MOJOKERTO, JAYA POS – Pemerintah Kabupaten Mojokerto di bawah kepemimpinan Bupati Muhammad Albarra dan Wakil Bupati Muhammad Rizal Octavian terus menunjukkan komitmen kuat dalam mempercepat pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah. Memasuki akhir Tahun Anggaran 2025, berbagai proyek strategis digenjot, mulai dari pelebaran jalan, peningkatan kualitas jalan aspal menjadi rabat beton, hingga pembangunan sejumlah jembatan yang menjadi akses vital masyarakat.
Salah satu proyek yang kini menjadi sorotan adalah pembangunan sekaligus pelebaran Jembatan Lebaksono di Desa Lebaksono, Kecamatan Pungging. Pembangunan jembatan ini dibiayai melalui Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD) Kabupaten Mojokerto Tahun Anggaran 2025.
Jembatan Lebaksono memiliki peran penting sebagai penghubung tiga kecamatan, yaitu Trawas, Mojosari, dan Pungging. Proyek dengan nilai kontrak Rp 9.671.388.000 yang dikerjakan oleh CV Allanta Raya ini mencakup pelebaran jembatan menjadi 7 meter dengan panjang mencapai 60 meter. Kehadirannya diharapkan dapat meningkatkan konektivitas antarwilayah dan memperlancar aktivitas sosial-ekonomi masyarakat.
Selain itu, jembatan ini merupakan jalur utama menuju pasar tradisional di Kecamatan Mojosari. Perbaikan akses transportasi diyakini dapat memperlancar distribusi bahan pokok dan komoditas lainnya, sehingga turut mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan mendorong program swasembada pangan nasional.
Plt. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Mojokerto, Anik Mutammima Kurniawati, melalui Kepala Bidang Bina Marga, Henri Surya, menegaskan bahwa pembangunan Jembatan Lebaksono merupakan salah satu program prioritas daerah pada tahun 2025.
“Pembangunan Jembatan Lebaksono merupakan proyek prioritas yang kami laksanakan tahun ini. Keberadaannya diharapkan dapat memperlancar hubungan ekonomi dan sosial masyarakat, terutama dalam distribusi kebutuhan pokok menuju pasar tradisional yang lokasinya tak jauh dari jembatan tersebut. Ini sekaligus mendukung program swasembada pangan yang tengah digencarkan Pemerintah Republik Indonesia,” ujarnya.
Henri juga memastikan bahwa jangka waktu pengerjaan selama 180 hari kalender cukup untuk menyelesaikan proyek secara maksimal dan tepat waktu.
“Dengan waktu pengerjaan yang tersedia, kami optimis proyek ini dapat selesai sesuai target dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Antusiasme warga tentu semakin meningkat karena kehadiran jembatan baru ini akan mempermudah aktivitas mereka sehari-hari,” pungkasnya.
(Ad/aj)












