BeritaHeadline

Hau Joring Na Rintop : Refleksi Persaudaraan, Hasadaan, Dan Tanggung Jawab Menjaga Pohon Kehidupan

×

Hau Joring Na Rintop : Refleksi Persaudaraan, Hasadaan, Dan Tanggung Jawab Menjaga Pohon Kehidupan

Sebarkan artikel ini
Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang. (Foto/Dok Jaya Pos)

Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang

Pegiat Lingkungan Berbasis Geopark Kaldera Toba

SAMOSIR, JAYA POS – Dari lereng Pusuk Buhit, alam mengajarkan sebuah pelajaran sederhana, tetapi mendalam: pohon tidak selalu mati karena badai yang datang dari luar. Terkadang, kehidupannya justru perlahan tergerus oleh sesuatu yang tumbuh dan menempel pada dirinya sendiri.

Pohon berdiri karena akar, bertumbuh karena tanah, hidup karena air dan cahaya. Ia memberikan buah, keteduhan, serta ruang kehidupan bagi makhluk lain. Namun, di balik batang yang tampak kokoh dan dedaunan yang rimbun, selalu ada dinamika kehidupan yang tidak terlihat.

Ada akar yang mulai rapuh, ranting yang patah, dan rintop yang menempel, mengambil sebagian kehidupan pohon yang ditumpanginya.

Dalam kearifan Batak, ungkapan hau joring na rintop menyimpan ruang perenungan yang luas. Bagi saya, ungkapan ini bukan sekadar gambaran tentang hubungan antara pohon dan sesuatu yang menumpang hidup padanya. Lebih dari itu, ia dapat menjadi cermin untuk membaca kehidupan manusia, terutama dalam membangun persaudaraan, menjaga komunitas, dan merawat nilai-nilai kebersamaan.

Pertanyaan mendasarnya bukanlah siapa yang menjadi rintop dalam sebuah komunitas, melainkan bagaimana kita memastikan bahwa kehidupan bersama tidak perlahan kehilangan kekuatannya akibat perilaku, kepentingan, dan sikap yang tumbuh dari dalam diri kita sendiri.

Sebab, sebagaimana pohon, sebuah komunitas tidak hanya bertahan karena bentuk organisasi, nama besar, atau banyaknya kegiatan. Ia hidup karena akar yang lebih dalam: kepercayaan, persaudaraan, nilai, sejarah, dan kesediaan untuk saling menjaga.

Rintop: Ketika Kebersamaan Kehilangan Makna

Sebuah pohon mungkin masih tampak tegak, tetapi belum tentu seluruh kehidupannya berada dalam keadaan sehat.

Demikian pula sebuah komunitas. Pertemuan dapat terus berlangsung, struktur organisasi tetap berjalan, dan berbagai kegiatan tetap dilaksanakan. Namun, semua itu belum tentu mencerminkan kuatnya persaudaraan.

Ketika kepercayaan mulai terkikis, komunikasi berubah menjadi kecurigaan, dan kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada tujuan bersama, sesungguhnya ada sesuatu yang perlu diperiksa dari akar kehidupan komunitas tersebut.

Rintop dalam refleksi ini tidak harus dimaknai sebagai seseorang atau kelompok tertentu. Ia dapat hadir dalam bentuk ego yang tidak terkendali, ambisi yang kehilangan batas, ketidakmampuan mendengar, keinginan untuk selalu dianggap benar, serta luka lama yang dibiarkan tanpa penyelesaian.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, apabila terus dibiarkan, dampaknya dapat merusak hubungan yang selama ini dibangun melalui sejarah, pengorbanan, dan kepercayaan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Siapa rintop dalam pohon persaudaraan kita?”

Melainkan, “Jangan-jangan, tanpa disadari, saya sendiri sedang menjadi rintop bagi pohon yang sama?”

Pertanyaan ini menuntut kejujuran. Sebab, mengoreksi orang lain sering kali lebih mudah daripada memeriksa diri sendiri.

Hasadaon: Bersatu Tanpa Harus Seragam

Dalam kehidupan masyarakat Batak, hasadaon atau persatuan merupakan nilai yang memiliki akar kuat dalam hubungan kekeluargaan dan adat.

Namun, persatuan tidak berarti semua orang harus memiliki pandangan, pemikiran, dan pilihan yang sama.

Perbedaan merupakan bagian dari kehidupan. Bahkan, dalam sebuah komunitas yang sehat, perbedaan dapat menjadi sumber kekuatan apabila dikelola dengan kedewasaan dan rasa hormat.

Falsafah Dalihan Na Tolu mengajarkan keseimbangan dalam hubungan melalui prinsip somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru.

Ketiganya bukan sekadar ungkapan adat yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan pedoman etika dalam menempatkan diri dan memperlakukan sesama.

Menghormati hula-hula, berhati-hati dalam hubungan dengan dongan tubu, serta mengasihi boru merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan kehidupan sosial.

Terutama dalam hubungan manat mardongan tubu, persaudaraan tidak selalu berarti kesepakatan. Justru karena memiliki hubungan darah, sejarah, dan ikatan kekeluargaan, perbedaan harus disikapi dengan kehati-hatian.

Kata-kata dapat membangun, tetapi juga dapat melukai. Sikap dapat mempererat hubungan, tetapi juga dapat menciptakan jarak. Bahkan, sebuah gagasan yang baik dapat kehilangan maknanya apabila diperjuangkan melalui cara-cara yang merusak persaudaraan.

Oleh sebab itu, kedewasaan sebuah komunitas tidak hanya diukur dari kemampuannya mengambil keputusan, tetapi juga dari kemampuannya mengelola perbedaan tanpa saling merendahkan.

Hasadaon bukanlah keseragaman pikiran, melainkan kesediaan untuk tetap menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.

Mulak Tu Bona: Kembali ke Akar, Menemukan Arah

Dari Pusuk Buhit, kita diingatkan bahwa setiap perjalanan memiliki asal-usul.

Bagi masyarakat Batak, mulak tu bona bukan sekadar perjalanan fisik menuju kampung halaman atau tanah leluhur. Ia juga dapat dimaknai sebagai perjalanan batin untuk menemukan kembali akar identitas, nilai, dan tanggung jawab.

Kembali ke bona bukan berarti terjebak dalam romantisme masa lalu. Sebaliknya, kembali ke akar merupakan upaya menemukan pijakan agar perjalanan menuju masa depan tidak kehilangan arah.

Adat pun demikian. Ia bukan benda peninggalan yang cukup disimpan dalam ingatan, dipajang sebagai simbol, atau disebut dalam setiap pertemuan seremonial.

Nilai adat harus terus dihidupkan melalui perilaku, keputusan, dan cara kita memperlakukan sesama.

Generasi muda tidak cukup hanya mewarisi nama marga, simbol kebesaran, sejarah, dan struktur organisasi. Mereka juga perlu mewarisi nilai yang membuat semua itu memiliki makna.

Sebab, warisan terbesar bukan semata-mata organisasi yang semakin besar, kegiatan yang semakin banyak, atau nama yang semakin dikenal.

Warisan terbesar adalah ketika generasi berikutnya masih menemukan persaudaraan yang sehat, nilai adat yang hidup, serta ruang yang terbuka bagi setiap orang untuk bertumbuh dan berkontribusi.

Pohon Persaudaraan yang Kita Wariskan

Alam mengajarkan bahwa pohon tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Ia menghasilkan buah, memberikan keteduhan, menahan tanah dari erosi, menjadi tempat berlindung bagi makhluk lain, dan membuka ruang bagi kehidupan baru.

Pohon yang sehat tidak hanya dinilai dari tinggi batang atau lebatnya dedaunan, tetapi juga dari manfaat yang diberikannya bagi lingkungan.

Demikian pula persaudaraan.

Kita tidak sedang membangun kehidupan bersama hanya untuk kepentingan generasi hari ini. Apa yang kita lakukan sekarang akan menjadi lingkungan tempat generasi berikutnya belajar tentang arti menjadi satu keluarga.

Mereka akan melihat bukan hanya apa yang kita ucapkan tentang persatuan, tetapi bagaimana kita memperlakukan saudara yang berbeda pendapat.

Mereka akan belajar bukan hanya dari keputusan yang kita ambil, tetapi juga dari cara kita mengambil keputusan tersebut.

Apakah kita mengutamakan musyawarah atau memaksakan kehendak? Apakah kita membuka ruang dialog atau membangun sekat? Apakah kita merawat kepercayaan atau membiarkannya terkikis oleh kepentingan sesaat?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena persaudaraan tidak diwariskan hanya melalui nasihat. Ia diwariskan melalui keteladanan.

Jika hari ini kita mengajarkan persatuan, tetapi memperlihatkan pertentangan yang tidak berkesudahan, generasi berikutnya akan menerima pesan yang berbeda dari apa yang kita ucapkan.

Jika hari ini kita berbicara tentang adat, tetapi mengabaikan nilai saling menghormati, maka yang diwariskan hanyalah simbol tanpa jiwa.

Karena itu, menjaga pohon persaudaraan berarti menjaga akar, merawat batang, melindungi ranting, dan memastikan setiap bagian memperoleh ruang untuk hidup.

Sebelum Menunjuk Rintop, Periksa Pohon Sendiri

Dari lereng Pusuk Buhit, saya belajar bahwa kehidupan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling tinggi, paling besar, atau paling menonjol.

Kekuatan sejati justru terletak pada akar yang menopang, batang yang kokoh, dan kemampuan memberikan manfaat bagi kehidupan di sekitarnya.

Demikian pula hasadaon. Persatuan bukan berarti kita tidak pernah berbeda. Persatuan berarti perbedaan tidak menghapus tanggung jawab kita untuk saling menghormati, menjaga, dan membangun kehidupan bersama.

Karena itu, sebelum menunjuk rintop pada pohon yang lain, ada baiknya kita memeriksa pohon sendiri.

Apakah akar persaudaraan kita masih kuat? Apakah batang kebersamaan masih tegak? Apakah ranting komunikasi masih membuka ruang bagi perbedaan? Apakah buah yang kita hasilkan benar-benar bermanfaat bagi sesama?

Dan yang paling penting, apakah pohon yang kita rawat hari ini masih mampu memberikan keteduhan bagi generasi yang datang kemudian?

Saya pun bagian dari pohon itu. Karena itu, renungan ini pertama-tama bukan untuk menunjuk siapa pun, melainkan menjadi pertanyaan bagi diri sendiri.

Apa yang sedang saya tumbuhkan bagi kehidupan bersama?

Apakah saya sedang memperkuat akar persaudaraan, menghasilkan buah kebersamaan, dan memberikan keteduhan? Ataukah tanpa disadari, saya justru mengambil sebagian kehidupan dari pohon yang sama?

Hau joring na rintop mengingatkan kita bahwa ancaman terhadap persaudaraan tidak selalu datang dari luar. Terkadang, yang paling perlu dibenahi justru cara kita memperlakukan kehidupan bersama.

Pohon yang baik bukan hanya pohon yang masih berdiri. Pohon yang baik adalah pohon yang tetap berakar kuat, tumbuh sehat, menghasilkan buah, dan memberikan keteduhan, bahkan ketika tangan yang menanam dan merawatnya tidak lagi berada di sana.

Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah persaudaraan bukanlah seberapa besar pohon yang berhasil kita bangun, melainkan seberapa banyak kehidupan yang dapat terus tumbuh di bawah keteduhannya.

Dari Pusuk Buhit, untuk persaudaraan yang berakar, bertumbuh, dan memberi kehidupan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *