Oleh: WILMAR ELIASER SIMANDJORANG
SAMOSIR, JAYA POS – Dua puluh enam tahun lalu, ketika dunia memasuki milenium baru, umat manusia menyambutnya dengan dua perasaan yang berkelindan: kecemasan dan harapan.
Para futuris meramalkan perubahan besar yang akan membentuk kehidupan manusia. Salah satu prediksi yang paling terasa hari ini adalah dunia yang semakin terkoneksi oleh teknologi. Namun, di balik kemajuan tersebut, manusia juga diperkirakan akan kembali mencari jati diri, identitas budaya, serta keseimbangan dengan alam yang semakin tertekan.
Hari ini, kehidupan manusia berada dalam genggaman telepon pintar. Anak-anak belajar melalui YouTube dan berbagai platform digital. Petani memantau harga komoditas melalui aplikasi. Pelaku usaha memasarkan produknya melalui media sosial. Informasi bergerak dalam hitungan detik, melintasi batas wilayah dan negara.
Tetapi di sisi lain, kita menghadapi persoalan yang semakin nyata: sungai yang kian keruh, hutan yang terus menyusut, sampah yang menumpuk, kualitas udara yang menurun, serta perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Jika Megatrend 2000 telah membentuk dunia yang kita tempati sekarang, siapa yang akan menentukan arah perjalanan berikutnya menuju 2045?
Tahun ketika Indonesia genap berusia 100 tahun.
Budaya dan Lingkungan: Fondasi yang Tak Boleh Hilang
Mengapa budaya dan lingkungan?
Karena keduanya merupakan fondasi kehidupan yang sering kali baru kita sadari nilainya ketika mulai kehilangan.
Kita dapat membangun jalan tol, gedung pencakar langit, kawasan industri, dan kota-kota modern. Namun, jika anak-anak kita tidak lagi mengenal lagu daerah, tidak memahami makna gotong royong, tidak mengenal bahasa dan tradisi leluhurnya, maka pembangunan itu hanya melahirkan tubuh tanpa jiwa.
Demikian pula dengan pertumbuhan ekonomi.
Kita boleh mengejar investasi, meningkatkan produksi, dan membangun kawasan ekonomi baru. Tetapi jika air tanah semakin habis, hutan semakin gundul, dan danau serta sungai kehilangan daya dukungnya, maka sesungguhnya kita sedang menikmati pertumbuhan dengan cara meminjam masa depan anak cucu.
Generasi 1945 merebut dan mempertahankan kemerdekaan dengan bambu runcing dan keberanian.
Generasi Emas 2045 akan menghadapi ujian yang berbeda.
Musuhnya bukan lagi penjajahan bersenjata, melainkan derasnya arus informasi, hilangnya identitas, budaya konsumtif, kerusakan lingkungan, dan ketergantungan terhadap teknologi yang tidak selalu dibarengi dengan kebijaksanaan.
Pertanyaannya kemudian: bagaimana kita mempersiapkan generasi tersebut?
Bukan Menolak Teknologi, tetapi Mengawinkannya dengan Kearifan Lokal
Jawabannya bukan dengan kembali ke masa lalu dan menolak teknologi.
Justru sebaliknya.
Kita harus mempertemukan teknologi dengan budaya dan kearifan lokal.
Di bidang kebudayaan, kita harus berhenti berpikir bahwa tugas kita hanya “melestarikan”.
Melestarikan memang penting. Tetapi budaya tidak boleh hanya disimpan di museum, dipentaskan pada acara seremonial, lalu kembali dilupakan.
Ulos, tortor, tenun, kuliner tradisional, rumah adat, musik daerah, cerita rakyat, serta berbagai kekayaan budaya Nusantara harus masuk ke industri kreatif.
Budaya harus hadir dalam film, musik, gim, desain, fesyen, pariwisata, ekonomi digital, hingga kurikulum pendidikan.
Nilai-nilai seperti gotong royong, musyawarah, solidaritas, dan penghormatan terhadap alam juga harus diterjemahkan ke dalam kehidupan digital.
Sebab, jika budaya tidak hadir dalam ruang digital, maka ruang digital akan diisi oleh budaya lain.
Dan jika budaya tidak mampu beradaptasi dengan algoritma, bukan tidak mungkin ia akan tersingkir oleh algoritma.
Lingkungan Bukan Beban, Melainkan Aset Masa Depan
Demikian pula dengan lingkungan.
Kita harus mengubah cara pandang terhadap alam.
Hutan bukan semata-mata kumpulan pohon yang bisa ditebang untuk menghasilkan kayu. Hutan adalah penyimpan karbon, penjaga tata air, habitat keanekaragaman hayati, sekaligus sumber kehidupan masyarakat.
Tanah adat bukan sekadar aset yang dapat dijual ketika kebutuhan ekonomi datang. Tanah adalah ruang kehidupan yang harus dikelola secara berkelanjutan.
Ekowisata, pertanian organik, agroforestri, energi terbarukan, hingga ekonomi hijau dapat menjadi jalan tengah antara kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Cara bertani yang diwariskan nenek moyang pun tidak harus dipertentangkan dengan teknologi modern.
Kearifan lokal dapat dikawinkan dengan drone, sensor tanah, kecerdasan buatan, sistem irigasi pintar, energi surya, dan teknologi digital.
Inilah yang semestinya kita dorong: teknologi berbasis kearifan lokal.
Teknologi tidak harus menghapus tradisi. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat tradisi dan menjaga alam.
Pendidikan Adalah Titik Awal
Namun, semua itu tidak akan berjalan tanpa kesadaran.
Kesadaran harus dibangun sejak dini.
Anak-anak harus memahami bahwa lingkungan bukan sekadar sesuatu yang diwariskan oleh orang tua.
Lingkungan adalah titipan dari anak cucu.
Cara berpikir seperti inilah yang harus ditanamkan di sekolah, keluarga, komunitas, desa, hingga ruang-ruang publik.
Lalu, siapa yang akan melanjutkannya?
Bukan hanya pemerintah.
Bukan hanya aktivis lingkungan.
Bukan pula hanya akademisi atau budayawan.
Yang akan melanjutkan adalah guru yang masih mau mengajak murid menanam pohon.
Pemuda desa yang membuat konten tentang budaya lokal di TikTok dan berbagai platform digital.
Kepala desa yang berani menolak kegiatan yang mengancam sumber mata air karena memahami dampaknya bagi masyarakat.
Pengusaha yang bersedia menggunakan bahan ramah lingkungan meskipun biaya produksinya lebih tinggi.
Petani yang mulai menerapkan teknologi tanpa meninggalkan pengetahuan leluhur.
Dan tentu saja, kita semua yang memilih untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Negara Membuat Kebijakan, Masyarakat Menjaga
Pemerintah memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan kebijakan, regulasi, pendidikan, dan insentif yang mendorong ekonomi hijau serta pelestarian budaya.
Tetapi kebijakan tidak akan berarti tanpa pelaksanaan di lapangan.
Masyarakat memiliki peran untuk menjaga lingkungan, merawat budaya, mengawasi pembangunan, dan memastikan bahwa sumber daya alam tidak dikorbankan demi keuntungan jangka pendek.
Negara dan masyarakat harus berjalan bersama.
Tanpa keduanya, Megatrend 2000 hanya akan menjadi catatan sejarah dan Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi slogan.
Dari Generasi yang Mengejar Menjadi Generasi yang Menyiapkan
Tahun 2000, manusia banyak membuat ramalan tentang masa depan.
Tahun 2026, kita sedang menjalani dan menguji ramalan tersebut.
Dan pada 2045, 19 tahun dari sekarang, anak-anak kita akan menjadi saksi sekaligus penilai atas apa yang kita lakukan hari ini.
Mereka mungkin tidak akan bertanya berapa kilometer jalan yang telah kita bangun.
Mereka mungkin tidak akan menghitung berapa banyak gedung pencakar langit yang telah kita dirikan.
Pertanyaan mereka justru akan jauh lebih sederhana dan mendasar:
Apakah budaya kami masih hidup?
Apakah air kami masih jernih?
Apakah hutan kami masih ada?
Apakah udara kami masih layak dihirup?
Jika jawabannya “ya”, berarti kita telah menjalankan tugas sebagai generasi yang bertanggung jawab.
Namun jika jawabannya “tidak”, maka sejarah akan mencatat kita sebagai generasi yang hanya pandai menghabiskan, tetapi gagal menyiapkan.
Karena itu, sudah saatnya kita mengubah cara berpikir.
Dari generasi yang hanya mengejar menjadi generasi yang menyiapkan.
Menyiapkan budaya agar tetap hidup.
Menyiapkan lingkungan agar tetap lestari.
Menyiapkan teknologi agar berpihak pada manusia.
Dan yang paling penting, menyiapkan masa depan agar Indonesia benar-benar menjadi bangsa yang maju tanpa kehilangan jati dirinya.
Untuk Indonesia Emas 2045.












