JAKARTA, JAYA POS – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi momentum bagi praktisi media sekaligus pemerhati program anak, Maria Elizabeth atau yang akrab disapa Liza Maria, untuk mengajak seluruh pemangku kepentingan membangun ekosistem yang mampu melahirkan generasi kreatif Indonesia. Berbekal pengalaman lebih dari 30 tahun di industri penyiaran televisi nasional, Liza kini mendedikasikan pengetahuan dan kompetensinya guna membina anak-anak Indonesia agar mampu menjadi kreator konten, sutradara, produser, animator, hingga inovator yang mampu bersaing di tingkat ASEAN bahkan dunia.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Liza meyakini anak-anak Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pelaku industri kreatif masa depan. Namun, menurutnya, potensi tersebut hanya dapat berkembang apabila didukung ruang berekspresi, pendampingan yang tepat, pendidikan karakter, serta akses terhadap pembelajaran kreatif yang merata.
Komitmen itulah yang kembali mengantarkan Liza dipercaya menjadi bagian penting dalam Southeast Asia Video Festival for Children (SEAVFC) atau Festival Video Anak ASEAN. Pada penyelenggaraan tahun ini, ia dipercaya sebagai Assistant Board of Indonesia pada Panitia SEAVFC Indonesia. Sebelumnya, Liza juga telah tiga kali dipercaya menjadi Dewan Juri Internasional SEAVFC, yakni pada penyelenggaraan di Filipina (2018), Malaysia (2024), dan Thailand (2025).
Kepercayaan tersebut menjadi pengakuan atas rekam jejak panjangnya di dunia penyiaran nasional sekaligus konsistensinya menghadirkan tayangan-tayangan berkualitas yang berorientasi pada tumbuh kembang dan kreativitas anak.
“Latar belakang saya memang dunia media televisi. Saya bekerja di SCTV, TV7, Trans7 hingga Rajawali Televisi selama lebih dari 30 tahun. Selama itu pula saya banyak memproduksi program-program berbasis video. Mungkin pengalaman itulah yang menjadi salah satu alasan saya dipercaya menjadi juri dan memiliki kepedulian terhadap perkembangan kreativitas anak-anak,” ujar Liza.
Menurutnya, proses pemilihan dewan juri SEAVFC dilakukan secara ketat dan profesional. Selain memiliki pengalaman panjang di industri media, para juri dipilih berdasarkan integritas, kompetensi profesional, rekam jejak, serta kontribusinya dalam menghasilkan konten yang ramah anak dan edukatif bagi masyarakat ASEAN.
Jejak Panjang Mengembangkan Program Anak
Perjalanan Liza dalam mengembangkan dunia anak telah dimulai sejak awal tahun 2000-an. Salah satu karya terbaiknya adalah sinetron drama musikal “Amelia” yang diproduksi pada 2003 dan ditayangkan di RCTI. Sinetron tersebut mengangkat lagu-lagu karya maestro musik anak Indonesia, A.T. Mahmud, dan berhasil meraih penghargaan Sinetron Anak Terpuji pada ajang Festival Film Bandung.
Prestasi tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan kariernya sebagai produser yang konsisten menghadirkan tayangan berkualitas bagi anak-anak Indonesia.
Saat bergabung di Rajawali Televisi, Liza kembali melahirkan sejumlah program anak yang mendapat apresiasi luas, di antaranya Pesta Sahabat dan Dubidubidam. Kedua program tersebut turut mengantarkan Rajawali Televisi meraih tiga penghargaan Anugerah Anak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk kategori Program Anak Terbaik.
“Konten saya memang sejak lama dekat dengan dunia anak. Dari sinetron musikal sampai program-program televisi yang memberikan ruang bagi kreativitas anak. Itu yang membuat saya semakin yakin untuk fokus mengembangkan potensi kreatif anak Indonesia,” katanya.
Jangan Sekadar Viral, Tapi Berkarya yang Bermakna
Liza menilai revolusi digital telah membuka peluang yang jauh lebih besar dibandingkan era sebelumnya. Kini, anak-anak dapat belajar membuat film pendek, fotografi, animasi, menulis naskah, mengedit video hingga memproduksi konten secara mandiri hanya dengan memanfaatkan perangkat digital yang tersedia.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan pendidikan karakter agar anak-anak tidak hanya mengejar popularitas di media sosial.
“Anak-anak sekarang luar biasa karena didukung teknologi dan digitalisasi. Yang harus kita lakukan adalah mengarahkan mereka agar menghasilkan karya yang punya nilai positif. Jangan sekadar membuat konten untuk viral, tetapi membuat karya yang memiliki pesan, manfaat, dan bisa menjadi kebanggaan,” tuturnya.
Menurut Liza, sebuah karya sederhana berdurasi lima hingga sepuluh menit pun dapat memberikan dampak besar apabila dibangun dengan cerita yang kuat, kreativitas tinggi, serta mengandung pesan moral yang positif.
Melalui ajang Festival Video Anak ASEAN (SEAVFC), karya-karya tersebut bahkan memiliki peluang untuk mewakili Indonesia dan bersaing di tingkat regional.
“Kalau cerita mereka bagus, penyajiannya kreatif, dan memiliki nilai, itu bisa menjadi prestasi besar. Anak-anak tidak hanya menjadi pembuat konten, tetapi juga belajar menjadi storyteller yang mampu membawa nama Indonesia di forum internasional,” ujarnya.
Kreativitas Harus Menjadi Bekal Masa Depan
Dalam momentum Hari Anak Nasional 2026, Liza juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut mengeksplorasi kemampuan diri.
Menurutnya, pendidikan formal perlu diperkaya dengan berbagai keterampilan kreatif seperti menulis, fotografi, videografi, penyuntingan (editing), animasi, hingga kemampuan bercerita (storytelling), karena seluruh kompetensi tersebut akan menjadi modal penting menghadapi persaingan global di era ekonomi kreatif.
“Jangan takut untuk berkreasi. Berani berkembang, berani menyampaikan ide, dan terus mengasah kemampuan. Anak-anak perlu belajar menulis, membuat video, fotografi, editing hingga bercerita. Semua keterampilan itu akan menjadi modal penting di masa depan,” katanya.
Talenta Daerah Harus Mendapat Kesempatan yang Sama
Liza menegaskan, keberhasilan membangun generasi kreatif tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Orang tua, pemerintah, media, komunitas, pelaku industri kreatif, hingga seluruh pemangku kepentingan harus bersinergi menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya kreativitas anak.
Ia juga mengingatkan agar perhatian terhadap pengembangan talenta tidak hanya terpusat di kota-kota besar.
Menurutnya, jutaan anak berbakat tersebar di berbagai pelosok Indonesia, mulai dari daerah pedesaan, wilayah perbatasan, hingga Indonesia Timur, yang memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk berkembang.
“Indonesia bukan hanya Jakarta atau kota-kota besar. Kita harus melihat anak-anak di kota kecil, daerah pinggiran hingga Indonesia Timur. Mereka juga memiliki mimpi dan potensi yang luar biasa. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka,” tegasnya.
Liza mengibaratkan pembinaan talenta kreatif seperti proses mencetak atlet berprestasi. Diperlukan pembinaan yang berkelanjutan, sistematis, dan konsisten agar lahir generasi baru yang mampu menjadi sutradara, produser, animator, kreator digital, penulis skenario, hingga inovator di berbagai sektor industri kreatif.
Menurutnya, keberadaan Southeast Asia Video Festival for Children (SEAVFC) merupakan salah satu wadah strategis untuk mengasah kemampuan tersebut sekaligus membuka jalan bagi anak-anak Indonesia memperkenalkan karya terbaik mereka di tingkat ASEAN.
Dengan pengalaman sebagai Assistant Board of Indonesia dan tiga kali dipercaya menjadi dewan juri internasional SEAVFC, Liza berharap semakin banyak anak Indonesia yang berani berkarya dan mengharumkan nama bangsa melalui kreativitas.
“Kalau kita serius membina mereka sejak sekarang, saya yakin akan lahir lebih banyak anak Indonesia yang bukan hanya berprestasi di tingkat nasional, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional. Mereka nantinya bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan melalui kreativitas yang mereka miliki,” pungkasnya. (A1)












