BeritaHeadline

Marsahala Raja: Ketika Kewibawaan Semakin Langka

×

Marsahala Raja: Ketika Kewibawaan Semakin Langka

Sebarkan artikel ini
Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang.

SAMOSIR, JAYA POS – Ada satu gejala yang patut direnungkan dalam kehidupan perkumpulan marga Batak dewasa ini: semakin sulit menemukan sosok yang benar-benar layak disebut marsahala raja.

Istilah tersebut tidak semata-mata menunjuk kepada orang yang dituakan, senior, kaya, terkenal, bergelar, atau pernah menduduki jabatan tertentu. Marsahala raja lebih dalam daripada itu. Ia menunjuk pada pribadi yang memiliki kebesaran jiwa, kemuliaan, kebijaksanaan, kewibawaan, serta otoritas moral, sehingga perkataannya didengar bukan karena jabatan, melainkan karena kualitas dirinya.

Dalam konteks inilah Batakologi perlu bekerja lebih jauh. Batakologi tidak cukup berhenti pada istilah dan simbol budaya, tetapi perlu menelusuri bahasa, teks, konsep, sejarah, struktur sosial, praktik adat, kritik, hingga transformasinya dalam kehidupan modern.

Dalam Tobabataksch-Deutsches Wörterbuch (1906), Joh. Warneck merekam kekayaan konsep sahala dalam bahasa dan kebudayaan Toba Batak. Dalam pemahaman kebudayaan Batak, sahala berkaitan dengan daya pengaruh, kebesaran, wibawa, dan kualitas yang membuat seseorang dihormati.

Karena itu, marsahala raja tidak tepat jika disamakan begitu saja dengan jabatan formal.

Jabatan dapat diberikan, tetapi kewibawaan harus diperoleh.

Bukan Penguasa, Melainkan Penjernih Persoalan

Dalam kehidupan sosial Batak, raja na marsahala dapat dipahami sebagai figur yang menjadi rujukan ketika masyarakat menghadapi persoalan.

Ia bukan hanya didatangi ketika sebuah perkumpulan membutuhkan keputusan. Ia juga dicari ketika seseorang membutuhkan poda atau petuah dalam menjalani kehidupan.

Ketika keluarga menghadapi persoalan, pendapatnya dimintai. Ketika terjadi perbedaan di dalam perkumpulan, pandangannya didengar. Ketika konflik berkembang dan musyawarah menemui jalan buntu, ia diharapkan mampu membantu menemukan jalan keluar yang adil dan bijaksana.

Inilah bentuk otoritas kultural yang tidak selalu tertulis dalam AD/ART, tetapi hidup dalam kepercayaan masyarakat.

Organisasi modern memang membutuhkan ketua, sekretaris, bendahara, penasehat, pembina dan tenaga ahli. Struktur organisasi memberikan kepastian mengenai kewenangan dan mekanisme kerja.

Namun, struktur tidak otomatis melahirkan kewibawaan.

Penasehat memberikan pertimbangan dan menjaga arah kebijaksanaan.

Pembina menjaga kesinambungan nilai, tradisi dan kaderisasi.

Pakar memperkuat keputusan melalui ilmu, kompetensi dan pengalaman.

Sementara marsahala raja merupakan kualitas kewibawaan yang dapat melekat pada siapa saja, sepanjang orang tersebut memiliki kebijaksanaan, integritas dan kepercayaan sosial.

Karena itu, marsahala raja bukanlah “penguasa bayangan”. Ia tidak mengambil alih kewenangan pengurus dan tidak menempatkan dirinya di atas organisasi.

Perannya justru menjadi penjernih persoalan, penjaga nilai, penyeimbang kekuasaan dan pemberi pertimbangan yang arif.

Dalihan Natolu dan Etika Kewibawaan

Konsep tersebut menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan Dalihan Natolu.

Manat mardongan tubu mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan sesama, menghindari sikap saling menjatuhkan, serta mengelola perbedaan secara dewasa.

Elek marboru mengajarkan kasih sayang, penghormatan dan kepedulian.

Somba marhula-hula mengajarkan penghormatan kepada pihak yang dituakan dalam tatanan kehidupan bersama.

Ketiganya memperlihatkan bahwa kepemimpinan dalam kebudayaan Batak pada dasarnya bersifat relasional.

Kewibawaan bukan alat untuk menguasai, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan hubungan.

Karena itu, adat perlu terus dibaca secara kritis. Kita tidak harus mempertahankan seluruh bentuk masa lalu secara apa adanya. Yang perlu dilakukan adalah menemukan substansi dan nilai yang membuatnya tetap relevan.

Patik, Uhum, Ugari dan Holong harus hadir dalam cara kita berbeda pendapat, menyelesaikan konflik, menjalankan amanah dan memperlakukan sesama.

Kritik tidak harus berubah menjadi permusuhan.

Perbedaan pilihan tidak harus berujung pada perpecahan.

Kemenangan dalam sebuah pemilihan tidak boleh berubah menjadi legitimasi untuk menguasai seluruh perkumpulan.

Sebab jabatan adalah mandat, bukan hak untuk berkuasa.

Batakologi Reform

Dari sinilah gagasan Batakologi Reform memperoleh tempat.

Kerangka berpikirnya dapat dirumuskan:

Bahasa → Teks → Konsep → Adat → Struktur Sosial → Sejarah → Praktik → Kritik → Transformasi → Peradaban.

Kita membaca sahala melalui bahasa dan teks. Memahami marsahala raja melalui konsep. Melihat keberadaannya dalam sejarah dan struktur sosial. Menguji relevansinya dalam praktik organisasi masa kini. Mengkritisi bentuk-bentuk yang tidak lagi sesuai, kemudian mentransformasikan substansinya agar tetap hidup dalam masyarakat modern.

Dengan demikian, budaya tidak menjadi benda museum.

Tradisi tidak berhenti sebagai simbol.

Adat tidak sekadar menjadi seremonial.

Sebaliknya, nilai-nilai luhur tersebut terus berdialog dengan perubahan zaman.

Maka pertanyaannya bukan sekadar:

“Siapa yang dapat kita jadikan penasehat?”

Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah:

“Siapa yang ketika kita bingung, kita datangi untuk meminta petuah? Ketika kita berbeda pendapat, kita harapkan mampu menjernihkan persoalan? Dan ketika perkumpulan menghadapi masalah, kita percaya mampu membantu menemukan jalan terbaik?”

Itulah marsahala raja.

Kita mungkin tidak kekurangan orang pintar, bergelar, kaya, terkenal ataupun berjabatan.

Yang semakin langka adalah kewibawaan yang lahir dari kualitas kehidupan.

Sebab jabatan dapat diberikan melalui musyawarah, tetapi sahala, kebijaksanaan dan kewibawaan hanya dapat diperoleh melalui proses panjang dalam kehidupan.

Karena itu, warisan harus dihormati.

Maknanya harus dipahami.

Relevansinya harus diuji.

Yang baik dipertahankan.

Yang perlu diperbarui harus ditransformasikan.

Dengan cara demikian, marsahala raja tidak sekadar menjadi istilah yang dikenang dari masa lalu, tetapi menjadi kearifan yang menemukan bentuk baru dalam organisasi marga, masyarakat Batak dan kehidupan bersama di zaman modern.

Pada akhirnya, ukuran seorang marsahala raja bukanlah seberapa tinggi kursinya, berapa banyak gelarnya, atau seberapa besar kekuasaannya.

Ukuran yang sesungguhnya adalah seberapa besar keteladanan hidupnya mampu membuat orang lain percaya, menghormati, dan menemukan jalan ketika menghadapi persoalan.

Di tengah zaman ketika jabatan mudah diperebutkan dan kewibawaan semakin mahal, mungkin inilah saatnya kita kembali bertanya:

Apakah kita sedang mencari orang yang memiliki jabatan, atau sedang mencari orang yang memiliki sahala?

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *