BeritaHeadline

JELANG 72 TAHUN MASIH HAUS ILMU: MUPAKAT BULAT ADALAH PEMBULUH DARAH PARSADAAN, BUKAN WIN-LOSS, MELAINKAN WIN-WIN

×

JELANG 72 TAHUN MASIH HAUS ILMU: MUPAKAT BULAT ADALAH PEMBULUH DARAH PARSADAAN, BUKAN WIN-LOSS, MELAINKAN WIN-WIN

Sebarkan artikel ini
Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang. (Foto/Dok Jaya Pos)

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang

Selamat pagi, saudara-saudaraku Pomparan Toga Sinaga.

Pagi ini, dari Villa Trinity, Lembang, Jawa Barat, saya kembali merenungkan perjalanan hidup. Ingatan saya tertuju pada sebuah foto ketika berdiri di antara rak-rak buku di sebuah toko buku. Bukan di ladang, bukan di kantor, bukan pula di atas podium, melainkan di tengah hamparan ilmu pengetahuan yang tersimpan dalam lembaran-lembaran buku.

Di usia yang menjelang 72 tahun, saya masih menikmati kegiatan membaca, membuka buku, mencari referensi, dan mempelajari berbagai hal baru. Rambut memang semakin memutih, kacamata semakin tebal, tetapi rasa haus terhadap ilmu pengetahuan tidak pernah mengenal usia.

Ada yang mungkin bertanya, “Untuk apa lagi belajar pada usia yang sudah mendekati 72 tahun, Amang?”

Jawaban saya sederhana: Karena kehidupan tidak pernah berhenti mengajar, maka manusia tidak boleh berhenti belajar.

Bagi saya, usia boleh bertambah, tenaga boleh berkurang, tetapi semangat untuk memperkaya pengetahuan harus tetap menyala. Sebab, berhenti belajar sama artinya dengan membiarkan diri tertinggal oleh perubahan zaman.

1.ERA DIGITAL DAN POSTMODERN: JANGAN SAMPAI MENJADI PENONTON DI ZAMAN SENDIRI

Kita sedang hidup dalam era digital dan postmodern yang ditandai dengan perubahan begitu cepat. Teknologi informasi, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), internet, dan media sosial telah mengubah cara manusia berpikir, berkomunikasi, bekerja, bahkan membangun peradaban.

Anak-anak dan cucu-cucu kita tumbuh bersama teknologi. Informasi berada dalam genggaman mereka. Sementara itu, sebagian orang tua masih berjuang memahami perubahan yang berlangsung setiap hari.

Jika generasi tua berhenti belajar, kita berisiko menjadi penonton di tengah perkembangan zaman yang justru sedang membentuk masa depan anak dan cucu kita. Kita bisa tertinggal, mudah terpengaruh informasi palsu (hoaks), gampang diadu domba, bahkan kehilangan kemampuan untuk membedakan fakta dan manipulasi.

Orang Batak memiliki kearifan yang mengingatkan kita bahwa ketika seseorang tidak lagi mengikuti perkembangan keadaan, ia akan kehilangan kemampuan memahami apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Dalam konteks sekarang, belajar bukan lagi semata-mata urusan memperoleh ijazah atau gelar akademik. Belajar adalah kebutuhan untuk mempertahankan daya pikir, memperluas wawasan, dan menjaga martabat manusia agar tidak diperdaya oleh perubahan zaman.

Saya mempelajari dunia digital bukan karena ingin menjadi anak muda. Saya belajar karena tidak ingin warisan Batakologi yang selama ini saya tekuni dan perjuangkan terputus hanya karena saya tidak mampu menyampaikannya melalui bahasa dan teknologi yang dipahami generasi digital.

Kita harus menyadari bahwa era postmodern juga menghadirkan tantangan baru. Setiap orang dapat berbicara, menyebarkan informasi, bahkan membangun narasi dan versi sejarahnya sendiri. Tidak semua informasi benar, tidak semua pendapat memiliki dasar, dan tidak semua yang viral layak dipercaya.

Dahulu, buku menjadi salah satu penjaga pengetahuan dan dokumentasi sejarah. Sekarang, ketika informasi begitu mudah diproduksi dan disebarluaskan, kebenaran justru membutuhkan manusia yang mau membaca, meneliti, membandingkan, dan berpikir kritis.

Itulah sebabnya, pada usia menjelang 72 tahun, saya masih senang berada di toko buku. Buku mengajarkan kesabaran, ketelitian, kedalaman berpikir, dan kebijaksanaan untuk tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum tentu benar.

Teknologi boleh semakin canggih, tetapi kemampuan berpikir kritis tidak boleh ditinggalkan.

 

2.HATI TERIRIS MELIHAT PENDIDIKAN SEOLAH-OLAH TIDAK PENTING DALAM KEPEMIMPINAN

Namun, di balik perenungan tentang pentingnya belajar, ada sesuatu yang mengusik hati saya.

Saya mendengar adanya pandangan dalam suatu komunitas bahwa persyaratan pendidikan tidak perlu menjadi pertimbangan dalam kepemimpinan organisasi, baik pada tingkat sektor, cabang, wilayah, maupun kepengurusan pusat.

Saya tidak bermaksud merendahkan siapa pun. Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa orang yang tidak memiliki gelar akademik tidak mampu menjadi pemimpin. Tidak demikian.

Akan tetapi, saya merasa perlu mengajukan pertanyaan mendasar: bagaimana kita dapat mempersiapkan kepemimpinan organisasi yang mampu menjawab tantangan zaman apabila proses belajar dan pengembangan kapasitas justru dianggap tidak penting?

Bagaimana mungkin kita mengelola organisasi besar yang anggotanya terdiri atas berbagai latar belakang pendidikan, mulai dari sarjana, magister, doktor hingga profesor, tanpa memberikan perhatian yang memadai terhadap wawasan, pengetahuan, dan kemampuan manajerial para pemimpinnya?

Memimpin organisasi bukan sekadar berani berbicara, memiliki banyak pendukung, populer, atau pandai memenangkan dukungan dalam forum. Kepemimpinan membutuhkan kemampuan memahami persoalan, membaca perkembangan zaman, menyerap aspirasi, mengelola perbedaan, menyusun kebijakan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Pendidikan formal memang bukan satu-satunya ukuran kebijaksanaan. Gelar akademik juga bukan jaminan seseorang memiliki integritas, karakter, dan kemampuan memimpin.

Namun, pendidikan, pengalaman, kemauan belajar, dan kemampuan berpikir harus ditempatkan sebagai modal penting dalam membangun kepemimpinan.

Yang perlu kita persoalkan bukan semata-mata tinggi atau rendahnya gelar seseorang, melainkan apakah seorang calon pemimpin memiliki kapasitas, integritas, wawasan, dan kemauan untuk terus belajar.

Justru karena itu, saya merasa teriris ketika ada orang yang ingin memimpin, tetapi pada saat bersamaan menganggap pendidikan dan proses peningkatan pengetahuan bukan sesuatu yang penting.

Saya sendiri, menjelang usia 72 tahun, masih merasa perlu membaca dan belajar. Lantas, mengapa mereka yang masih muda, memiliki tenaga, kesempatan, dan waktu yang lebih panjang justru tidak menjadikan belajar sebagai kebutuhan?

Jangan sampai organisasi besar memiliki cita-cita besar, tetapi mengabaikan pentingnya mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.

3.HAKEKAT MUSYAWARAH: BUKAN WIN-LOSS, MELAINKAN WIN-WIN

Dari kegelisahan tersebut, pikiran saya kemudian tertuju pada hakikat musyawarah dan mupakat bulat dalam Mubes Parsadaan Pomparan Toga Sinaga.

Kita harus memahami bahwa musyawarah dalam sebuah organisasi genealogis atau organisasi kekerabatan tidak boleh disamakan begitu saja dengan pertarungan politik untuk memperebutkan kekuasaan.

Mubes bukan arena untuk membuktikan siapa paling kuat, siapa paling banyak pendukung, atau kelompok mana yang berhasil menundukkan kelompok lainnya.

Dalam Parsadaan Pomparan Toga Sinaga, kita memiliki ikatan yang jauh lebih mendasar daripada kepentingan jabatan. Kita terikat oleh darah, sejarah, silsilah, persaudaraan, dan tanggung jawab menjaga warisan leluhur.

Karena itu, hasil musyawarah seharusnya tidak melahirkan pihak yang merasa menang dan pihak lain yang merasa dikalahkan.

Ada empat kemungkinan hasil dalam setiap proses pengambilan keputusan:

Pertama, WIN-LOSS: Saya Menang, Engkau Kalah.

Ini merupakan pola pertarungan yang menempatkan kemenangan satu kelompok di atas kekalahan kelompok lain. Dalam mekanisme pemungutan suara, kelompok mayoritas mungkin berhasil memenangkan keputusan. Namun, apabila kelompok minoritas dipermalukan, diabaikan, atau disingkirkan, kemenangan tersebut menyisakan persoalan persaudaraan.

Secara suara mungkin menang, tetapi secara kekeluargaan belum tentu berhasil.

Kedua, LOSS-WIN: Saya Kalah, Engkau Menang.

Kondisi ini terjadi ketika seseorang atau kelompok terpaksa mengalah bukan karena kesadaran dan keikhlasan, melainkan karena tekanan, intimidasi, atau situasi yang tidak memberikan ruang untuk menyampaikan pendapat.

Mereka mungkin diam di dalam forum, tetapi belum tentu menerima keputusan dengan hati yang lapang. Kekecewaan yang tidak diselesaikan dapat menjadi persoalan laten dan mengganggu hubungan persaudaraan di kemudian hari.

Kita tentu tidak ingin pengalaman konflik dalam sebuah perkumpulan, ketika perbedaan pendapat berujung pada tindakan emosional seperti menendang kursi hingga berserakan, terulang kembali akibat pemaksaan kehendak.

Ketiga, LOSS-LOSS: Sama-Sama Kalah.

Inilah keadaan yang harus dihindari. Ketika masing-masing kelompok mempertahankan ego, tidak mau mendengar, dan tidak bersedia mencari titik temu, Mubes dapat berakhir tanpa keputusan yang diterima bersama.

Organisasi terbelah, hubungan persaudaraan merenggang, aturan organisasi berpotensi dilanggar, bahkan AD dan ART dapat kehilangan kewibawaannya.

Pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar menang. Semua pihak dirugikan dan Parsadaan menjadi korban.

Keempat, WIN-WIN: Kita Sama-Sama Menang.

Inilah tujuan ideal musyawarah dan mupakat bulat.

Win-Win bukan berarti setiap orang harus mendapatkan jabatan atau semua keinginan harus dipenuhi. Win-Win berarti setiap pihak memperoleh ruang untuk didengar, dihargai, dan diperlakukan secara adil.

Keputusan diambil dengan mempertimbangkan kepentingan bersama, bukan kepentingan kelompok atau individu tertentu.

Dalam Win-Win, tidak ada pihak yang dipermalukan, tidak ada saudara yang disingkirkan, dan tidak ada kelompok yang dianggap tidak penting.

Semua tetap menjadi bagian dari keluarga besar Pomparan Toga Sinaga.

Sebab, kemenangan terbesar dalam Mubes bukanlah keberhasilan memenangkan perebutan jabatan, melainkan keberhasilan menjaga keutuhan persaudaraan.

4.MUPAKAT BULAT ADALAH PEMBULUH DARAH PARSADAAN

Saya ingin mengibaratkan Mupakat Bulat sebagai sistem pembuluh darah dalam tubuh manusia.

Mengapa?

Karena sebuah organisasi kekerabatan juga memiliki sistem kehidupan yang harus dijaga agar seluruh bagiannya tetap terhubung dan berfungsi dengan baik.

Dalam analogi ini, Toga Sinaga adalah jantung sebagai sumber ikatan genealogis dan persaudaraan. Jantung memompa darah agar seluruh bagian tubuh memperoleh kehidupan.

Mubes dan Pengurus Pusat dapat diibaratkan sebagai bagian dari sistem arteri yang menyalurkan keputusan, arah kebijakan, dan hasil kesepakatan kepada seluruh bagian organisasi.

Sektor, cabang, dan wilayah merupakan bagian dari sistem vena yang membawa kembali aspirasi, masukan, persoalan, serta kebutuhan anggota dari bawah kepada pusat organisasi.

Sementara itu, keluarga-keluarga dan rumah tangga Pomparan merupakan kapiler. Ukurannya kecil dan sering tidak terlihat dalam struktur organisasi, tetapi justru menjadi tempat kehidupan persaudaraan berlangsung secara nyata.

Dari analogi tersebut, kita dapat memahami bahwa komunikasi dan pengambilan keputusan tidak boleh hanya berjalan satu arah.

Keputusan dari pusat harus sampai kepada seluruh anggota. Sebaliknya, aspirasi dari keluarga, sektor, cabang, dan wilayah harus dapat kembali ke pusat untuk didengar, dipertimbangkan, dan ditindaklanjuti.

Dengan demikian, Mupakat Bulat merupakan sistem sirkulasi kehidupan organisasi.

Aliran aspirasi dan keputusan harus berlangsung secara sehat, terbuka, jernih, dan berkesinambungan. Jangan sampai tersumbat oleh ego, ambisi pribadi, kepentingan kelompok, atau kepentingan politik praktis, seperti Pileg dan Pilkada.

Jika satu bagian organisasi tersumbat oleh kepentingan tertentu, maka bagian lainnya akan ikut merasakan dampaknya.

Dalam tubuh manusia, penyumbatan pembuluh darah dapat menimbulkan penyakit serius, termasuk stroke. Dalam organisasi, pemaksaan kehendak dan tertutupnya saluran aspirasi dapat menimbulkan apa yang saya sebut sebagai stroke organisatoris.

Organisasi masih memiliki nama, struktur, pengurus, dan kegiatan, tetapi komunikasi serta kepercayaan di antara anggotanya mulai terputus.

Inilah yang harus kita cegah.

Saya ingin menegaskan satu prinsip:

Demokrasi liberal sering menggunakan prinsip mayoritas untuk menetapkan keputusan. Dalam mekanisme pemungutan suara, 51 dapat mengalahkan 49.

Namun, dalam demokrasi genealogis Parsadaan Pomparan Toga Sinaga, angka 51 dan 49 tidak boleh dibiarkan menjadi dua kelompok yang saling berhadapan. Keduanya harus kembali menjadi 100 sebagai satu kesatuan persaudaraan.

Bukan berarti setiap keputusan harus selalu bulat tanpa perbedaan pendapat. Perbedaan adalah hal yang wajar. Namun, perbedaan itu harus dikelola melalui dialog, penghormatan terhadap AD dan ART, keterbukaan, dan semangat mencari kesepakatan terbaik.

Mupakat Bulat bukan sekadar kesamaan suara, melainkan kesatuan hati setelah melalui proses mendengar, mempertimbangkan, dan menghargai perbedaan.

5.HAUS ILMU ADALAH BENTUK TANGGUNG JAWAB TERHADAP GENERASI PENERUS

Bagi saya, haus akan ilmu pengetahuan bukan persoalan gengsi, gelar, atau keinginan untuk terlihat pintar.

Ini adalah panggilan hidup dan tanggung jawab moral.

Saya menekuni penulisan dan pengembangan kearifan lokal Batakologi karena ingin meninggalkan warisan pengetahuan bagi generasi mendatang.

Saya ingin nilai-nilai luhur leluhur, sejarah, falsafah hidup, adat istiadat, serta identitas budaya Batak tidak hanya menjadi cerita lisan yang perlahan-lahan hilang, tetapi terdokumentasi, dikaji, dan dapat dipelajari oleh anak-anak serta cucu-cucu kita.

Namun, bagaimana mungkin saya menulis dan mewariskan pengetahuan apabila saya sendiri berhenti belajar?

Bagaimana mungkin kita meminta generasi muda mencintai budaya leluhurnya jika kita tidak memberikan contoh untuk terus membaca, meneliti, dan mengembangkan pengetahuan?

Warisan budaya tidak cukup hanya dibanggakan. Warisan itu harus dipahami, dipelihara, dikembangkan, dan diwariskan dengan cara yang relevan terhadap perkembangan zaman.

Karena itu, selagi mata masih mampu membaca, tangan masih sanggup membuka buku, dan pikiran masih dapat menganalisis, saya akan terus belajar.

Usia boleh mendekati 72 tahun, tetapi semangat belajar harus tetap 17 tahun.

Bukan berarti kita harus kembali muda secara fisik, melainkan menjaga semangat, rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan keterbukaan terhadap pengetahuan baru.

PENUTUP: TUA DALAM USIA, MUDA DALAM PEMIKIRAN

Saudara-saudaraku Pomparan Toga Sinaga,

Jangan pernah takut menjadi tua. Yang lebih menakutkan adalah ketika seseorang masih muda, tetapi sudah berhenti belajar.

Jangan hanya menghitung pertambahan usia, tetapi hitunglah juga pertambahan pengetahuan, pengalaman, kebijaksanaan, dan kontribusi bagi sesama.

Pemimpin sejati bukanlah orang yang membuat dirinya menang dengan mengorbankan saudaranya. Pemimpin sejati adalah orang yang mampu merangkul perbedaan, membangun kepercayaan, dan mengupayakan agar seluruh anggota organisasi merasakan kemenangan bersama.

Dalam semangat itu, kita perlu kembali menghayati falsafah:

Parhatian Sibola Timbang, Parninggala Sibola Tali.

Timbangan harus seimbang, tali harus sama panjang. Keadilan tidak boleh berat sebelah. Tidak boleh ada perlakuan istimewa bagi kelompok tertentu dan pengabaian terhadap kelompok lainnya.

Semua harus memperoleh penghormatan yang sama sebagai bagian dari Pomparan Toga Sinaga.

Dari Villa Trinity, Lembang, Jawa Barat, saya ingin meninggalkan pesan kepada anak-anak, cucu-cucu, dan seluruh saudara saya, Pomparan Toga Sinaga:

“Jangan pernah malu belajar, meskipun rambutmu sudah memutih. Jangan pernah berhenti membaca, meskipun zaman terus berubah. Sebab, orang yang berhenti belajar akan kehilangan kesempatan untuk bertumbuh, memahami kehidupan, dan memberi makna bagi generasi berikutnya.”

Menjelang usia 72 tahun, saya tetap haus akan ilmu pengetahuan. Bukan karena saya merasa belum mengetahui apa-apa, tetapi karena semakin banyak saya belajar, semakin saya menyadari betapa luasnya ilmu pengetahuan dan betapa terbatasnya apa yang saya ketahui.

Di situlah letak keindahan kehidupan: semakin berilmu, seharusnya semakin rendah hati; semakin tinggi kedudukan, seharusnya semakin besar tanggung jawab; dan semakin kuat seseorang, seharusnya semakin luas kemampuannya merangkul sesama.

Mari kita bangun Parsadaan Pomparan Toga Sinaga sebagai organisasi yang berakar kuat pada nilai-nilai leluhur, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan kokoh dalam persaudaraan.

Jangan biarkan ego menyumbat pembuluh darah persaudaraan kita. Jangan biarkan ambisi jabatan mengalahkan kepentingan keturunan dan generasi penerus.

Mupakat Bulat harus menjadi jalan untuk menyatukan, bukan alat untuk menundukkan.

AU DO HO, HO DO AU; HITA TOGA SINAGA.

Villa Trinity, Lembang, Jawa Barat

Jumat, 6 November 2026

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang

Simaga Bermukim di Lereng Dolok Pusuk Buhit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *