BeritaHeadline

DALIHAN NA TOLU DAN SUHI NI AMPANG NA OPAT

×

DALIHAN NA TOLU DAN SUHI NI AMPANG NA OPAT

Sebarkan artikel ini
Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga

Dua Sayap Konstitusi Budaya dari Ruma Parsaktian

Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga
Pegiat Lingkungan dan Budaya
Dolok Pusuk Buhit — Bekasi, 2 Oktober 2026

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang sesungguhnya menyimpan kedalaman pemikiran filosofis tentang kebudayaan Batak Toba: Manakah yang lebih dahulu, Dalihan Na Tolu atau Suhi Ni Ampang Na Opat?

Pertanyaan ini tidak semata-mata bertujuan mencari siapa yang lebih tua atau lebih dahulu hadir dalam sejarah. Lebih dari itu, pertanyaan tersebut mengajak kita menelusuri logika hubungan, tatanan sosial, serta prinsip keseimbangan dan keadilan yang tersimpan dalam simbol-simbol Ruma Parsaktian.

Dalam kajian kosmologi Batak Toba, pemikiran A.B. Sinaga menjadi salah satu pijakan penting untuk memahami hubungan manusia dengan alam semesta dan yang ilahi. Berangkat dari pemikiran tersebut, saya mencoba membaca kembali warisan simbolik leluhur Batak bukan sekadar sebagai peninggalan masa lampau, melainkan sebagai sistem nilai yang tetap relevan untuk direnungkan, diuji, dan dikembangkan dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Di dalam Ruma Parsaktian, terdapat dua perangkat simbolik yang menarik untuk dikaji secara mendalam.

Pertama, Dalihan Na Tolu, tungku berkaki tiga yang menjadi gambaran tentang hubungan dan tatanan kehidupan masyarakat Batak.

Kedua, Suhi Ni Ampang Na Opat, empat sudut wadah yang mengandung makna batas, ukuran, keseimbangan, dan keteraturan.

Keduanya memiliki fungsi simbolik yang berbeda, tetapi saling melengkapi.

Dalihan menopang hubungan. Suhi menjaga keseimbangan.

Dari sinilah muncul pemahaman bahwa kedua simbol tersebut dapat dibaca sebagai dua prinsip dasar dalam membangun kehidupan bersama: hubungan yang tertata dan keadilan yang terpelihara.

DALIHAN NA TOLU: MENENTUKAN SIAPA DAN BAGAIMANA HUBUNGAN DIJALANKAN

Dalihan Na Tolu merupakan fondasi hubungan kekerabatan masyarakat Batak Toba. Melalui perkawinan dan hubungan genealogis, seseorang memahami kedudukannya dalam tiga unsur utama, yakni Hula-hula, Dongan Tubu, dan Boru.

Ketiganya bukan sekadar kategori kekerabatan, melainkan struktur hubungan yang mengandung hak, kewajiban, penghormatan, tanggung jawab, serta tata krama dalam kehidupan sosial.

Nilai-nilai tersebut dirangkum dalam tiga prinsip utama:

  • Somba marhula-hula — menghormati Hula-hula.
  • Manat mardongan tubu — berhati-hati dan menjaga hubungan dengan sesama saudara semarga.
  • Elek marboru — mengasihi, membujuk, dan memperlakukan Boru dengan penuh perhatian.

Ketiga prinsip tersebut menunjukkan bahwa hubungan kekerabatan tidak boleh dijalankan secara sewenang-wenang. Setiap posisi memiliki tanggung jawab moral yang harus dijaga.

Dalam pembacaan filosofis saya, Dalihan Na Tolu hadir lebih dahulu secara konseptual karena ia menjawab pertanyaan mendasar: SIAPA berhubungan dengan siapa?

Namun, mengetahui kedudukan seseorang dalam struktur kekerabatan belum otomatis menjamin bahwa hubungan tersebut berlangsung secara adil.

Kita dapat mengetahui siapa Hula-hula, siapa Dongan Tubu, dan siapa Boru. Akan tetapi, masih terdapat pertanyaan lanjutan: seberapa besar penghormatan harus diberikan? Sejauh mana tanggung jawab harus dipenuhi? Bagaimana perhatian dibagikan? Apakah kepentingan semua pihak telah diperhitungkan secara proporsional?

Dengan kata lain, Dalihan menjelaskan struktur hubungan, tetapi keseimbangan dalam menjalankan hubungan itu masih memerlukan prinsip penataan yang lebih luas.

Di sinilah Suhi Ni Ampang Na Opat memperoleh relevansinya.

SUHI NI AMPANG NA OPAT: MENJAGA UKURAN, KESEIMBANGAN, DAN KEADILAN

Secara simbolik, suhi berarti sudut, sedangkan ampang merupakan wadah. Sebuah wadah memiliki batas, ruang, ukuran, dan kemampuan menampung sesuatu secara seimbang.

Apabila wadah tersebut miring, isinya berpotensi tumpah. Apabila salah satu sisinya tidak seimbang, fungsi wadah sebagai tempat menampung tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.

Gambaran sederhana ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami makna filosofis Suhi Ni Ampang Na Opat.

Dalam pembacaan saya, empat suhi mengingatkan bahwa kehidupan bersama tidak boleh hanya bertumpu pada satu kepentingan atau satu kelompok. Hubungan sosial perlu memperhitungkan keseluruhan unsur yang hadir di dalamnya.

Keempat unsur tersebut saya baca sebagai:

  1. Hula-hula
  2. Dongan Tubu
  3. Boru
  4. Dongan Sahuta dan Si Tuan Na Torop, yakni masyarakat sekampung, para tamu, serta orang banyak.

Kehadiran unsur keempat menjadi penting karena kehidupan adat tidak berlangsung hanya dalam lingkaran keluarga dan kekerabatan. Ada masyarakat, lingkungan sosial, serta orang banyak yang turut menjadi bagian dari kehidupan bersama.

Dengan demikian, tanggung jawab adat tidak berhenti pada hubungan internal Dalihan Na Tolu. Ia juga perlu mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Dari pembacaan simbolik tersebut, saya merumuskan sebuah pemahaman:

Dalihan Na Tolu menentukan SIAPA yang berhubungan. Suhi Ni Ampang Na Opat mengingatkan BERAPA, SEJAUH MANA, dan SEBERAPA ADIL hubungan itu dijalankan.

Keduanya tidak saling meniadakan. Justru, keduanya saling mengoreksi dan menyempurnakan.

Tanpa Dalihan, penakaran kehilangan kejelasan subjek dan hubungan. Sebaliknya, tanpa prinsip keseimbangan, hubungan kekerabatan berpotensi berubah menjadi keberpihakan yang tidak proporsional.

Hubungan tanpa keseimbangan dapat melahirkan ketimpangan. Keseimbangan tanpa hubungan kehilangan makna kemanusiaannya.

ADAT DALAM TERANG FIRMAN TUHAN

Sebagai orang Kristen, saya memandang warisan budaya Batak dengan rasa hormat dan tanggung jawab. Namun, penghormatan terhadap adat tidak berarti menempatkan adat di atas iman.

Bagi saya, Firman Tuhan merupakan terang moral untuk menguji, menuntun, dan mengarahkan pemaknaan terhadap nilai-nilai budaya.

Nilai somba marhula-hula mengingatkan saya pada perintah menghormati orang tua sebagaimana tertulis dalam Keluaran 20:12.

Nilai manat mardongan tubu mengandung pesan tentang pentingnya menjaga hubungan, saling memperhatikan, dan menanggung beban satu sama lain, sebagaimana diingatkan dalam Galatia 6:2.

Sementara itu, elek marboru mengandung semangat kasih dan kepedulian terhadap sesama, sejalan dengan ajaran Yesus dalam Matius 22:39.

Adapun prinsip keseimbangan dan ukuran yang benar memperoleh penguatan moral melalui Amsal 16:11:

“Takaran dan timbangan yang tepat adalah kepunyaan TUHAN.”

Ayat tersebut mengingatkan bahwa ukuran yang benar bukanlah ukuran yang ditentukan oleh kepentingan pribadi, kekuasaan, atau keberpihakan, melainkan ukuran yang berlandaskan kebenaran dan keadilan.

Karena itu, membaca adat dalam terang Firman Tuhan bukan berarti mencampuradukkan objek iman. Saya menghormati kebudayaan Batak sebagai warisan leluhur, tetapi hanya Yesus Kristus yang saya sembah sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Saya juga menghormati saudara-saudara penganut Ugamo Malim yang terus menjaga berbagai pusaka budaya Batak. Perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk saling menghormati, merawat kebudayaan, dan membangun kehidupan bersama.

Istilah seperti Debata Asi Asi, Batara Guru, Soripada, dan Mangalabulan saya tempatkan sebagai bagian dari jejak bahasa, tradisi, dan kosmologi leluhur Batak yang patut dikaji secara terbuka dan bertanggung jawab, bukan sebagai tambahan objek iman Kristen yang saya anut.

Bagi saya, kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan dan dialog, tanpa harus mengaburkan batas keyakinan masing-masing.

RUMA PARSAKTIAN: RUANG SIMBOLIK UNTUK MENATA KEHIDUPAN

Dari seluruh pembacaan tersebut, Ruma Parsaktian dapat dipahami bukan hanya sebagai ruang fisik atau bangunan tradisional, melainkan juga sebagai ruang simbolik yang menyimpan gagasan tentang keteraturan kehidupan.

Di dalamnya, Dalihan Na Tolu dan Suhi Ni Ampang Na Opat dapat dibaca sebagai dua perangkat nilai yang saling menopang.

Dalihan mengajarkan bahwa manusia hidup dalam hubungan. Tidak seorang pun berdiri sendiri tanpa keterkaitan dengan orang lain.

Suhi mengingatkan bahwa hubungan tersebut harus dijalankan dengan ukuran, batas, keseimbangan, dan tanggung jawab.

Dengan demikian, kehidupan yang tertata tidak cukup hanya dibangun melalui pengakuan terhadap kedudukan seseorang. Ia juga membutuhkan kesadaran untuk memperlakukan setiap pihak secara patut dan proporsional.

Dalam pembacaan filosofis saya, hubungan kedua simbol itu dapat dirumuskan sebagai berikut:

Dalihan menentukan SIAPA.
Suhi menentukan BERAPA dan SEBERAPA ADIL.
Asi mengingatkan BAGAIMANA hubungan dijalankan dengan kasih dan kepedulian.
Firman Tuhan menerangi ARAH MORAL kehidupan.

Rumusan ini bukan dimaksudkan sebagai satu-satunya tafsir atas simbol-simbol adat Batak, melainkan sebagai tawaran pemikiran untuk memperkaya dialog kebudayaan dan memperdalam pemahaman tentang nilai-nilai yang diwariskan leluhur.

Sebab, adat yang hidup bukanlah adat yang hanya dihafalkan, melainkan adat yang terus dipahami, direnungkan, dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

DUA SAYAP KONSTITUSI BUDAYA

Jika Dalihan Na Tolu diibaratkan sebagai tungku yang menopang kehidupan, maka Suhi Ni Ampang Na Opat merupakan pengingat agar segala sesuatu yang ditopang tetap berada dalam keseimbangan.

Tungku yang tidak seimbang akan menyulitkan wadah yang berada di atasnya. Sebaliknya, wadah yang tidak memiliki keseimbangan akan kehilangan kemampuannya menampung dengan baik.

Demikian pula kehidupan sosial. Hubungan kekerabatan membutuhkan keseimbangan, sementara prinsip keadilan membutuhkan hubungan antarmanusia yang nyata.

Dalihan Na Tolu dan Suhi Ni Ampang Na Opat, dalam pembacaan saya, merupakan dua sayap konstitusi budaya dari Ruma Parsaktian: yang satu menata hubungan, yang lain menjaga keseimbangan dan keadilan.

Keduanya mengingatkan bahwa adat bukan sekadar tata cara seremonial, simbol kebesaran masa lalu, atau identitas yang diwariskan secara turun-temurun.

Adat juga merupakan ruang refleksi untuk menilai bagaimana manusia memperlakukan sesamanya, bagaimana tanggung jawab dibagikan, serta bagaimana kepentingan pribadi dan kepentingan bersama ditempatkan secara proporsional.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang mana yang lebih dahulu antara Dalihan Na Tolu dan Suhi Ni Ampang Na Opat membawa kita pada pemahaman yang lebih penting: bukan sekadar mencari yang pertama, melainkan memahami bagaimana keduanya bekerja bersama untuk menjaga keteraturan kehidupan.

Sebab, kebudayaan yang bermartabat bukan hanya kebudayaan yang mampu mempertahankan warisan leluhur, tetapi juga kebudayaan yang berani menggali maknanya, menguji penerapannya, dan menjadikannya sumber kebijaksanaan bagi generasi berikutnya.

Horas! Soli Deo Gloria.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *