Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Banyak orang pernah bertanya kepada saya: Mengapa kita mengenal istilah Sada Lulu Anak dan Sada Lulu Boru, yang sama-sama menunjukkan kasih kepada anak, tetapi ketika berbicara tentang cucu pertama, gelarnya justru dibedakan menjadi Op. Bursok dan Op. Ni Butet?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya membawa kita masuk ke dalam cara orang Batak memahami holong, marga, panggoaran, tano, dan Dalihan Na Tolu.
Saya mencoba menjawabnya bukan semata-mata dari buku, tetapi juga dari pengalaman hidup sebagai orang yang tumbuh dalam lingkungan budaya Batak di kaki Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula.
SADA LULU: KASIH TIDAK MENGENAL PERBEDAAN
Sada Lulu Anak, Sada Lulu Boru.
Bagi saya, ungkapan ini pertama-tama berbicara tentang holong.
Di dalam keluarga, anak laki-laki maupun anak perempuan dicintai dengan kasih yang sama. Ketika sakit, keduanya dirawat. Ketika susah, keduanya ditolong. Ketika berhasil, keduanya disyukuri.
Tidak ada ukuran bahwa kasih kepada anak laki-laki lebih besar daripada kepada anak perempuan, atau sebaliknya.
Itulah makna mendasar dari Sada Lulu.
Namun, masyarakat Batak tidak hanya mengenal hubungan berdasarkan kasih. Ada pula sistem kekerabatan yang mengatur identitas, garis keturunan, tanggung jawab, serta hubungan antarkeluarga.
Di sinilah kita mulai memahami mengapa istilah dan panggilan tertentu memiliki bentuk yang berbeda.
MARGA: BUKAN SOAL LEBIH DIKASIHI, MELAINKAN GARIS KETURUNAN
Dalam sistem kekerabatan Batak Toba yang bersifat patrilineal, garis marga mengikuti pihak ayah.
Karena itu, anak laki-laki memiliki posisi penting dalam meneruskan marga keluarga. Sementara anak perempuan, setelah menikah, masuk ke dalam lingkungan marga suaminya.
Perbedaan ini bukan semestinya dibaca sebagai perbedaan derajat manusia ataupun perbedaan kadar kasih.
Ia lebih tepat dipahami sebagai pembagian fungsi dalam sistem kekerabatan.
Anak laki-laki secara adat dipandang sebagai penerus garis keturunan dan penjaga keberlanjutan marga. Sementara anak perempuan membawa hubungan kekerabatan yang semakin luas melalui perkawinan.
Dengan demikian, marga berjalan melalui garis keturunan, sedangkan holong berjalan melampaui garis keturunan.
Di situlah keindahan falsafah Batak: hubungan keluarga tidak berhenti pada hubungan darah, tetapi berkembang menjadi jaringan Dalihan Na Tolu.
LALU, MENGAPA ADA OP. BURSOK?
Dalam tradisi masyarakat Batak Toba, panggilan kepada seseorang dapat berubah mengikuti peristiwa penting dalam perjalanan hidupnya.
Salah satunya adalah ketika seseorang memperoleh cucu.
Pada masa lalu, sebutan Si Bursok dikenal sebagai panggilan untuk anak laki-laki. Ketika cucu pertama lahir melalui anak laki-laki, khususnya dalam konteks panggoaran yang diwariskan melalui garis tersebut, muncullah panggilan Op. Bursok.
Panggilan itu bukan sekadar nama.
Ia merupakan tanda bahwa seseorang telah memasuki tahap kehidupan baru: menjadi ompung.
Di dalamnya terdapat makna kesinambungan. Ada marga yang diteruskan, ada generasi yang menyambung, dan ada tanggung jawab untuk menjaga warisan keluarga.
Dengan kata lain, Op. Bursok mengandung pesan tentang kesinambungan garis keturunan.
LALU, MENGAPA OP. NI BUTET?
Di sinilah kita menemukan perbedaan yang menarik.
Si Butet merupakan panggilan untuk anak perempuan. Ketika cucu hadir melalui boru, muncullah bentuk panggilan Op. Ni Butet.
Kata “ni” dalam konstruksi ini dapat dipahami sebagai penanda hubungan kepunyaan atau keterkaitan: Ompung ni Butet—ompung dari si Butet.
Cucu itu tetap cucu.
Kasih seorang ompung kepada cucunya tidak berkurang sedikit pun.
Namun, secara garis marga, cucu dari boru mengikuti marga ayahnya. Karena itu, hubungan tersebut berada dalam konfigurasi kekerabatan yang berbeda.
Di sinilah kita dapat melihat hubungan antara holong dan Dalihan Na Tolu.
Ketika anak perempuan menikah, orang tua tidak kehilangan borunya. Justru hubungan itu berkembang menjadi hubungan adat yang baru. Orang tua boru memiliki posisi sebagai hula-hula terhadap keluarga suami borunya.
Maka, Op. Ni Butet bukanlah simbol kasih yang lebih kecil.
Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa kasih telah bergerak keluar dari garis marga dan membentuk jaringan kekerabatan yang baru.
BURSOK MENJAGA GARIS, BUTET MEMPERLUAS JARINGAN
Kalau kita renungkan lebih dalam, perbedaan Op. Bursok dan Op. Ni Butet sesungguhnya bukan tentang siapa yang lebih dicintai.
Bursok menjaga kesinambungan garis.
Butet memperluas jejaring holong.
Yang satu berkaitan erat dengan keberlanjutan marga; yang lain memperlihatkan bagaimana hubungan kekeluargaan berkembang melalui perkawinan.
Karena itu, tidak tepat apabila sistem patrilineal langsung diterjemahkan sebagai sistem yang mengurangi nilai perempuan.
Justru dalam struktur Dalihan Na Tolu, boru memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting. Tanpa boru, tidak ada keseimbangan hubungan antara hula-hula, dongan tubu, dan boru.
Perempuan bukan sekadar “keluar” dari marga asal.
Ia membawa holong, martabat keluarga, hubungan kekerabatan, dan jembatan antarkeluarga ke lingkungan yang baru.
PATRI-LINEAL TIDAK HARUS DIMAKNAI SEBAGAI PATRI-KEKUASAAN
Ini bagian yang menurut saya penting untuk dipahami generasi sekarang.
Patrilineal tidak otomatis berarti laki-laki lebih tinggi daripada perempuan.
Patrilineal adalah sistem garis keturunan; bukan ukuran kasih sayang dan bukan ukuran martabat manusia.
Kalau kita mencampuradukkan garis keturunan dengan kadar kasih, kita akan mudah salah membaca budaya Batak.
Anak laki-laki dan anak perempuan tetap Sada Lulu.
Tetapi ketika berbicara mengenai marga, panggoaran, perkawinan dan Dalihan Na Tolu, ada aturan kekerabatan yang bekerja dengan fungsi masing-masing.
Karena itu, perbedaan istilah tidak selalu berarti perbedaan nilai.
Kadang-kadang, perbedaan istilah justru menunjukkan ketelitian sebuah kebudayaan dalam menempatkan hubungan antarorang.
PATRI-LINEAL EKOLOGIS
Saya menyebut cara pandang ini sebagai “Patrilineal Ekologis.”
Mengapa?
Karena dalam pemahaman saya, marga bukan sekadar nama keluarga. Ia memiliki hubungan dengan tano, huta, leluhur, dan keberlanjutan kehidupan komunitas.
Di satu sisi, garis keturunan menjaga kesinambungan identitas.
Di sisi lain, perkawinan dan boru memperluas jaringan persaudaraan.
Maka:
Marga menjaga akar.
Boru memperluas cabang.
Holong memberi kehidupan kepada keduanya.
Itulah sebabnya saya melihat perbedaan antara Op. Bursok dan Op. Ni Butet bukan sebagai perbedaan kadar kasih.
Bursok bukan lebih dicintai.
Butet bukan kurang disayangi.
Keduanya adalah cucu.
Keduanya membawa sukacita.
Keduanya menjadi bagian dari kehidupan seorang ompung.
Yang berbeda adalah jalur kekerabatan dan fungsi adat yang melekat di belakang panggilan tersebut.
Pada akhirnya, tano boleh tetap di akar, tetapi holong harus terus mengalir.
Dari Pusuk Buhit kita belajar: garis keturunan memberi identitas, tetapi persaudaraanlah yang membuat kehidupan tetap utuh.
Sada Lulu Anak.
Sada Lulu Boru.
Beda panggilan, bukan beda kasih.
Itulah Batak: marga mempunyai garis, tetapi holong tidak mempunyai batas. ***










