SAMOSIR, JAYA POS – Pedoman UNESCO melalui skema UNESCO Global Geoparks menegaskan bahwa pengelolaan geopark harus berlandaskan integrasi geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity dengan prinsip konservasi, edukasi, serta pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, kawasan Bonandolok–Hasinggaan di Kabupaten Samosir memiliki urgensi kuat untuk ditetapkan sebagai geosite baru dalam jejaring Toba Caldera UNESCO Global Geopark.
Penambahan Geosite Bonandolok–Hasinggaan bukan sekadar perluasan administratif, melainkan langkah strategis untuk memperkuat kualitas ilmiah, integritas kawasan, dan keberlanjutan tata kelola geopark Kaldera Toba secara menyeluruh.
Penguatan Nilai Geodiversity Kaldera Toba
Sebagai bagian dari sistem supervulkan purba Kaldera Toba, kawasan Bonandolok–Hasinggaan merepresentasikan dinamika geomorfologi pasca-erupsi besar yang membentuk lanskap Danau Toba saat ini. Keberadaan:
- Air Terjun Sitapigagan
- Air Terjun Harangan Bulu Sitiris-tiris
- Formasi batuan vulkanik alami
- Sistem hidrologi embung alami
menjadi elemen penting dalam memperkaya narasi ilmiah mengenai evolusi lanskap vulkanik.
Dalam perspektif UNESCO, sebuah geopark dituntut untuk terus memperbarui dan mengembangkan inventaris geosite yang memiliki nilai ilmiah, edukatif, dan estetika yang terukur. Tanpa penambahan geosite yang representatif, kualitas interpretasi geologi kawasan berpotensi stagnan.
Bonandolok–Hasinggaan menghadirkan kombinasi unik antara air terjun bertingkat, lembah hijau, serta struktur batuan alami yang relatif minim intervensi betonisasi. Kondisi ini sejalan dengan prinsip konservasi lanskap alami sebagaimana ditegaskan dalam Operational Guidelines UNESCO Global Geoparks.
Integrasi Biodiversity sebagai Pilar Konservasi Terpadu
UNESCO menekankan bahwa geopark bukan sekadar ruang geologi, melainkan ruang kehidupan yang terhubung dalam sistem bumi yang utuh. Kawasan Harangan Bambu Hasinggaan memiliki fungsi ekologis strategis sebagai:
- Kawasan resapan air
- Habitat fauna kecil dan mikroorganisme hutan
- Penyerap karbon alami
- Pengendali erosi lereng
Embung Sitapigagan bahkan berpotensi ditetapkan sebagai waduk larangan untuk konservasi ikan lokal khas Batak (ihan). Pendekatan ini mencerminkan model konservasi berbasis masyarakat (community-based conservation) yang relevan dengan prinsip pengelolaan ekosistem perairan berkelanjutan.
Penambahan geosite ini akan memperkuat dimensi biodiversitas dalam jejaring geopark, yang selama ini cenderung lebih menonjolkan aspek geologi dibandingkan ekologi.
Penguatan Cultural Diversity: Sarkofagus sebagai Lanskap Budaya
- Sarkofagus Hasinggaan Dolok merupakan warisan megalitik yang merepresentasikan:
- Sistem kepercayaan tradisional Batak
- Struktur genealogis masyarakat
- Identitas dan kosmologi lokal
Dalam paradigma geopark modern, lanskap budaya tidak dapat dipisahkan dari lanskap geologi. UNESCO secara eksplisit mendorong integrasi warisan budaya dalam narasi interpretatif geopark sebagai bagian dari identitas kawasan.
Tanpa integrasi resmi dalam sistem geosite, warisan budaya tersebut berisiko mengalami degradasi fisik maupun kehilangan makna historisnya. Pengakuan sebagai bagian dari geosite akan memberikan kerangka perlindungan, edukasi, dan dokumentasi yang lebih sistematisModel Konservasi Terpadu sebagai Keunggulan Strategis
Penambahan Geosite Bonandolok–Hasinggaan memungkinkan penerapan model konservasi terpadu berbasis empat pilar utama:
Pilar Fungsi Strategis
Geodiversity Perlindungan lanskap vulkanik dan air terjun
Biodiversity Konservasi hutan bambu dan habitat alami
Aquatic Conservation Waduk larangan untuk konservasi ikan ihan
Cultural Diversity Pelestarian sarkofagus dan edukasi sejarah
Model ini berpotensi menjadi prototipe desa konservasi terpadu di kawasan Danau Toba.
Dampak Strategis Penambahan Geosite
1.Dampak Ekologis
- Pemulihan populasi ikan lokal
- Stabilitas hidrologi kawasan
- Pengurangan erosi dan degradasi lahan
2.Dampak Sosial
- Penguatan identitas budaya Batak
- Peningkatan partisipasi masyarakat desa
- Transfer pengetahuan lintas generasi
3.Dampak Ekonomi
- Pengembangan ekowisata berbasis alam
- UMKM berbasis bambu
- Jasa pemandu wisata edukatif
Dengan demikian, penambahan geosite ini bukan hanya memenuhi rekomendasi UNESCO, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi hijau berbasis masyarakat.
Rekomendasi Kebijakan Strategis
1.Penyusunan Peraturan Desa tentang Konservasi Terpadu
2.Penetapan Embung Sitapigagan sebagai Waduk Larangan
3.Perlindungan Sarkofagus sebagai Cagar Budaya Desa
4.Pengusulan resmi penambahan Geosite Bonandolok–Hasinggaan dalam struktur pengelolaan Toba Caldera UNESCO Global Geopark
5.Integrasi sistem monitoring partisipatif berbasis masyarakat
Momentum Penguatan Kualitas Geopark
Geopark yang sehat adalah geopark yang terus berkembang secara ilmiah dan kelembagaan. Penambahan Geosite Bonandolok–Hasinggaan bukan sekadar perluasan wilayah, melainkan penguatan kualitas tata kelola berbasis konservasi terpadu.
Jika rekomendasi UNESCO mengenai integrasi geodiversity, biodiversity, dan cultural diversity ingin diwujudkan secara konkret, maka kawasan ini layak menjadi bagian resmi dalam jejaring geopark Kaldera Toba.
Langkah ini akan menegaskan bahwa pembangunan pariwisata di Kabupaten Samosir bukanlah eksploitasi lanskap, melainkan strategi pelestarian jangka panjang yang memadukan alam, budaya, dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.***
Oleh: Dr.Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec.,Dipl_Plan.,Dipl_Lingg.,M.Si
(Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI) )












