TANGERANG, JAYA POS – Upaya memperkuat penguasaan teknologi baterai nasional terus mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Salah satunya ditunjukkan oleh Melya Dyanasari Sebayang, S.Si., M.T., dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang juga tengah menempuh Program Doktor Teknik Mesin di Universitas Sumatera Utara (USU), dengan mengikuti pelatihan “Battery School” yang diselenggarakan oleh National Battery Research Institute (NBRI) di Serpong, Tangerang, pada 14–15 Juli 2026.
Keikutsertaan Melya dalam pelatihan tersebut merupakan bagian dari penguatan kapasitas penelitian (riset) yang sedang dijalankannya di bidang teknologi baterai, khususnya pengembangan material katoda sebagai salah satu komponen utama baterai kendaraan listrik.
Saat ini, Melya sedang menyelesaikan penelitian doktoralnya di Program Studi Teknik Mesin USU di bawah bimbingan Prof. Timbangan Sembiring, Dr. Suprianto, dan Prof. Ikhwansyah Isranuri. Penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan teknologi baterai dalam negeri yang memanfaatkan potensi sumber daya mineral Indonesia.
Pelatihan “Battery School” yang diinisiasi NBRI mengusung tema “Battery Energy Storage System for Residential and Industry”. Program ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi peserta dalam memahami perkembangan teknologi penyimpanan energi berbasis baterai yang kini menjadi salah satu sektor strategis dalam mendukung transisi energi bersih dan pengembangan kendaraan listrik.
Pendiri NBRI, Prof. Dr. Evvy Kartini, yang juga menjadi pembimbing dalam kegiatan tersebut, memberikan kesempatan kepada Melya untuk mengikuti pelatihan tanpa dikenakan biaya. Sementara itu, peserta yang berasal dari kalangan industri mengikuti pelatihan dengan mekanisme berbayar.
Kebijakan tersebut, menurut penyelenggara, merupakan bagian dari upaya NBRI membangun kolaborasi yang lebih kuat antara perguruan tinggi, laboratorium riset independen, dan sektor industri. Sinergi tersebut dinilai penting untuk mempercepat pengembangan teknologi baterai nasional sekaligus menciptakan ekosistem riset dan inovasi yang berkelanjutan.
Selama dua hari pelatihan, peserta memperoleh materi komprehensif mengenai berbagai aspek teknologi baterai, mulai dari konsep Battery Energy Storage System (BESS) beserta implementasinya pada sektor perumahan maupun industri, hingga perkembangan teknologi baterai lithium-ion dan nickel-ion.
Selain mendapatkan pembekalan teori, peserta juga mengikuti sesi praktik yang meliputi proses perakitan (battery pack assembly), teknik pengemasan baterai, prosedur standardisasi produk baterai, hingga pengenalan sistem pengujian di laboratorium baterai sesuai standar yang berlaku.
Melalui pelatihan tersebut, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai tahapan pengembangan baterai, mulai dari material penyusun, proses manufaktur, pengujian performa, aspek keselamatan, hingga pengendalian mutu produk.
Bagi Melya, pengalaman mengikuti “Battery School” menjadi bekal penting dalam mendukung penelitian doktoralnya, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi dengan para peneliti dan pelaku industri baterai di Indonesia.
Sejalan dengan kebijakan pemerintah yang terus mendorong hilirisasi sumber daya mineral dan percepatan pengembangan industri kendaraan listrik, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan, dan riset dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing Indonesia di sektor teknologi energi baru.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan dunia industri seperti yang difasilitasi NBRI, diharapkan inovasi teknologi baterai dalam negeri dapat berkembang lebih cepat, sehingga mampu mendukung kemandirian industri nasional serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia di masa depan. (Mel)












