BeritaHeadline

Mengembangkan Geowisata Air Terjun Sitapigagan Bonandolok sebagai Model Pelestarian Alam dan Budaya

44
×

Mengembangkan Geowisata Air Terjun Sitapigagan Bonandolok sebagai Model Pelestarian Alam dan Budaya

Sebarkan artikel ini
Air Terjun Sitapigagan Bonandolok.

SAMOSIR, JAYA POS — Terbukanya dan mulai berfungsinya sebagian ruas jalan Segitiga Emas Pertumbuhan yang menghubungkan Kabupaten Samosir, Dairi, dan Karo, khususnya hingga Desa Bonandolok, membawa dampak signifikan terhadap meningkatnya arus kunjungan wisatawan. Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya pengunjung, terutama generasi muda, yang mulai menjelajahi kawasan Sianjur Mula Mula—wilayah yang dikenal sebagai tanah asal peradaban Batak.

Dalam konteks perkembangan tersebut, pengembangan ekowisata dan geowisata Air Terjun Sitapigagan Bonandolok dinilai sangat strategis. Seorang perencana wilayah dan perdesaan sekaligus penggiat lingkungan dan pariwisata berbasis geopark menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan kawasan ini sebagai destinasi unggulan yang berwawasan lingkungan dan budaya.

Air Terjun Sitapigagan memiliki keunikan alam yang langka. Selain panorama air terjun yang alami, kawasan ini dilengkapi telaga alami yang menjadi habitat ikan endemik Ihan Batak, spesies yang populasinya kini semakin terbatas di Kawasan Danau Toba. Lebih dari itu, kawasan ini dikelilingi perkampungan Batak yang masih otentik, hamparan persawahan subur, serta memiliki nilai sakral yang hingga kini dijaga dan dihormati oleh masyarakat setempat.

Pengembangan geowisata yang memadukan keindahan alam, kekayaan budaya, keanekaragaman hayati, serta potensi agrowisata, diyakini dapat menjadi model pelestarian alam dan budaya yang efektif dan berkelanjutan. Keberadaan Ihan Batak di telaga Air Terjun Sitapigagan bukan hanya bernilai ekologis, tetapi juga memiliki makna spiritual dalam tradisi Batak, sehingga upaya konservasi menjadi keharusan mutlak.

Kelestarian telaga dan ekosistem air terjun harus dijaga secara ketat agar tidak tercemar dan tidak mengganggu habitat ikan endemik tersebut. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan pengelola wisata.

Tak kalah penting, hutan di kawasan hulu Air Terjun Sitapigagan memegang peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan kualitas air. Oleh sebab itu, konservasi hutan serta pengelolaan sampah dan limbah menjadi prasyarat utama dalam pengembangan ekowisata agar tidak menimbulkan degradasi lingkungan.

Pengembangan ekowisata Air Terjun Sitapigagan perlu dilakukan melalui perencanaan yang matang, terpadu, dan partisipatif, dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama. Pendekatan ini penting agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan nilai budaya.

Dari sisi aksesibilitas, penataan jalur masuk perlu disesuaikan dengan karakter kawasan konservasi, dengan pembagian akses sebagai berikut:

  • Pejalan kaki: jalur trekking dari jalan desa menuju lokasi air terjun sepanjang ±1,5 kilometer
  • Sepeda motor: akses hingga ±1 kilometer dari lokasi
  • Kendaraan roda empat: akses dibatasi hingga ±500 meter dari lokasi
  • Pengunjung melalui jalur air: perahu kayu dapat bersandar di dermaga yang telah disiapkan
  • Pemisahan area parkir berdasarkan jenis kendaraan dinilai penting untuk menjaga ketertiban, keamanan, dan kelestarian lanskap alam.

Untuk menjamin pengelolaan yang profesional dan berkelanjutan, Camat Sianjur Mula Mula didorong untuk bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Samosir guna mendorong Pemerintah Desa Bonandolok membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau komunitas pengelola wisata.

Melalui BUMDes, berbagai sektor dapat dikelola secara terpadu, mulai dari pemandu wisata, pengelolaan parkir, kuliner lokal, hingga sistem tiket masuk dan keluar. Dengan demikian, retribusi wisata dapat dikelola secara tertib sebagai Pendapatan Asli Desa (PAD) dan turut berkontribusi pada pendapatan Kabupaten Samosir.

Hasil analisis kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa pengembangan ekowisata Air Terjun Sitapigagan berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka lapangan kerja baru, serta menjadi sumber PAD yang stabil dan berkelanjutan.

Pengembangan Ekowisata Air Terjun Sitapigagan Bonandolok tidak semata bertujuan meningkatkan jumlah kunjungan wisata, tetapi juga menjadi model pelestarian alam dan budaya Batak yang berkelanjutan. Geowisata ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, konservasi lingkungan, dan nilai-nilai kearifan lokal.

Dengan pengelolaan yang tepat, Air Terjun Sitapigagan berpotensi menjadi contoh nasional pengembangan geowisata berbasis masyarakat, sekaligus memperkuat posisi Samosir sebagai bagian penting dari Geopark Kaldera Toba yang berkelas dunia.***

Oleh: Dr.Wilmar Eliaser Simandjorang,Dipl_Ec.,M.Si  (Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS_GI)/Penggiat Lingkungan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *