BeritaHeadline

Menjadi Pengayom Demi Masa Depan Perkumpulan

×

Menjadi Pengayom Demi Masa Depan Perkumpulan

Sebarkan artikel ini
Wilmar Eliaser Simandjorang

Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang

SAMOSIR, JAYA POS – Setiap organisasi lahir dari semangat kebersamaan. Di dalamnya ada harapan untuk saling menopang, menjaga persaudaraan, serta membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya. Namun dalam perjalanan waktu, tidak semua organisasi mampu menjaga semangat itu tetap sehat dan berkelanjutan.

Banyak perkumpulan sosial, komunitas adat, maupun ikatan marga perlahan melemah bukan karena kekurangan anggota atau minim gagasan, melainkan karena memudarnya budaya saling percaya dan memberi ruang. Pergantian kepemimpinan yang seharusnya menjadi momentum penyegaran, kerap berubah menjadi sumber ketegangan baru yang menghambat laju organisasi.

Pengurus baru sering kali belum sepenuhnya diberi ruang untuk bekerja dan mengambil keputusan. Di sisi lain, sebagian pengurus lama masih merasa perlu mengendalikan arah organisasi karena merasa paling berpengalaman, paling berjasa, atau paling memahami dinamika perkumpulan. Akibatnya, batas antara peran senior sebagai penasehat dan pengurus aktif menjadi kabur.

Di titik inilah organisasi mulai kehilangan keseimbangan. Kepemimpinan baru tidak benar-benar memiliki kemandirian, sementara bayang-bayang kepemimpinan lama tetap mendominasi jalannya organisasi. Situasi seperti ini bukan hanya memperlambat kerja organisasi, tetapi juga mematikan keberanian generasi baru untuk tumbuh dan berinovasi.

Padahal, organisasi yang sehat hanya dapat bertahan apabila ada keberanian untuk mempercayai estafet kepemimpinan. Setiap generasi harus diberi ruang untuk mengelola organisasi, mengambil keputusan, bahkan belajar dari kesalahan sebagai bagian dari proses pendewasaan.

Seorang senior sejatinya tidak kehilangan kehormatan ketika tidak lagi memegang kendali operasional. Justru di situlah letak kedewasaan kepemimpinan: ketika pengalaman tidak lagi digunakan untuk menguasai, melainkan untuk membimbing dan menguatkan.

Karena itu, organisasi membutuhkan perubahan cara pandang — dari budaya mengendalikan menuju budaya mengayomi.

Pengayom bukan berarti pasif atau tidak peduli. Pengayom tetap hadir, tetap memberi perhatian, tetap menjadi tempat bertanya dan meminta nasihat. Namun kehadirannya bukan untuk mengambil alih keputusan, melainkan memastikan generasi berikutnya mampu melangkah dengan percaya diri.

Dalam banyak organisasi, kemajuan justru lahir ketika senior berani memberi ruang kepada generasi muda. Ide-ide baru muncul, kreativitas berkembang, dan terobosan yang relevan dengan perkembangan zaman mulai tumbuh. Generasi muda tidak sekadar menjalankan tradisi lama, tetapi juga membawa energi baru untuk menjaga organisasi tetap hidup dan relevan.

Namun ruang seperti itu hanya akan tumbuh jika ada kepercayaan. Tanpa kepercayaan, yang muncul hanyalah rasa takut. Pengurus baru menjadi ragu melangkah karena merasa terus diawasi dan dikendalikan. Setiap keputusan harus selalu menoleh ke belakang, bukan menatap ke depan. Akibatnya, organisasi berjalan lamban dan kehilangan daya inovasi.

Dalam buku Radical Candor, Kim Scott menekankan bahwa organisasi yang sehat membutuhkan dua hal sekaligus: kepedulian dan keberanian untuk berkata jujur. Kepedulian tanpa kejujuran hanya melahirkan sikap sungkan yang berlebihan, sementara kejujuran tanpa kepedulian dapat menimbulkan luka dan perpecahan.

Dalam organisasi yang memiliki hubungan senior dan junior yang kuat, kepedulian tanpa keberanian sering berubah menjadi budaya diam. Banyak orang enggan mengoreksi demi menjaga perasaan atau takut dianggap tidak menghormati senior. Padahal, diam terhadap persoalan justru perlahan melemahkan organisasi dari dalam.

Sebaliknya, kejujuran yang disampaikan dengan bijak merupakan bentuk kepedulian tertinggi. Dengan sikap terbuka dan saling menghormati, organisasi dapat tetap berjalan di jalur yang sehat tanpa harus terjebak dalam konflik berkepanjangan.

Organisasi yang dewasa bukanlah organisasi yang bebas dari perbedaan pendapat, melainkan organisasi yang mampu mengelola perbedaan secara terbuka tanpa saling menjatuhkan. Dalam organisasi seperti itu, senior tetap dihormati sebagai sumber pengalaman dan kebijaksanaan, sementara generasi muda diberi ruang untuk bertumbuh dan memimpin.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar pergantian struktur kepengurusan, tetapi perubahan sikap dan pola pikir — terutama keberanian para senior untuk percaya.

Percaya bahwa generasi berikutnya mampu melanjutkan perjuangan. Percaya bahwa pengalaman tidak akan hilang meski tidak lagi mengendalikan organisasi secara langsung. Dan percaya bahwa organisasi justru akan tumbuh lebih kuat ketika diberi ruang untuk berkembang.

Di sinilah makna pengayom menemukan arti yang sesungguhnya. Pengayom adalah mereka yang tidak lagi sibuk mempertahankan kuasa, melainkan memastikan masa depan organisasi tetap hidup. Ia bukan lagi pusat dari setiap keputusan, tetapi menjadi sumber kebijaksanaan yang menjaga arah perjalanan organisasi.

Sebab pada akhirnya, kebesaran seorang pemimpin bukan diukur dari seberapa lama ia berkuasa, melainkan dari seberapa banyak ia mampu melahirkan pemimpin baru yang lebih berani, lebih kreatif, dan lebih bertanggung jawab.

Dan di situlah letak kemuliaan seorang pengayom: hadir bukan untuk menguasai, tetapi untuk menumbuhkan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *