Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang
SAMOSIR, JAYA POS — Menulis opini bukan sekadar memindahkan isi pikiran ke ruang publik. Ketika sebuah tulisan diterbitkan, gagasan di dalamnya tidak lagi sepenuhnya menjadi milik penulis. Ia menjadi bahan bacaan, bahan renungan, bahkan dapat menjadi bahan perdebatan.
Karena itu, menulis opini menuntut lebih dari sekadar kemampuan merangkai kata. Di dalamnya dibutuhkan kejujuran, logika, pengetahuan, keberanian, dan tanggung jawab.
Seorang wartawan senior, Bactiar Sitanggang, pernah mengingatkan bahwa penulis adalah pencatat peristiwa. Seorang pencatat harus jujur dan menyampaikan sesuatu sebagaimana adanya, bukan “ada apanya”. Dengan kata lain, pena harus mengikuti fakta dan nurani penulisnya.
Nasihat sederhana tersebut sesungguhnya menyentuh persoalan paling mendasar dalam dunia kepenulisan:
Untuk apa kita menulis?
Apakah sekadar ingin menunjukkan bahwa kita tahu? Untuk memenangkan perdebatan? Membela seseorang atau kelompok tertentu? Ataukah untuk membantu pembaca memahami sebuah persoalan secara lebih jernih?
Pertanyaan itu penting karena opini pada dasarnya adalah gagasan yang dilemparkan ke ruang publik. Karena itu, sebuah pendapat tidak cukup hanya terdengar meyakinkan. Ia harus memiliki alasan yang dapat diuji, ditelusuri, dan dipertanggungjawabkan.
LOGIKA DAN FAKTA
Di sinilah logika menjadi penting.
Jalan pikiran seorang penulis harus dapat diikuti pembaca. Apa persoalannya? Apa faktanya? Dari mana fakta itu diperoleh? Bagaimana fakta tersebut dibaca? Lalu, alasan apa yang membawa penulis sampai pada kesimpulan tertentu?
Semakin besar sebuah pernyataan, semakin kuat pula dasar yang harus menopangnya.
Karena itu, data dan hasil penelitian menjadi penting ketika opini menyentuh kepentingan masyarakat luas, komunitas semarga, organisasi, kebijakan, lingkungan, ekonomi, kebudayaan, maupun berbagai persoalan publik lainnya.
Penelitian bukan sekadar untuk membuat tulisan terlihat ilmiah. Penelitian diperlukan agar pendapat tidak dibangun di atas dugaan, asumsi, atau informasi yang belum teruji.
Namun, opini tentu tidak identik dengan laporan penelitian.
Penulis opini tetap memiliki ruang untuk menafsirkan, menghubungkan berbagai fakta, mengajukan pertanyaan, mengkritisi keadaan, dan menawarkan gagasan. Yang penting, pembaca harus dapat membedakan dengan jelas: mana fakta, mana tafsir, dan mana pendapat penulis.
Di sinilah integritas seorang penulis diuji.
TIGA KEJUJURAN PENULIS
Menurut saya, setidaknya ada tiga bentuk kejujuran yang perlu dimiliki seorang penulis.
Pertama, jujur terhadap fakta.
Jangan mengubah fakta agar sesuai dengan kesimpulan yang sejak awal sudah kita inginkan. Fakta tidak boleh dipaksa mengikuti kepentingan penulis.
Kedua, jujur terhadap pikiran sendiri.
Jangan menggunakan istilah yang sebenarnya tidak kita pahami hanya agar tulisan tampak hebat. Jangan pula membuat kesimpulan yang melampaui pengetahuan dan data yang kita miliki.
Ketiga, jujur terhadap batas kemampuan sendiri.
Tidak semua persoalan harus kita tulis. Ada masalah yang memang berada dalam pengalaman dan pengetahuan kita. Tetapi ada pula persoalan yang lebih tepat dibahas oleh orang yang memiliki kompetensi, pengalaman, atau bidang keahlian yang memadai.
Dalam konteks ini, satu kalimat sederhana tetapi penting patut kita pegang:
Jangan memaksakan diri jika memang bukan bidang atau talenta kita.
Menjadi penulis bukan berarti harus memiliki pendapat tentang segala sesuatu. Justru keberanian mengatakan “saya belum tahu” merupakan bagian dari kejujuran intelektual.
“YA KALAU YA, TIDAK KALAU TIDAK”
Matius 5:37 mengingatkan dengan bahasa yang sederhana: “Olo, anggo olo; ndang, ia ndang.” Ya kalau ya, tidak kalau tidak. Selebihnya perlu kita waspadai.
Bagi seorang penulis, pesan tersebut dapat dimaknai sebagai etika dasar dalam menyampaikan gagasan.
Jangan membuat sesuatu yang samar seolah-olah pasti.
Jangan mengubah pendapat menjadi fakta.
Jangan mengangkat dugaan menjadi kesimpulan.
Dan jangan menyembunyikan kepentingan di balik kata-kata yang seolah-olah objektif.
Ruang publik membutuhkan tulisan yang jernih. Pembaca berhak mengetahui mana informasi yang benar-benar berdasarkan fakta dan mana yang merupakan interpretasi atau sikap penulis.
Sebab kata-kata memiliki konsekuensi.
Satu kalimat yang ditulis tanpa kehati-hatian dapat menimbulkan kesalahpahaman. Sebaliknya, satu tulisan yang disusun dengan jujur dan bertanggung jawab dapat membantu masyarakat melihat sebuah persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.
TULISAN BERNAS TIDAK HARUS PANJANG
Lalu, apakah opini yang baik harus selalu panjang?
Tidak.
Panjang atau pendek merupakan persoalan format dan kebijakan media. Yang jauh lebih penting adalah apakah tulisan tersebut memiliki gagasan yang jelas, argumentasi yang masuk akal, fakta yang memadai, bahasa yang tertib, serta sesuatu yang bermakna bagi pembaca.
Tulisan yang bernas bukan tulisan yang paling banyak istilahnya.
Bukan pula tulisan yang paling panjang.
Tulisan yang bernas adalah tulisan yang membuat pembaca memahami sesuatu yang sebelumnya belum dipahaminya, atau melihat sesuatu yang selama ini dilihatnya tetapi belum pernah direnungkannya secara mendalam.
Karena itu, seorang penulis harus bersedia belajar sepanjang hayat.
Membaca. Mengamati. Mendengar. Berdialog. Memeriksa data. Menguji informasi. Dan yang tidak kalah penting, bersedia menerima koreksi.
Menulis bukan proses sekali jadi. Pikiran seorang penulis pun tidak boleh berhenti berkembang.
PENA DAN INTEGRITAS
Pada akhirnya, kualitas sebuah tulisan tidak hanya ditentukan oleh kepiawaian menggunakan bahasa.
Kualitas tulisan juga ditentukan oleh kualitas tanggung jawab orang yang menulisnya.
Pena dapat menjadi alat untuk membela kepentingan.
Tetapi pena juga dapat menjadi alat untuk menerangi persoalan.
Pena dapat memperkeruh keadaan.
Tetapi pena yang digunakan dengan hati-hati dapat membantu menjernihkannya.
Pena dapat digunakan untuk mencari pembenaran.
Tetapi pena yang berpijak pada fakta dan nurani dapat digunakan untuk mencari kebenaran.
Pilihan itu kembali kepada penulis.
Bagi saya, seorang penulis yang baik tidak harus selalu tampil sebagai orang yang paling tahu. Ia cukup berusaha jujur terhadap fakta, tertib dalam berpikir, rendah hati terhadap pengetahuan, terbuka terhadap koreksi, dan berani mempertanggungjawabkan apa yang ditulisnya.
Sebab ketika sebuah tulisan telah masuk ke ruang publik, yang diuji bukan hanya kepandaian menyusun kata.
Bukan pula sekadar keluasan pengetahuan.
Yang sesungguhnya diuji adalah integritas orang di balik pena.
Karena itu, sebelum tinta mengering dan tulisan dibaca banyak orang, seorang penulis sepatutnya bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah yang saya tulis benar?
Apakah yang saya tulis perlu?
Apakah yang saya tulis dapat dipertanggungjawabkan?
Jika tiga pertanyaan itu dapat dijawab dengan jujur, barangkali di situlah pena menemukan maknanya.
Pena yang berpihak pada fakta akan menjaga kebenaran.
Pena yang berpihak pada nurani akan menjaga kemanusiaan.
Dan pena yang menjaga keduanya akan tetap memiliki martabat di tengah derasnya arus informasi.***












