JAKARTA, JAYA POS – Proyek Monorail Jakarta yang dinanti-nantikan akhirnya mulai menunjukkan titik terang. PT Jakarta Monorel (JM), yang kini mayoritas sahamnya dimiliki oleh Ortus Infrastructure Capital Limited (bagian dari Ortus Group), telah mempersiapkan rencana bisnis dan struktur investasi untuk membangun sistem monorel modern senilai Rp 58 triliun.
Proyek ini ditargetkan untuk menjadi solusi jangka panjang atas kemacetan ibu kota dan mendorong pertumbuhan transportasi publik berteknologi tinggi.
Pada April 2013, Ortus Group mengakuisisi sekitar 90% saham PT Jakarta Monorel dari pemilik sebelumnya, PT Indonesia Transit Central (ITC) dan PT Adhi Karya. Nilai transaksi ditaksir mencapai Rp 2,3 triliun, yang menempatkan valuasi perusahaan sekitar Rp 2,6–2,7 triliun saat itu.
Edward Soeryadjaya, pemilik Ortus Group dan anggota keluarga pendiri grup Astra, tercatat memiliki saham pribadi sebesar 33,875%. Sementara itu, ITC masih mempertahankan 10% kepemilikan.
Rencana Investasi & Tahapan Proyek
Proyek Monorail Jakarta terbagi dalam dua fase besar:
| Fase | Jalur | Panjang | Nilai Investasi |
|---|---|---|---|
| Phase 1 | Green Line | 30 km | USD 1,5 miliar (Rp 24,5 triliun) |
| Phase 2 | Blue Line | 14 km | USD 700 juta (Rp 11,4 triliun) |
| Green Line Loop | 16 stasiun + depot | USD 720 juta (Rp 11,7 triliun) | |
| Blue Line Timur–Barat | 14 stasiun + depot | USD 630 juta (Rp 10,3 triliun) | |
| Total | – | – | USD 3,55 miliar (Rp 58 triliun) |
Fase pertama akan dimulai pada September 2025 dan dijadwalkan rampung pada 22 Juni 2027. Fase kedua akan dilaksanakan setelah fase pertama selesai. Seluruh pembangunan stasiun dilakukan secara paralel.
Proyek ini akan menggunakan teknologi Monorail Alstom, perusahaan transportasi rel global asal Prancis yang mengakuisisi teknologi sistem INNOVIA Monorail dari Bombardier. Teknologi ini telah terbukti andal di berbagai negara dan siap mendukung mobilitas Jakarta dengan standar internasional.
Monorail Jakarta akan mengandalkan dua jenis pendapatan utama:
1. Pendapatan Tiket Penumpang (Farebox Revenue)
-
Estimasi Penumpang: 280.000 per hari
-
Tarif rata-rata: Rp 15.000
-
Pendapatan Tahunan: Sekitar Rp 1,51 triliun
2. Pendapatan Non-Tiket (Non-Fare Revenue)
-
Iklan & branding stasiun: Rp 50–150 miliar/tahun
-
Sewa retail & komersial: Rp 30–80 miliar/tahun
-
TOD & parkir: Rp 50–200 miliar/tahun
-
Monetisasi data & teknologi: Rp 10–30 miliar/tahun
Total Potensi Pendapatan Non-Tiket: Rp 140–460 miliar/tahun
Estimasi Total Pendapatan dan Biaya Operasional
| Kategori | Nilai Estimasi (Rp/tahun) |
|---|---|
| Total Pendapatan | Rp 1,65 – 1,97 triliun |
| Biaya Operasional (30%) | Rp 495 – 591 miliar |
| Net Cashflow | Rp 1,15 – 1,38 triliun |
Proyek ini menggunakan skema Build-Operate-Transfer (BOT) selama 40 tahun dengan skema pendanaan asing (FDI). Pemerintah hanya menyediakan dukungan regulasi dan lahan.
Untuk membiayai proyek, JM memperoleh pinjaman internasional sebesar USD 4 miliar dari institusi keuangan Taiwan, dengan bunga rendah 1,5% per tahun, tenor 30 tahun, dan masa tenggang (grace period) hingga 7 tahun.
Analisis Finansial dan Kelayakan Proyek
| Skenario | IRR | NPV (Rp T) | Payback Period |
|---|---|---|---|
| Konservatif | 12,49% | Rp 10,6 T | 9 tahun |
| Moderat | 13,04% | Rp 11,94 T | 9 tahun |
| Optimis | 13,58% | Rp 13,28 T | 9 tahun |
Semua skenario menunjukkan hasil positif, dengan IRR di atas 12% dan NPV signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa proyek layak secara finansial dan menjanjikan bagi investor infrastruktur jangka panjang.
Proyek Monorail Jakarta adalah salah satu inisiatif transportasi publik terbesar dan terstruktur di Indonesia. Dengan dukungan teknologi global, skema investasi yang efisien, serta proyeksi finansial yang menjanjikan, monorel ini berpotensi menjadi tulang punggung baru transportasi ibu kota.
Keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada dukungan berkelanjutan dari pemerintah, realisasi jumlah penumpang, dan pengembangan aset non-tiket seperti TOD dan iklan.
“Monorail bukan hanya proyek transportasi, tapi juga masa depan mobilitas urban Jakarta.”
(RED)












