BEKASI, JAYA POS – Komitmen membangun generasi muda yang peduli terhadap lingkungan sekaligus memiliki budaya keselamatan kerja terus dilakukan kalangan akademisi. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), dosen Universitas Kristen Indonesia (UKI) memberikan edukasi mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3), teknik pengelasan yang aman, serta pemanfaatan limbah otomotif menjadi tong sampah yang bernilai guna kepada siswa-siswi SMK Yadika 13 Tambun, Kabupaten Bekasi.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 22 Juli 2026 di SMK Yadika 13 Tambun, Jalan Raya Villa I, RT 01/RW 01, Jejalenjaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menghadirkan Melya Dyanasari Sebayang, dosen Teknik Mesin Universitas Kristen Indonesia yang telah memiliki sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), bersama Wellem Sairwona, A. Kia, dosen Pendidikan Agama Kristen UKI.
Program ini menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, yang bertujuan membekali para siswa dengan pengetahuan, keterampilan, serta karakter yang mendukung terciptanya budaya kerja yang aman, disiplin, kreatif, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Dalam paparannya, Wellem Sairwona menekankan pentingnya membangun budaya peduli lingkungan sejak dini melalui penerapan konsep 6R (Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Repair/Replace) sebagai langkah nyata mengurangi volume sampah di lingkungan sekolah.
Menurutnya, perubahan budaya tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus dimulai dari perubahan pola pikir dan kebiasaan sehari-hari.
“Para siswa diajak untuk berpikir kembali sebelum membeli suatu barang (Rethink), menolak penggunaan barang sekali pakai (Refuse), mengurangi timbunan sampah (Reduce), menggunakan kembali barang yang masih layak (Reuse), mendaur ulang berbagai jenis limbah (Recycle), serta memperbaiki atau mengganti barang dengan alternatif yang lebih ramah lingkungan (Repair/Replace),” jelasnya.
Ia berharap penerapan konsep tersebut mampu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih bersih, sehat, dan nyaman, sekaligus menumbuhkan karakter peserta didik yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Sebagai bentuk penyemangat, Wellem memperkenalkan slogan “Dari Kotor Jadi Keren”, yang menggambarkan transformasi limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat sekaligus memperkuat identitas sekolah sebagai institusi yang peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.
“Sekolah akan menjadi lebih keren apabila seluruh warga sekolah memiliki kesadaran menjaga kebersihan, termasuk mengelola sampah yang berasal dari laboratorium praktik maupun sisa aktivitas kantin,” ujarnya.
Sementara itu, dosen Teknik Mesin UKI Melya Dyanasari Sebayang memberikan materi mengenai pentingnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam praktik pengelasan. Ia menjelaskan bahwa pengelasan merupakan salah satu pekerjaan yang memiliki tingkat risiko cukup tinggi apabila dilakukan tanpa mengikuti prosedur keselamatan yang benar.
Menurutnya, berbagai potensi bahaya dapat muncul selama proses pengelasan, mulai dari paparan asap las yang berbahaya bagi sistem pernapasan, cahaya ultraviolet yang dapat merusak mata, percikan api dan logam panas yang berisiko menyebabkan luka bakar, hingga potensi sengatan listrik dari peralatan las.
Selain itu, proses penggerindaan juga memiliki risiko tinggi akibat percikan material logam yang dapat mengenai mata maupun bagian tubuh lainnya.
Karena itu, setiap siswa yang melakukan praktik pengelasan wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) secara lengkap sebagai standar keselamatan kerja.
Melya menjelaskan bahwa perlengkapan APD yang harus digunakan meliputi apron atau wearpack, helm atau topeng las, sarung tangan las, sepatu keselamatan (safety shoes), pelindung telinga (ear plug), serta masker untuk mengurangi risiko menghirup asap hasil pengelasan.
“Keselamatan kerja harus menjadi budaya, bukan sekadar aturan yang dipatuhi ketika diawasi. Dengan membiasakan penggunaan APD secara benar, siswa akan memiliki karakter profesional ketika nantinya memasuki dunia industri,” ungkapnya.
Selain memberikan teori, kegiatan PKM ini juga mengintegrasikan praktik pemanfaatan limbah otomotif menjadi tong sampah yang memiliki nilai ekonomi dan fungsi nyata. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengembangkan kreativitas siswa sekaligus mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan.
Melalui pemanfaatan barang bekas otomotif, para siswa diajak melihat bahwa limbah bukan sekadar sampah, melainkan sumber daya yang dapat diolah menjadi produk fungsional apabila dikelola dengan pengetahuan, keterampilan, dan inovasi.
Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari para siswa yang mengikuti seluruh rangkaian sosialisasi. Mereka memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya budaya keselamatan kerja, pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, serta pentingnya membangun karakter disiplin dan bertanggung jawab sebagai bekal memasuki dunia kerja.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, Universitas Kristen Indonesia berharap sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah kejuruan terus diperkuat dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keselamatan kerja, kesehatan, dan kelestarian lingkungan.
Dengan menggabungkan pendidikan karakter, budaya ramah lingkungan, serta penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), para siswa diharapkan menjadi generasi yang siap bersaing di dunia industri sekaligus mampu menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, aman, produktif, dan berkelanjutan. (Mel)












