BeritaHeadline

Ekskavator Beroperasi di Bukit Putaran Balun, Warga Dilanda Ketakutan dan Keresahan

29
×

Ekskavator Beroperasi di Bukit Putaran Balun, Warga Dilanda Ketakutan dan Keresahan

Sebarkan artikel ini
Kegiatan Tambang Dibukit Belahan Barat KPGD sangat di Kuatirkan Masyarakat.

SOLOK SELATAN, JAYA POS – Aktivitas alat berat berupa ekskavator di kawasan Bukit Putaran Balun, Sungai Ipua, sekitar 200 meter dari bibir jalan, menimbulkan keresahan di tengah para pekerja manual maupun masyarakat setempat. Warga khawatir keberadaan mesin berat di area yang dinilai rawan tersebut dapat memicu longsor dan mengancam keselamatan ribuan penduduk yang tinggal di sekitarnya. Kekhawatiran itu disampaikan oleh sejumlah warga yang enggan disebutkan namanya, Rabu (26/11/2025).

Seorang tokoh masyarakat menjelaskan bahwa lokasi penambangan berada sangat dekat dengan jalan umum dan aliran Sungai Batang Suliti, sehingga rawan memicu kerusakan lingkungan serta berpotensi menimbulkan bencana.

Puti Nilam Sari, Puti Bundo Kanduang sekaligus pewaris Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu, turut mengecam keras keberadaan ekskavator tersebut. Ia mempertanyakan bagaimana alat berat dapat beroperasi di kawasan yang diyakini merupakan hutan lindung dan area yang memiliki fungsi ekologis penting.

“Bukit belahan barat ini adalah benteng alam dari bencana, terutama pada posisi matahari terbenam. Kehadirannya harus disadari sebagai kawasan rawan. Jika ada investasi besar yang masuk tanpa memperhatikan kearifan lokal, tentu hal ini sangat meresahkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penambangan manual yang dilakukan secara tradisional selama ini dianggap selaras dengan adat dan mampu bertahan puluhan tahun sesuai amanah leluhur. Namun, bila menggunakan alat berat dan mengejar keuntungan sepihak, ia meyakini bukit tersebut dapat rusak dalam satu hingga dua tahun saja.

Tokoh adat lainnya menyebut bahwa kawasan tersebut diklaim sebagai bagian dari Hutan Taman Kerinci Seblat (TKS), sebuah kawasan yang disebut sebagai “hutan larangan” dan berfungsi sebagai benteng perlindungan dari bencana alam. Menurutnya, keberadaan pihak perusahaan yang disebut warga sebagai “investor besar” dengan penjagaan ketat dan peralatan canggih membuat masyarakat semakin kehilangan akses terhadap sumber bahan yang selama ini dapat diperoleh secara manual.

Menurut informasi dari sejumlah warga, kondisi tersebut menimbulkan kekecewaan dan rasa tidak dihargai, sebab aktivitas yang selama ini dilakukan masyarakat secara tradisional kini tak lagi memungkinkan.

Beberapa tokoh dari Pasir Talang meminta agar para pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut mempertimbangkan kembali dampak jangka panjang bagi generasi mendatang, baik secara ekonomi maupun ekologis.

Di sisi lain, seorang akademisi yang juga enggan disebutkan namanya meminta pemerintah dan aparat terkait segera mengambil langkah tegas untuk mengantisipasi kegiatan penambangan yang dianggap tidak memiliki kejelasan legalitas sebelum menimbulkan dampak yang lebih besar.

“Kawasan tersebut merupakan pintu masuk Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu yang berpusat di Pasia Talang serta berdekatan dengan Kota Adat Seribu Rumah Gadang di Koto Baru. Ini adalah situs sejarah dan kebanggaan masyarakat Solok Selatan yang wajib dilestarikan,” ujarnya menutup. (EA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *