BeritaHeadline

Pulanglah Dahulu, Belajarlah Lebih Banyak

×

Pulanglah Dahulu, Belajarlah Lebih Banyak

Sebarkan artikel ini
Wllmar Simanjorang. (Foto/Dok)

Oleh : Wilmar Simanjorang

SAMOSIR, JAYA POS — Tahun 1974, saya memasuki Fakultas Sosial Politik Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Saya memilih Program Studi Business Administration.

Saat itu saya membayangkan bahwa pendidikan yang akan saya jalani segera membawa kami kepada berbagai teori dan praktik tentang dunia bisnis: bagaimana mengelola organisasi, mengambil keputusan, memimpin orang, dan mencapai keberhasilan.

Ternyata saya keliru.

Kami justru terlebih dahulu dibekali dengan ilmu-ilmu dasar yang membentuk cara berpikir. Ada Logika Scientifica oleh Poespo Projo, Filsafat oleh Borouwer—seorang penulis Kompas yang juga menjadi dosen kami—Teodesia oleh Prater Dr. Vermulen, Etika oleh Dr. Dohne, serta Filsafat Pancasila oleh Prof. Dr. Geise yang ketika itu menjabat Uskup Agung Bandung.

Puluhan tahun kemudian, saya baru semakin memahami mengapa pendidikan itu disusun demikian.

Sebelum belajar mengelola organisasi, kita harus belajar bagaimana berpikir.

Sebelum belajar mengambil keputusan, kita harus memahami logika.

Sebelum mengejar keberhasilan, kita harus mengenal nilai dan etika.

Dan sebelum menggunakan ilmu untuk kehidupan bersama, kita harus memahami manusia, masyarakat, serta tanggung jawab kebangsaan.

Barulah setelah fondasi itu diberikan, kami masuk kepada pembekalan keilmuan Business Administration.

Kini saya menyadari, pendidikan tersebut meninggalkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar pengetahuan akademik.

Ia menanamkan kebiasaan untuk berpikir sebelum berbicara.

Dari sanalah ketertarikan saya terhadap filsafat semakin tumbuh, termasuk terhadap pemikiran eksistensialisme.

Karena rasa ingin tahu yang besar, saya kemudian mencari second opinion. Saya mendatangi sebuah sekolah tinggi filsafat di Jalan Aceh, Bandung, yang diasuh seorang pastor sekaligus ahli filsafat.

Saya diterima dengan baik.

Dengan penuh rasa ingin tahu, saya kemudian mengajukan pertanyaan:

“Apa sesungguhnya eksistensialisme itu?”

Saya mengira pertanyaan itu akan segera dijawab dengan penjelasan panjang mengenai berbagai pemikiran filsuf.

Ternyata tidak.

Sang pastor justru balik bertanya:

“Halo Wilmar, sudah berapa buku para ahli eksistensialisme yang kau baca sebelum datang kemari?”

Saya menjawab dengan polos:

“Belum ada, Pastor. Saya baru mempunyai catatan kuliah.”

Beliau kemudian berkata:

“Pulanglah dahulu. Belajarlah lebih banyak. Setelah itu, datanglah kembali dan bertanyalah.”

Saya pun pulang.

Dalam perjalanan pulang, saya tersenyum kepada diri sendiri.

Saya tidak merasa dipermalukan.

Saya justru merasa mendapatkan pelajaran yang jauh lebih penting daripada jawaban atas pertanyaan yang saya ajukan.

Saya datang untuk mencari penjelasan tentang eksistensialisme.

Tetapi saya pulang membawa pelajaran tentang bagaimana seharusnya seseorang mencari pengetahuan.

Pertanyaan Juga Memerlukan Pengetahuan

Sejak saat itu saya semakin memahami bahwa bertanya bukan semata-mata keberanian untuk berbicara.

Bertanya juga merupakan bagian dari etika intelektual.

Tentu saja setiap orang berhak bertanya karena tidak tahu.

Tidak ada yang salah dengan mengatakan, “Saya tidak tahu.”

Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang belum membaca, belum memahami, belum memeriksa konteks, tetapi sudah merasa paling mengetahui.

Orang yang sungguh-sungguh ingin mengetahui sesuatu harus bersedia melakukan langkah pertama:

Belajar.

Pertanyaan yang baik biasanya lahir dari proses membaca, mengamati, membandingkan, menguji, dan merenungkan.

Semakin seseorang memahami substansi, semakin tajam dan bermutu pertanyaannya.

Sebaliknya, ketika seseorang baru mengetahui sedikit tetapi merasa telah mengetahui seluruh persoalan, di situlah persoalan sering bermula.

Ia membaca judul, tetapi merasa telah mengetahui isi.

Ia mendengar satu kalimat, lalu menyimpulkan keseluruhan pembicaraan.

Ia mengenal sebuah istilah, lalu merasa telah menguasai konsep.

Ia memperoleh satu informasi, lalu berbicara seolah-olah telah memahami sejarah, latar belakang, dan konteks persoalannya.

Padahal informasi bukanlah pengetahuan. Pengetahuan belum tentu menjadi pemahaman. Dan pemahaman belum tentu melahirkan kebijaksanaan.

Karena itu, semakin banyak seseorang belajar, seharusnya semakin tumbuh pula kerendahan hati dalam dirinya.

Sebab semakin luas pengetahuan, semakin kita menyadari betapa luas pula sesuatu yang belum kita ketahui.

Jangan Berbicara Melampaui Pengetahuan

Kita tentu boleh bertanya.

Kita boleh berbeda pendapat.

Kita boleh mengkritik.

Bahkan kita harus berani mengoreksi sesuatu yang kita yakini tidak benar.

Namun semuanya membutuhkan bekal pengetahuan, ketepatan konteks, kemampuan bernalar, dan tanggung jawab etis.

Sebab kita tidak pernah benar-benar tahu siapa yang sedang kita hadapi.

Orang yang kita anggap hanya peserta biasa mungkin telah puluhan tahun mempelajari persoalan yang sedang kita bicarakan.

Orang yang tampak diam mungkin justru memahami jauh lebih banyak daripada orang yang paling banyak berbicara.

Karena itu jangan sampai terjadi sebuah ironi:

Datang sebagai penanya, tetapi karena tidak menguasai substansi, justru berubah menjadi narasumber yang tidak pernah diminta.

Semula hendak bertanya, tetapi kemudian panjang lebar menjelaskan.

Semula ingin memperoleh pengetahuan, tetapi justru memperlihatkan bahwa dirinya belum cukup membaca.

Semula ingin menguji pemikiran orang lain, tetapi tanpa sadar justru memperlihatkan keterbatasan pemahamannya sendiri.

Ini bukan soal siapa yang lebih pintar.

Ini soal etika dalam mencari kebenaran.

Orang yang rendah hati secara intelektual tidak malu mengatakan:

“Saya belum tahu.”

Ia membaca.

Ia mendengar.

Ia mempelajari.

Ia membandingkan.

Ia merenungkan.

Barulah kemudian ia bertanya.

Dan ketika akhirnya berbicara, ia tahu batas antara apa yang diketahuinya, apa yang dipahaminya, dan apa yang masih harus dipelajarinya.

Belajar Sebelum Berkomentar

Pengalaman di Jalan Aceh, Bandung, itu terus saya ingat karena ternyata pelajarannya tidak hanya berlaku di ruang kuliah.

Pelajaran itu berlaku dalam kehidupan.

Terlebih lagi di ruang publik.

Hari ini hampir setiap orang memiliki kesempatan untuk berbicara. Teknologi membuat pendapat seseorang dapat menjangkau ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang hanya dalam hitungan detik.

Namun kemudahan berbicara tidak otomatis melahirkan kedalaman pengetahuan.

Kita hidup di zaman ketika seseorang dapat membaca satu potongan informasi, kemudian langsung memberikan kesimpulan.

Membaca satu judul, lalu merasa memahami persoalan.

Menonton beberapa detik video, kemudian merasa mengetahui seluruh peristiwa.

Mendengar satu pendapat, lalu buru-buru menghakimi pendapat yang berbeda.

Di sinilah kita perlu berhati-hati.

Jangan menjadikan keberanian berbicara sebagai pengganti kedalaman belajar.

Jangan menjadikan banyaknya komentar sebagai ukuran kecerdasan.

Dan jangan mengira bahwa suara yang paling keras adalah suara yang paling benar.

Kebenaran tidak ditentukan oleh volume suara.

Kebenaran harus dicari melalui pengetahuan, penalaran, fakta, konteks, dan integritas.

Karena itu, sebelum bertanya, tanyakan dahulu kepada diri sendiri:

Sudahkah saya membaca?

Sebelum berkomentar:

Sudahkah saya memahami?

Sebelum mengkritik:

Sudahkah saya menguasai substansinya?

Dan sebelum mengoreksi orang lain:

Sudahkah saya memeriksa diri sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dapat menyelamatkan kita dari kesalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Pulanglah Dahulu

Puluhan tahun telah berlalu sejak saya menerima nasihat sederhana di Jalan Aceh, Bandung.

Namun kalimat itu masih saya ingat.

Bukan karena panjang.

Justru karena sangat sederhana:

“Pulanglah dahulu. Belajarlah lebih banyak. Setelah itu, datanglah kembali dan bertanyalah.”

Kini saya memahami bahwa kalimat itu bukan penolakan terhadap pertanyaan.

Bukan pula bentuk merendahkan seseorang yang belum tahu.

Justru sebaliknya.

Itulah sebuah pendidikan tentang kerendahan hati.

Kita diajarkan bahwa tidak semua pertanyaan harus segera dijawab.

Ada pertanyaan yang harus terlebih dahulu dipersiapkan oleh pengetahuan.

Ada komentar yang harus terlebih dahulu ditimbang oleh etika.

Ada kritik yang harus terlebih dahulu diuji oleh pemahaman.

Dan ada pendapat yang terkadang lebih baik ditahan sampai kita benar-benar memahami persoalannya.

Sebab orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran tidak sibuk berlomba untuk terlihat paling tahu.

Ia bersedia belajar.

Ia bersedia mendengar.

Ia bersedia mengakui, “Saya belum tahu.”

Kemudian ia kembali dengan pengetahuan yang lebih baik dan pertanyaan yang lebih bermutu.

Rendah Hati Sebelum Bertanya

Itulah sebabnya pengalaman sederhana saya di masa muda itu tetap menjadi pengingat hingga hari ini.

Rendah hati sebelum bertanya.

Belajar sebelum berkomentar.

Pahami konteks sebelum mengkritik.

Kuasai substansi sebelum tampil di ruang publik.

Sebab kedalaman berpikir tidak lahir dari banyaknya kata.

Kedalaman berpikir lahir dari kesediaan untuk belajar.

Kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara.

Kadang-kadang, menjadi orang yang paling bersedia mendengar jauh lebih berharga.

Kita juga tidak harus malu ketika belum mengetahui sesuatu.

Yang perlu kita khawatirkan justru ketika belum tahu, tetapi merasa sudah tahu.

Dan apabila suatu hari kita belum cukup memahami persoalan, tidak ada salahnya untuk mundur sejenak.

Bukan menyerah.

Bukan kalah.

Melainkan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk belajar.

Maka, kalau belum tahu, jangan tergesa-gesa berbicara.

Kalau belum memahami, jangan terburu-buru menghakimi.

Kalau belum membaca, jangan merasa paling mengetahui.

Pulanglah dahulu.

Belajarlah lebih banyak.

Setelah itu, datanglah kembali dan bertanyalah.

Barangkali itulah salah satu bentuk pendidikan yang paling sederhana, tetapi juga paling sulit kita praktikkan:

mengetahui kapan harus berbicara—dan mengetahui kapan kita harus terlebih dahulu belajar. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *