JAKARTA, JAYA POS – Empat tokoh Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dohot Boru (PPTSB) menyatakan komitmen bersama untuk mendorong kawasan Gunung Pusuk Buhit di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, menjadi pusat konservasi alam, pelestarian budaya, serta ruang pemulihan peradaban Batak. Komitmen tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat keberlanjutan Toba Caldera UNESCO Global Geopark melalui pendekatan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, pendidikan, sejarah, dan pemberdayaan masyarakat.
Komitmen itu mengemuka dalam forum “Happy Hour Putra Toga Sinaga” yang digelar pada Jumat (10/7/2026). Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari gagasan dan pesan almarhum Uskup Agung Dr. A.B. Sinaga, yang semasa hidupnya terus mengingatkan pentingnya menjaga agar masyarakat Batak tidak tercerabut dari akar sejarah, budaya, dan nilai-nilai luhur yang membentuk identitasnya.
Dalam pertemuan tersebut, para tokoh PPTSB menyatakan dukungan terhadap pengembangan Porlak Nabadia, pembangunan Taman Monumen Dalihan Natolu Batak, serta perluasan Porlak Etno Botani Batak di kawasan Sigulatti, Geosite Pusuk Buhit.
Empat tokoh yang menyatakan dukungan tersebut adalah Anggota Komisi III DPR RI Mangihut Sinaga, SH, MH, pemerhati lingkungan Dr. Wilmar E. Simandjorang, M.Si, Ketua Departemen Sejarah PPTSB Drs. Jawali Sinaga, M.Phil., M.Si, serta Ketua Umum PPTSB Ir. Edison Sinaga.
Bagi mereka, Pusuk Buhit tidak dapat dipandang semata sebagai destinasi wisata ataupun bentang geologi yang memiliki nilai ilmiah tinggi. Gunung yang berada di jantung Kaldera Toba itu memiliki makna yang jauh lebih luas sebagai ruang budaya yang hidup dalam memori kolektif masyarakat Batak, tempat lahir dan berkembangnya berbagai narasi asal-usul leluhur, nilai adat, filosofi kehidupan, serta sistem pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Karena itu, pengembangan Porlak Nabadia dan Taman Monumen Dalihan Natolu tidak dimaksudkan hanya sebagai pembangunan infrastruktur fisik, melainkan sebagai upaya menghadirkan kembali ruang yang menghubungkan manusia dengan sejarah, alam, budaya, dan identitasnya.
Salah satu pesan yang mengemuka dalam forum tersebut berbunyi, “Ini bukan proyek, ini panggilan. Rap hita boi tarpatupa, tapauli dohot dengganni tahi.” Ungkapan itu menjadi ajakan moral agar seluruh elemen masyarakat Batak, tanpa memandang profesi maupun latar belakang, turut mengambil bagian dalam menjaga dan merawat warisan leluhur demi kepentingan generasi mendatang.
Menghargai Warisan, Memulihkan Peradaban
Para tokoh PPTSB menilai sudah saatnya paradigma pembangunan kawasan Danau Toba bergeser dari orientasi yang semata bertumpu pada sektor pariwisata menuju pendekatan yang lebih komprehensif, yakni menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat konservasi, pendidikan, penelitian, serta pelestarian peradaban Batak.
Menurut mereka, nilai utama Pusuk Buhit justru terletak pada kekayaan sejarah, budaya, pengetahuan tradisional, serta hubungan harmonis antara manusia dengan alam yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Dalam tradisi masyarakat Batak, Pusuk Buhit diyakini sebagai salah satu pusat narasi asal-usul leluhur. Oleh sebab itu, kawasan tersebut memiliki arti yang sangat penting sebagai penanda identitas budaya yang mempersatukan masyarakat Batak di berbagai daerah maupun diaspora.
Pelestarian Pusuk Buhit tidak hanya berarti menjaga bentang alamnya dari kerusakan, tetapi juga memulihkan memori kolektif masyarakat sekaligus melestarikan nilai-nilai luhur yang menjadi bagian dari warisan budaya bangsa.
Sebagai kawasan konservasi, Porlak Nabadia dirancang untuk mengintegrasikan pelestarian keanekaragaman hayati, tanaman endemik Batak, pengetahuan etnobotani, penelitian ilmiah, pendidikan lingkungan, hingga pengembangan literasi budaya. Kawasan ini diharapkan menjadi laboratorium hidup yang dapat dimanfaatkan oleh akademisi, pelajar, peneliti, maupun masyarakat luas.
Sementara itu, Taman Monumen Dalihan Natolu Batak dirancang sebagai simbol penghormatan terhadap falsafah hidup masyarakat Batak yang menjunjung tinggi prinsip Dalihan Natolu, yakni keseimbangan hubungan sosial yang didasarkan pada rasa hormat, tanggung jawab, kebersamaan, dan semangat saling menopang dalam kehidupan bermasyarakat.
Selaras dengan Paradigma UNESCO Global Geopark
Komitmen empat tokoh PPTSB tersebut dinilai sejalan dengan paradigma UNESCO Global Geopark yang menempatkan konservasi, edukasi, penelitian, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan sebagai fondasi utama pengelolaan kawasan.
Keberhasilan Toba Caldera UNESCO Global Geopark memperoleh kembali Green Card UNESCO pada tahun 2025 dipandang sebagai pengakuan internasional atas berbagai perbaikan tata kelola kawasan geopark. Namun, para tokoh menegaskan bahwa capaian tersebut bukanlah garis akhir.
Menurut mereka, tantangan sesungguhnya adalah memastikan keberadaan geopark memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui meningkatnya kualitas lingkungan, berkembangnya penelitian dan pendidikan, tumbuhnya ekonomi berbasis masyarakat, serta semakin kuatnya penghormatan terhadap budaya dan pengetahuan tradisional.
Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan yang berkembang di kalangan pemerhati geopark mengenai transformasi dari sekadar meraih Green Card menuju Green Toba, yaitu kondisi ketika keberhasilan pengelolaan kawasan tidak hanya diukur dari hasil evaluasi UNESCO, tetapi juga tercermin pada terjaganya kelestarian alam, meningkatnya kesejahteraan masyarakat, serta hidupnya kembali nilai-nilai budaya Batak dalam kehidupan sehari-hari.
Para tokoh PPTSB berharap Pusuk Buhit ke depan tidak hanya dikenal sebagai ikon geologi dunia, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran peradaban Batak yang mampu menghubungkan konservasi alam, literasi budaya, penelitian ilmiah, dan pendidikan karakter bagi generasi penerus. Dengan demikian, kawasan yang diyakini sebagai salah satu pusat sejarah masyarakat Batak itu dapat menjadi simbol kebangkitan peradaban yang berakar pada kearifan lokal sekaligus relevan dengan semangat pembangunan berkelanjutan di tingkat global.(Wil)












