konteks acara.
  • Memahami silsilah atau tarombo, sebagai dasar mengenali hubungan kekerabatan dan kedudukan masing-masing pihak dalam adat.
  • Siap berkorban, baik waktu, tenaga, maupun pikiran demi kelancaran pelaksanaan kegiatan adat.
  • Memiliki kepedulian terhadap sesama, khususnya terhadap keluarga besar, anggota punguan, serta masyarakat yang membutuhkan dukungan.
  • Tidak rakus terhadap jambar, melainkan mengutamakan kepatutan, kebersamaan, dan nilai kekeluargaan.
  • Memiliki rasa tanggung jawab terhadap marga, dengan menjaga nama baik serta kehormatan keluarga besar.
  • Bersedia terus belajar dan mengembangkan kemampuan, agar pengetahuan adat tidak berhenti pada satu generasi.
  • Menjadi figur yang dapat diteladani dalam lingkungan marga, baik melalui sikap, perkataan, maupun tindakan.

Menurut Monang, prinsip-prinsip tersebut harus menjadi pegangan bagi setiap calon parhata. Dengan demikian, mereka tidak hanya mampu berbicara dalam forum adat, tetapi juga memahami makna dan nilai yang terkandung di dalam setiap tahapan pelaksanaan adat Batak.

Parsinabul Berbagi Pengalaman dan Memberikan Motivasi

Selain menerima materi dari Ketua Bidang Koordinator Adat dan Kerohanian, para calon parhata juga mendapatkan dukungan dan motivasi dari para parsinabul yang telah memiliki pengalaman dalam menjalankan tugas sebagai pembicara adat.

Dalam kesempatan tersebut, dua parsinabul B. Limbong (Op. Joselyn) dan H. Limbong (Op. Marpel) berbagi pengalaman mengenai berbagai situasi yang pernah mereka hadapi ketika ditunjuk menjadi parhata, termasuk bagaimana mempersiapkan diri, memahami jalannya acara, menjaga komunikasi antarpihak, serta menghadapi tantangan saat berbicara dalam forum adat.

Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga bagi para peserta, terutama bagi mereka yang baru pertama kali mengikuti pembinaan secara terarah.

Para parsinabul juga memberikan semangat agar para calon parhata tidak merasa rendah diri atau takut melakukan kesalahan selama proses belajar. Sebaliknya, mereka didorong untuk terus berlatih, memperkaya pengetahuan adat, dan membangun keberanian melalui pengalaman langsung.

Pembinaan seperti ini dinilai penting karena kemampuan menjadi parhata tidak cukup diperoleh hanya melalui teori, tetapi juga membutuhkan latihan, pengalaman, dan pendampingan dari mereka yang telah lebih dahulu menjalankan tugas tersebut.

Tiga Jam Pembinaan Berlangsung Penuh Antusias

Kegiatan bimtek dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Materi demi materi disampaikan secara intensif dan diselingi dengan diskusi serta pengalaman langsung dari para parsinabul.

Tanpa terasa, waktu telah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Sekretaris PULIMBOR kemudian menyampaikan agar kegiatan dihentikan sementara untuk beristirahat dan makan siang sebelum dilanjutkan kembali.

Setelah istirahat, kegiatan kembali berlangsung pada pukul 14.00 WIB dengan agenda pembahasan rencana simulasi bagi seluruh calon parhata.

Dalam sesi tersebut, Monang Limbong membagikan bahan pembelajaran yang harus dipelajari peserta sebagai persiapan menghadapi simulasi mendatang.

Simulasi dirancang sebagai tahapan lanjutan untuk mengukur pemahaman peserta terhadap materi yang telah diberikan, sekaligus melatih kemampuan berbicara, menyusun tata pembicaraan, memahami alur acara, serta menerapkan pengetahuan adat dalam situasi praktik.

Berdasarkan pengamatan selama kegiatan berlangsung, seluruh peserta tetap menunjukkan semangat dan kesungguhan mengikuti setiap arahan. Meski telah menjalani pembinaan selama beberapa jam, tidak tampak tanda-tanda berkurangnya antusiasme mereka dalam menyimak materi dan berdiskusi.

Hal tersebut menunjukkan adanya keseriusan para calon parhata untuk mempersiapkan diri menjadi bagian dari regenerasi pembawa acara adat di lingkungan PULIMBOR.

Simulasi Parhata Dijadwalkan 17–18 Oktober 2026

Pada akhir kegiatan, Sekretaris PULIMBOR, Charles Limbong, mencatat sejumlah kesepakatan sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan bimtek.

Salah satu keputusan penting adalah pelaksanaan simulasi parhata yang dijadwalkan pada Sabtu–Minggu, 17–18 Oktober 2026.

Simulasi tersebut direncanakan berlangsung di salah satu dari dua lokasi, yakni Sekretariat I PULIMBOR di Taman Tekno BSD, Tangerang Selatan, atau Sekretariat II PULIMBOR di Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Penentuan lokasi akan disesuaikan dengan kesiapan dan kesepakatan pengurus.

Melalui tahapan simulasi tersebut, para calon parhata diharapkan semakin siap mengaplikasikan materi yang telah diperoleh, baik dalam acara sukacita seperti pesta pernikahan maupun acara dukacita dalam keluarga besar PULIMBOR.

Kegiatan bimtek ini sekaligus menjadi wujud nyata kepedulian PULIMBOR terhadap keberlanjutan adat dan budaya Batak. Regenerasi parhata bukan hanya bertujuan menyiapkan pembicara adat untuk kebutuhan organisasi, tetapi juga menjaga agar pengetahuan, tata krama, nilai kekeluargaan, dan kearifan adat tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan adanya pembinaan yang berkesinambungan, PULIMBOR berharap semakin banyak anggota keluarga besar Limbong, Boru, dan Bere yang memiliki kemampuan serta kesadaran untuk turut mengambil bagian dalam pelestarian adat Batak di wilayah Jabodetabek dan Banten. (Lim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *