SAMOSIR, JAYA POS — Banjir bandang yang meluluhlantakkan wilayah Sumatera dan Tapanuli Raya dalam beberapa hari terakhir meninggalkan luka yang tak mudah sembuh. Rumah hanyut, sawah terkubur lumpur, ternak hilang, dan—yang paling menyayat—nyawa warga melayang dalam hitungan detik.
Di tengah puing dan kesunyian, warga saling berpandangan dengan mata kosong, seakan bertanya apakah bencana ini benar nyata. Namun di balik duka yang menyapu desa-desa tersebut, tersimpan pertanyaan besar bagi bangsa ini: apakah ini sekadar cuaca ekstrem, ataukah alarm keras dari alam bahwa hulu telah rusak dan hilir akhirnya menangis?
Hujan Ekstrem, Tapi Rusaknya Hulu Memperparah Petaka
BMKG melaporkan bahwa curah hujan ekstrem dipicu oleh Siklon Tropis Senyar dan Bibit Siklon 95B di sekitar Selat Malaka. Langit seolah tidak memberi jeda; hujan bertubi-tubi mengguyur Sumatera tanpa henti.
Namun intensitas hujan saja tidak cukup menjelaskan kedahsyatan arus yang meruntuhkan jembatan, menyeret rumah, dan mengangkut batu-batu besar. Bencana kali ini memperlihatkan fakta yang lebih mengkhawatirkan: hilangnya benteng ekologis di kawasan hulu.
Ketika hutan gundul, tanah kehilangan daya serap. Ketika akar tercerabut, bukit kehilangan penyangga. Dan ketika hulu kehilangan penjaga, hilir menjadi sasaran amarah alam.
Gelondongan Kayu: Saksi Bisu Kerusakan yang Dibiarkan
Di sejumlah titik seperti Pakkat, Tapanuli Tengah, dan desa-desa yang tertimbun lumpur, warga menemukan gelondongan kayu yang hanyut bersama arus. Ada yang besar, panjang, dan jelas merupakan bekas tebangan.
Kayu-kayu itu bukan sekadar benda hanyut. Mereka adalah bukti bisu dari hutan yang dipaksa roboh, bukit yang dikerat, dan sungai yang dirampas ruangnya.
“Siapa yang membuka hutan kami? Siapa yang mengambil kayunya, sementara kami kehilangan rumah?”
Pertanyaan itu kini bukan hanya milik warga, tetapi milik kita semua.
Data Global Forest Watch menunjukkan bahwa Sumatera Utara telah kehilangan lebih dari 1,6 juta hektare tutupan hutan sejak 2001. Angka ini bukan sekadar statistik—ini adalah potret hilangnya spons alam yang selama ini menahan air, menyaringnya, dan mengalirkannya secara perlahan.
Ketika hutan hilang, air tak lagi merembes pelan. Ia berlari, menggulung batu, kayu, dan lumpur, menghancurkan kampung-kampung yang selama ini berdiri damai. Dan seperti biasa, yang paling menderita adalah mereka yang tak pernah ikut menebang: petani kecil, nelayan, pedagang, dan anak-anak.
Ditjen Gakkum KLHK kini tengah bergerak. Indikasi pembalakan liar, penyalahgunaan dokumen kayu, serta aktivitas di kawasan hulu yang tidak sesuai aturan sedang diselidiki. Beberapa layanan peredaran kayu bahkan dihentikan sementara untuk mencegah penyalahgunaan lebih lanjut.
Rantai perusakan hutan harus diungkap dari hulu ke hilir: dari pelaku lapangan hingga aktor-aktor besar yang menikmati keuntungan.
Pemerintah pusat dan daerah telah mengirim tim SAR, membuka pos pengungsian, menyalurkan logistik, hingga mengoperasikan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Langkah-langkah itu patut diapresiasi.
Namun kita harus jujur: semua itu hanya mengobati luka sesaat. Tanpa memperbaiki hulu, bencana berikutnya hanya menunggu giliran.
Saatnya Menata Hulu, Menyusun Ulang Kebijakan, dan Mendengar Suara Warga
Tragedi ini memberi empat pelajaran penting bagi bangsa ini:
Pemulihan kawasan hulu harus menjadi prioritas nyata, bukan slogan musiman.
Seluruh aktivitas perusakan hutan—legal maupun ilegal—harus diaudit menyeluruh.
Masyarakat adat dan warga lokal harus diberi ruang dalam pengambilan keputusan, karena mereka adalah penjaga hutan yang sesungguhnya.
Sistem peringatan dini banjir bandang harus diperkuat hingga tingkat desa.
Kita tidak bisa terus membangun hilir tanpa menjaga hulunya.
Alam selalu memberi peringatan sebelum memberi hukuman. Kita sering menutup mata, hingga suatu hari sungai datang sebagai amukan.
Kepada masyarakat di Tapanuli Raya, Sibolga, dan seluruh daerah yang terdampak: kami tahu kalian lelah, marah, dan kecewa. Tapi kalian tidak sendiri.
Negeri ini berdiri bersama kalian. Dan kita punya tugas yang sama: memastikan luka hari ini tidak terulang lagi.
Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec., M.Si
(Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI) / Penggiat Lingkungan)












