Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Gubuk Kayu, Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula, Samosir
Angin dari Danau Toba merayap perlahan menuju gubuk kayu di lereng Dolok Pusuk Buhit. Dari tempat ini, danau terbentang luas, birunya menenangkan mata dan mengistirahatkan pikiran. Namun, jika kita bersedia duduk lebih lama, berhenti sejenak dari kebiasaan memotret lalu pergi, ada sesuatu yang tak bisa disembunyikan oleh keindahannya: luka.
Air yang dahulu memantulkan langit dengan jernih, di sejumlah teluk kini menghadapi tekanan pencemaran. Hutan yang semestinya menjadi benteng kehidupan dan penyangga air di punggung kaldera, di beberapa tempat telah kehilangan kerapatannya. Alam masih menyuguhkan keindahan, tetapi pada saat yang sama mengirimkan peringatan. Pertanyaannya, apakah kita masih bersedia mendengarkan?
Di gubuk kayu itulah saya membaca buku Iman Kristen dan Filsafat Barat V: Thales–Renaissance karya Jadi S. Lima, terbitan Momentum. Buku tebal yang saya bawa dari Bekasi ke Samosir itu membawa saya menyusuri pemikiran para filsuf Yunani kuno, hingga akhirnya berjumpa dengan Diogenes dari Sinope, seorang filsuf yang memilih hidup dalam tong dan menantang kemewahan serta kepalsuan zamannya.
Kisah-kisah tentang Diogenes antara lain dicatat Diogenes Laertius dalam Lives and Opinions of Eminent Philosophers, Buku VI. Ia dikenal dengan julukan Kunikos, yang berarti Si Anjing, karena cara hidupnya yang keras, terus terang, dan menolak tunduk pada kepantasan sosial yang dianggapnya semu.
Orang mengenang jawabannya ketika Alexander Agung, penguasa besar pada masanya, mendatanginya dan menawarkan apa saja yang diinginkannya. Diogenes hanya meminta agar Alexander menyingkir karena menghalangi sinar matahari.
Namun, ada kisah lain yang tampak sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang jauh lebih dalam.
Suatu hari, Diogenes melihat seorang anak kecil minum air menggunakan kedua tangannya. Seketika itu juga, ia membuang mangkuk miliknya. Jika seorang anak dapat minum tanpa mangkuk, pikirnya, mengapa ia harus terus membawa benda yang ternyata tidak dibutuhkannya? Anak itu telah mengajarinya sebuah pelajaran tentang kesederhanaan.
Diogenes tidak sekadar membuang sebuah benda. Ia sedang menguji batas antara kebutuhan dan keinginan, antara apa yang sungguh diperlukan untuk hidup dan apa yang kita pertahankan hanya karena terbiasa memilikinya.
Filsuf dan sejarawan Pierre Hadot, yang pernah mengajar di Collège de France, menjelaskan bahwa filsafat pada zaman kuno bukan semata-mata kumpulan gagasan untuk diperdebatkan. Filsafat juga merupakan jalan hidup, sebuah latihan untuk membentuk diri. Dalam tradisi Sinis, salah satu tujuannya ialah autarkeia, yakni kecukupan dan kemandirian dalam menjalani kehidupan.
Buku Jadi S. Lima juga mengajak pembaca melihat kemiripan tertentu antara gaya hidup para filsuf Sinis yang berkeliling dan pelayanan Yesus bersama murid-murid-Nya. David E. Aune dan John Dominic Crossan, yang pemikirannya dibahas dalam konteks tersebut, membantu membuka ruang perbandingan mengenai kehidupan para pengajar keliling pada zamannya.
Namun, kemiripan gaya hidup tidak serta-merta berarti kesamaan tujuan. Diogenes menempuh jalan kesederhanaan untuk mencapai kebebasan dari ketergantungan terhadap orang lain dan konvensi sosial. Dalam iman Kristen, kesederhanaan dan pelepasan diri menemukan maknanya dalam ketaatan kepada Allah serta kasih kepada sesama.
Dari gubuk kayu di Pusuk Buhit, kisah yang berusia ribuan tahun itu terasa begitu dekat dengan kehidupan kita sekarang. Sebab, persoalan manusia modern bukan semata-mata karena kekurangan sesuatu, melainkan karena keinginan yang terus tumbuh, bahkan ketika segala yang dibutuhkan sebenarnya telah tersedia.
Danau Toba: Mangkuk Besar Kehidupan
Pusuk Buhit bukan sekadar bentang alam yang menjulang di sisi Danau Toba. Dalam ingatan dan tradisi Batak, tempat ini memiliki kedudukan penting sebagai ruang asal-usul dan titik awal perjalanan leluhur. Dari kawasan inilah kisah tentang kehidupan, identitas, dan penyebaran orang Batak diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam perenungan saya, Danau Toba adalah mangkuk besar yang menampung kehidupan itu. Selama ribuan tahun, kawasan ini menjadi rumah bagi air, hutan, manusia, satwa, serta berbagai bentuk kehidupan. Danau menampung aliran sungai, menerima hujan, menopang penghidupan, dan menyimpan kisah-kisah yang diwariskan melalui bahasa, adat, serta doa.
Danau Toba tidak pernah menuntut manusia untuk membalas segala yang diberikannya. Ia menyediakan ruang bagi kehidupan. Namun, kemurahan alam bukanlah izin bagi manusia untuk mengambil tanpa batas.
Kini, mangkuk besar itu menghadapi tekanan yang tidak ringan. Persoalannya bukan karena Danau Toba terlalu kecil untuk menampung kehidupan, melainkan karena manusia kerap bertindak seolah-olah daya dukung alam tidak memiliki batas.
Hutan di sejumlah kawasan tangkapan air mengalami perubahan tutupan lahan. Ketika pepohonan dan vegetasi alami berkurang, kemampuan tanah menahan air dan mengikat lapisan tanah dapat melemah. Di kawasan yang rentan, keadaan ini meningkatkan risiko erosi dan longsor, terutama saat hujan deras.
Di sisi lain, kegiatan di perairan dan sekitar danau, termasuk budidaya ikan dengan keramba jaring apung serta pembuangan limbah yang tidak dikelola dengan baik, dapat menambah beban pencemaran. Dampaknya tidak selalu sama di setiap lokasi, tetapi risikonya nyata dan memerlukan pemantauan serta pengelolaan yang bertanggung jawab.
Kita terus menambah bangunan di tepi danau, memperluas kegiatan ekonomi, dan meningkatkan pemanfaatan sumber daya. Semua itu tidak serta-merta salah. Masyarakat membutuhkan pekerjaan, pendapatan, infrastruktur, dan kesempatan untuk hidup lebih sejahtera.
Yang menjadi persoalan ialah ketika pembangunan berjalan tanpa menghitung batas ekologis, ketika keuntungan jangka pendek lebih diutamakan daripada keberlanjutan, dan ketika kerusakan dianggap sebagai harga yang wajar untuk dibayar demi pertumbuhan.
Kita seperti orang yang terus menambah mangkuk, piring, dan sendok di atas meja, padahal persoalan sesungguhnya bukan kekurangan peralatan makan. Yang rusak justru hubungan kita dengan sumber air, tanah, dan kehidupan yang memungkinkan kita tetap duduk di meja itu.
Kita sibuk menambah alat untuk menikmati kehidupan, tetapi lupa merawat sumber kehidupan itu sendiri.
Ketika Komunitas Menjadi Keruh
Apa yang terjadi pada Danau Toba sesungguhnya dapat terjadi pula dalam kehidupan sosial kita.
Parsadaan, persekutuan, komunitas adat, gereja, punguan, dan berbagai organisasi kemasyarakatan adalah mangkuk-mangkuk kehidupan bersama. Di dalamnya, manusia berkumpul, mengenali identitas, mewariskan nilai, saling menolong, dan membangun masa depan.
Komunitas seharusnya menjadi tempat seseorang merasa diterima, bukan tempat ia harus terus-menerus membuktikan dirinya. Organisasi seharusnya menjadi ruang pengabdian, bukan panggung untuk mempertontonkan kekuasaan. Jabatan semestinya menjadi sarana pelayanan, bukan alat untuk menuntut penghormatan.
Namun, tidak jarang kita memperlakukan komunitas dengan cara yang sama seperti memperlakukan alam: mengambil lebih banyak daripada yang kita berikan.
Ketika muncul masalah, kita buru-buru menyimpulkan bahwa organisasi kekurangan aturan, kekurangan jabatan, kekurangan acara, atau kekurangan dana. Lalu kita menambah semuanya. Kita membangun struktur yang semakin rumit, memperbanyak pertemuan, dan menciptakan lebih banyak posisi.
Padahal, sumber persoalannya belum tentu terletak pada kekurangan perangkat organisasi. Bisa jadi yang hilang adalah kepercayaan, kejujuran, kesediaan mendengar, dan ketulusan untuk melayani.
Komunitas menjadi keruh ketika setiap orang ingin paling didengar, paling dihormati, dan paling menentukan. Ia kehilangan kejernihan ketika kepentingan pribadi menyamar sebagai kepentingan bersama.
Danau yang tercemar membutuhkan pemulihan ekosistem. Komunitas yang kehilangan kepercayaan membutuhkan pemulihan hubungan. Keduanya tidak cukup diselesaikan dengan menambah sesuatu dari luar. Keduanya menuntut perubahan dalam cara kita memperlakukan kehidupan.
Kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kita sedang membangun komunitas yang semakin kuat, atau sekadar memperbesar wadah untuk menampung ambisi masing-masing?
Mengelola, Merawat, dan Memulihkan
Di gubuk kayu itu, di hadapan bentangan Danau Toba yang menyimpan keindahan sekaligus kecemasan, saya merenungkan tiga kata sederhana: mengelola, merawat, dan memulihkan.
Ketiganya terdengar biasa. Namun, jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, ketiganya dapat mengubah cara kita memandang alam dan sesama.
Pertama, mengelola bukan berarti menguasai.
Dalam Kejadian 2:15, manusia ditempatkan di Taman Eden untuk mengusahakan dan memeliharanya. Teks ini mengandung pesan mendasar: manusia memiliki tanggung jawab terhadap bumi, bukan kebebasan tanpa batas untuk mengeksploitasinya.
Richard Bauckham, melalui bukunya The Bible and Ecology, mengajak pembaca memahami kembali hubungan manusia dengan seluruh ciptaan dalam terang iman Kristen. Alam bukan sekadar latar bagi perjalanan manusia, melainkan bagian dari ciptaan yang memiliki nilai dan harus diperlakukan dengan tanggung jawab.
Mengelola Danau Toba berarti memastikan pemanfaatannya tidak menghancurkan kemampuan danau dan ekosistem sekitarnya untuk menopang kehidupan. Artinya, pembangunan harus memperhitungkan daya dukung lingkungan, tata ruang harus ditegakkan, limbah harus dikendalikan, dan kawasan tangkapan air harus dilindungi.
Mengelola komunitas pun memiliki prinsip serupa. Pemimpin bukan pemilik organisasi. Ia menerima mandat untuk melayani, menjaga kepercayaan, dan memastikan kepentingan bersama tidak dikorbankan demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Kedua, merawat berarti menjaga kejujuran.
Merawat danau bukan sekadar mengadakan kegiatan bersih-bersih, menanam pohon, atau memasang papan larangan. Semua itu penting, tetapi perawatan yang sungguh-sungguh harus menyentuh penyebab kerusakan.
Kita perlu menjaga hutan dan daerah resapan air, memulihkan lahan yang rusak, mengendalikan sumber pencemaran, serta memastikan setiap kegiatan ekonomi berjalan sesuai dengan ketentuan lingkungan. Kita juga membutuhkan data yang terbuka, pengawasan yang konsisten, dan keberanian untuk memperbaiki kebijakan yang terbukti tidak memadai.
Kejujuran ekologis dimulai ketika kita berhenti menutupi kerusakan hanya karena takut kehilangan keuntungan atau citra baik.
Hal yang sama berlaku dalam komunitas. Merawat persekutuan berarti membangun hubungan yang jujur, menghormati perbedaan, membuka ruang koreksi, dan berani mengakui kesalahan. Kasih tidak berarti membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa kritik. Justru karena peduli, kita berani menyampaikan kebenaran dengan cara yang bertanggung jawab.
Komunitas yang sehat bukan komunitas yang tidak pernah mengalami konflik, melainkan komunitas yang mampu menghadapi konflik tanpa kehilangan rasa hormat dan tujuan bersama.
Ketiga, memulihkan berarti bersedia mengosongkan diri.
Dalam Filipi 2:7, Rasul Paulus menggambarkan Kristus yang mengosongkan diri-Nya. Dalam tradisi teologi Kristen, gagasan ini dikenal sebagai kenosis. Maknanya tidak sesederhana membuang segala yang dimiliki, tetapi berkaitan dengan kerendahan hati, kesediaan mengambil rupa seorang hamba, dan pengorbanan demi kebaikan orang lain.
Di sinilah kisah Diogenes dan jalan pemulihan yang kita perlukan bertemu sekaligus berpisah.
Diogenes membuang mangkuknya setelah menyadari bahwa ia dapat hidup dengan lebih sedikit. Tindakan itu merupakan kritik terhadap kebutuhan yang diciptakan oleh kebiasaan dan kemewahan.
Namun, bagi kita yang bergumul dengan masa depan Danau Toba dan kehidupan bersama, pelajaran itu perlu dibawa lebih jauh. Kita tidak cukup hanya mengurangi benda yang dimiliki. Kita perlu mengurangi keserakahan yang mengendalikan cara kita memiliki dan menggunakan sesuatu.
Kita harus bersedia melepaskan keuntungan yang diperoleh dengan merusak alam, kekuasaan yang dipertahankan dengan mengorbankan orang lain, dan kebanggaan yang membuat kita menolak koreksi.
Mengosongkan diri bukan berarti berhenti membangun. Bukan pula menolak kemajuan atau menuntut masyarakat hidup dalam kekurangan. Sebaliknya, kita perlu membedakan kemajuan yang meningkatkan kesejahteraan dengan pertumbuhan yang menghabiskan sumber kehidupan.
Pemulihan Danau Toba tidak menuntut masyarakat berhenti mencari nafkah. Pemulihan menuntut agar penghidupan dibangun dengan cara yang tidak merampas masa depan generasi berikutnya.
Pemulihan komunitas juga tidak menuntut semua orang kehilangan pendapat atau kedudukan. Pemulihan menuntut agar jabatan tidak lebih penting daripada pelayanan, perbedaan tidak lebih besar daripada persaudaraan, dan kepentingan pribadi tidak mengalahkan kebaikan bersama.
Membuang Keserakahan, Menyelamatkan Kehidupan
Dari gubuk kayu di Pusuk Buhit, saya semakin memahami bahwa mangkuk bukanlah musuh kehidupan. Mangkuk diperlukan untuk menampung air. Organisasi diperlukan untuk menata kerja bersama. Aturan diperlukan untuk menjaga keadilan. Teknologi dan pembangunan diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Yang menjadi persoalan bukan keberadaan mangkuk, melainkan ketika kita lebih sibuk menambah mangkuk daripada menjaga sumber airnya.
Bukan organisasi yang harus kita singkirkan, melainkan kesombongan yang merusak tujuan organisasi. Bukan pembangunan yang harus kita hentikan, melainkan cara membangun yang mengabaikan batas alam dan hak generasi mendatang.
Kita membutuhkan kecukupan, bukan kemiskinan yang dipaksakan. Kita membutuhkan kesederhanaan, bukan kemunduran. Kita membutuhkan pertumbuhan, tetapi pertumbuhan yang tahu kapan harus berhenti mengambil dan mulai memulihkan.
Diogenes membuang mangkuk agar dirinya tidak bergantung pada benda yang sebenarnya tidak ia perlukan. Kita, sebaliknya, perlu belajar melepaskan hasrat yang membuat kita terus mengambil dari alam dan terus menuntut dari sesama.
Diogenes membuang mangkuk demi kebebasan dirinya. Kita perlu membuang keserakahan demi keberlangsungan hidup bersama.
Di Danau Toba, pelajaran itu harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata: melindungi hutan, memulihkan kawasan yang rusak, menjaga kualitas air, mengendalikan pencemaran, menegakkan aturan secara adil, dan melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Pemulihan tidak akan berhasil jika hanya menjadi slogan, seremoni, atau bahan pidato yang terdengar indah.
Di dalam komunitas, pelajaran itu berarti membangun kepemimpinan yang rendah hati, menghidupkan kembali semangat gotong royong, merawat kepercayaan, dan mengembalikan organisasi kepada tujuan awalnya: menjadi wadah bagi kehidupan bersama.
Kita tidak dapat meminta danau terus memberi jika kita tidak bersedia menjaga. Kita tidak dapat mengharapkan komunitas tetap utuh jika setiap orang hanya ingin menerima. Kita tidak dapat mewariskan masa depan yang baik kepada anak cucu jika hari ini kita menghabiskan segala sesuatu untuk memuaskan keinginan sendiri.
Angin Danau Toba masih berembus di sekitar gubuk kayu di Pusuk Buhit. Dari kejauhan, air tampak membentang tenang. Namun, ketenangan itu tidak boleh membuat kita lengah. Keindahan bukan jaminan bahwa alam baik-baik saja. Begitu pula keramaian sebuah komunitas bukan bukti bahwa persaudaraan di dalamnya masih sehat.
Barangkali, kebijaksanaan terbesar bukan terletak pada kemampuan kita memiliki lebih banyak, melainkan pada keberanian untuk mengenali batas, mengakui kesalahan, dan mengubah cara hidup.
Dari Dolok Pusuk Buhit, doa dan harapan saya sederhana: semoga anak cucu kita kelak masih dapat merasakan kesejukan angin dari Danau Toba, menyaksikan air yang terjaga kejernihannya, dan hidup dalam komunitas yang saling menguatkan.
Semoga mereka tidak hanya mewarisi danau, hutan, adat, dan nama leluhur, tetapi juga mewarisi kebijaksanaan untuk menjaga semuanya.
Sebab, pada akhirnya, yang harus kita selamatkan bukan sekadar mangkuknya, melainkan kehidupan yang ditampungnya.
Dan mungkin, sebelum meminta alam memberi lebih banyak, kita perlu belajar bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita merasa cukup untuk mulai merawat apa yang telah diberikan kepada kita. ***
Dolok Pusuk Buhit dan Mangkuk yang Dibuang
Belajar Merasa Cukup, Merawat Danau Toba, dan Memulihkan Kehidupan Bersama
Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Gubuk Kayu, Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula, Samosir
Angin dari Danau Toba merayap perlahan menuju gubuk kayu di lereng Dolok Pusuk Buhit. Dari tempat ini, danau terbentang luas, birunya menenangkan mata dan mengistirahatkan pikiran. Namun, jika kita bersedia duduk lebih lama, berhenti sejenak dari kebiasaan memotret lalu pergi, ada sesuatu yang tak bisa disembunyikan oleh keindahannya: luka.
Air yang dahulu memantulkan langit dengan jernih, di sejumlah teluk kini menghadapi tekanan pencemaran. Hutan yang semestinya menjadi benteng kehidupan dan penyangga air di punggung kaldera, di beberapa tempat telah kehilangan kerapatannya. Alam masih menyuguhkan keindahan, tetapi pada saat yang sama mengirimkan peringatan. Pertanyaannya, apakah kita masih bersedia mendengarkan?
Di gubuk kayu itulah saya membaca buku Iman Kristen dan Filsafat Barat V: Thales–Renaissance karya Jadi S. Lima, terbitan Momentum. Buku tebal yang saya bawa dari Bekasi ke Samosir itu membawa saya menyusuri pemikiran para filsuf Yunani kuno, hingga akhirnya berjumpa dengan Diogenes dari Sinope, seorang filsuf yang memilih hidup dalam tong dan menantang kemewahan serta kepalsuan zamannya.
Kisah-kisah tentang Diogenes antara lain dicatat Diogenes Laertius dalam Lives and Opinions of Eminent Philosophers, Buku VI. Ia dikenal dengan julukan Kunikos, yang berarti Si Anjing, karena cara hidupnya yang keras, terus terang, dan menolak tunduk pada kepantasan sosial yang dianggapnya semu.
Orang mengenang jawabannya ketika Alexander Agung, penguasa besar pada masanya, mendatanginya dan menawarkan apa saja yang diinginkannya. Diogenes hanya meminta agar Alexander menyingkir karena menghalangi sinar matahari.
Namun, ada kisah lain yang tampak sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang jauh lebih dalam.
Suatu hari, Diogenes melihat seorang anak kecil minum air menggunakan kedua tangannya. Seketika itu juga, ia membuang mangkuk miliknya. Jika seorang anak dapat minum tanpa mangkuk, pikirnya, mengapa ia harus terus membawa benda yang ternyata tidak dibutuhkannya? Anak itu telah mengajarinya sebuah pelajaran tentang kesederhanaan.
Diogenes tidak sekadar membuang sebuah benda. Ia sedang menguji batas antara kebutuhan dan keinginan, antara apa yang sungguh diperlukan untuk hidup dan apa yang kita pertahankan hanya karena terbiasa memilikinya.
Filsuf dan sejarawan Pierre Hadot, yang pernah mengajar di Collège de France, menjelaskan bahwa filsafat pada zaman kuno bukan semata-mata kumpulan gagasan untuk diperdebatkan. Filsafat juga merupakan jalan hidup, sebuah latihan untuk membentuk diri. Dalam tradisi Sinis, salah satu tujuannya ialah autarkeia, yakni kecukupan dan kemandirian dalam menjalani kehidupan.
Buku Jadi S. Lima juga mengajak pembaca melihat kemiripan tertentu antara gaya hidup para filsuf Sinis yang berkeliling dan pelayanan Yesus bersama murid-murid-Nya. David E. Aune dan John Dominic Crossan, yang pemikirannya dibahas dalam konteks tersebut, membantu membuka ruang perbandingan mengenai kehidupan para pengajar keliling pada zamannya.
Namun, kemiripan gaya hidup tidak serta-merta berarti kesamaan tujuan. Diogenes menempuh jalan kesederhanaan untuk mencapai kebebasan dari ketergantungan terhadap orang lain dan konvensi sosial. Dalam iman Kristen, kesederhanaan dan pelepasan diri menemukan maknanya dalam ketaatan kepada Allah serta kasih kepada sesama.
Dari gubuk kayu di Pusuk Buhit, kisah yang berusia ribuan tahun itu terasa begitu dekat dengan kehidupan kita sekarang. Sebab, persoalan manusia modern bukan semata-mata karena kekurangan sesuatu, melainkan karena keinginan yang terus tumbuh, bahkan ketika segala yang dibutuhkan sebenarnya telah tersedia.
Danau Toba: Mangkuk Besar Kehidupan
Pusuk Buhit bukan sekadar bentang alam yang menjulang di sisi Danau Toba. Dalam ingatan dan tradisi Batak, tempat ini memiliki kedudukan penting sebagai ruang asal-usul dan titik awal perjalanan leluhur. Dari kawasan inilah kisah tentang kehidupan, identitas, dan penyebaran orang Batak diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam perenungan saya, Danau Toba adalah mangkuk besar yang menampung kehidupan itu. Selama ribuan tahun, kawasan ini menjadi rumah bagi air, hutan, manusia, satwa, serta berbagai bentuk kehidupan. Danau menampung aliran sungai, menerima hujan, menopang penghidupan, dan menyimpan kisah-kisah yang diwariskan melalui bahasa, adat, serta doa.
Danau Toba tidak pernah menuntut manusia untuk membalas segala yang diberikannya. Ia menyediakan ruang bagi kehidupan. Namun, kemurahan alam bukanlah izin bagi manusia untuk mengambil tanpa batas.
Kini, mangkuk besar itu menghadapi tekanan yang tidak ringan. Persoalannya bukan karena Danau Toba terlalu kecil untuk menampung kehidupan, melainkan karena manusia kerap bertindak seolah-olah daya dukung alam tidak memiliki batas.
Hutan di sejumlah kawasan tangkapan air mengalami perubahan tutupan lahan. Ketika pepohonan dan vegetasi alami berkurang, kemampuan tanah menahan air dan mengikat lapisan tanah dapat melemah. Di kawasan yang rentan, keadaan ini meningkatkan risiko erosi dan longsor, terutama saat hujan deras.
Di sisi lain, kegiatan di perairan dan sekitar danau, termasuk budidaya ikan dengan keramba jaring apung serta pembuangan limbah yang tidak dikelola dengan baik, dapat menambah beban pencemaran. Dampaknya tidak selalu sama di setiap lokasi, tetapi risikonya nyata dan memerlukan pemantauan serta pengelolaan yang bertanggung jawab.
Kita terus menambah bangunan di tepi danau, memperluas kegiatan ekonomi, dan meningkatkan pemanfaatan sumber daya. Semua itu tidak serta-merta salah. Masyarakat membutuhkan pekerjaan, pendapatan, infrastruktur, dan kesempatan untuk hidup lebih sejahtera.
Yang menjadi persoalan ialah ketika pembangunan berjalan tanpa menghitung batas ekologis, ketika keuntungan jangka pendek lebih diutamakan daripada keberlanjutan, dan ketika kerusakan dianggap sebagai harga yang wajar untuk dibayar demi pertumbuhan.
Kita seperti orang yang terus menambah mangkuk, piring, dan sendok di atas meja, padahal persoalan sesungguhnya bukan kekurangan peralatan makan. Yang rusak justru hubungan kita dengan sumber air, tanah, dan kehidupan yang memungkinkan kita tetap duduk di meja itu.
Kita sibuk menambah alat untuk menikmati kehidupan, tetapi lupa merawat sumber kehidupan itu sendiri.
Ketika Komunitas Menjadi Keruh
Apa yang terjadi pada Danau Toba sesungguhnya dapat terjadi pula dalam kehidupan sosial kita.
Parsadaan, persekutuan, komunitas adat, gereja, punguan, dan berbagai organisasi kemasyarakatan adalah mangkuk-mangkuk kehidupan bersama. Di dalamnya, manusia berkumpul, mengenali identitas, mewariskan nilai, saling menolong, dan membangun masa depan.
Komunitas seharusnya menjadi tempat seseorang merasa diterima, bukan tempat ia harus terus-menerus membuktikan dirinya. Organisasi seharusnya menjadi ruang pengabdian, bukan panggung untuk mempertontonkan kekuasaan. Jabatan semestinya menjadi sarana pelayanan, bukan alat untuk menuntut penghormatan.
Namun, tidak jarang kita memperlakukan komunitas dengan cara yang sama seperti memperlakukan alam: mengambil lebih banyak daripada yang kita berikan.
Ketika muncul masalah, kita buru-buru menyimpulkan bahwa organisasi kekurangan aturan, kekurangan jabatan, kekurangan acara, atau kekurangan dana. Lalu kita menambah semuanya. Kita membangun struktur yang semakin rumit, memperbanyak pertemuan, dan menciptakan lebih banyak posisi.
Padahal, sumber persoalannya belum tentu terletak pada kekurangan perangkat organisasi. Bisa jadi yang hilang adalah kepercayaan, kejujuran, kesediaan mendengar, dan ketulusan untuk melayani.
Komunitas menjadi keruh ketika setiap orang ingin paling didengar, paling dihormati, dan paling menentukan. Ia kehilangan kejernihan ketika kepentingan pribadi menyamar sebagai kepentingan bersama.
Danau yang tercemar membutuhkan pemulihan ekosistem. Komunitas yang kehilangan kepercayaan membutuhkan pemulihan hubungan. Keduanya tidak cukup diselesaikan dengan menambah sesuatu dari luar. Keduanya menuntut perubahan dalam cara kita memperlakukan kehidupan.
Kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kita sedang membangun komunitas yang semakin kuat, atau sekadar memperbesar wadah untuk menampung ambisi masing-masing?
Mengelola, Merawat, dan Memulihkan
Di gubuk kayu itu, di hadapan bentangan Danau Toba yang menyimpan keindahan sekaligus kecemasan, saya merenungkan tiga kata sederhana: mengelola, merawat, dan memulihkan.
Ketiganya terdengar biasa. Namun, jika dijalankan dengan sungguh-sungguh, ketiganya dapat mengubah cara kita memandang alam dan sesama.
Pertama, mengelola bukan berarti menguasai.
Dalam Kejadian 2:15, manusia ditempatkan di Taman Eden untuk mengusahakan dan memeliharanya. Teks ini mengandung pesan mendasar: manusia memiliki tanggung jawab terhadap bumi, bukan kebebasan tanpa batas untuk mengeksploitasinya.
Richard Bauckham, melalui bukunya The Bible and Ecology, mengajak pembaca memahami kembali hubungan manusia dengan seluruh ciptaan dalam terang iman Kristen. Alam bukan sekadar latar bagi perjalanan manusia, melainkan bagian dari ciptaan yang memiliki nilai dan harus diperlakukan dengan tanggung jawab.
Mengelola Danau Toba berarti memastikan pemanfaatannya tidak menghancurkan kemampuan danau dan ekosistem sekitarnya untuk menopang kehidupan. Artinya, pembangunan harus memperhitungkan daya dukung lingkungan, tata ruang harus ditegakkan, limbah harus dikendalikan, dan kawasan tangkapan air harus dilindungi.
Mengelola komunitas pun memiliki prinsip serupa. Pemimpin bukan pemilik organisasi. Ia menerima mandat untuk melayani, menjaga kepercayaan, dan memastikan kepentingan bersama tidak dikorbankan demi kepentingan pribadi atau kelompok.
Kedua, merawat berarti menjaga kejujuran.
Merawat danau bukan sekadar mengadakan kegiatan bersih-bersih, menanam pohon, atau memasang papan larangan. Semua itu penting, tetapi perawatan yang sungguh-sungguh harus menyentuh penyebab kerusakan.
Kita perlu menjaga hutan dan daerah resapan air, memulihkan lahan yang rusak, mengendalikan sumber pencemaran, serta memastikan setiap kegiatan ekonomi berjalan sesuai dengan ketentuan lingkungan. Kita juga membutuhkan data yang terbuka, pengawasan yang konsisten, dan keberanian untuk memperbaiki kebijakan yang terbukti tidak memadai.
Kejujuran ekologis dimulai ketika kita berhenti menutupi kerusakan hanya karena takut kehilangan keuntungan atau citra baik.
Hal yang sama berlaku dalam komunitas. Merawat persekutuan berarti membangun hubungan yang jujur, menghormati perbedaan, membuka ruang koreksi, dan berani mengakui kesalahan. Kasih tidak berarti membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa kritik. Justru karena peduli, kita berani menyampaikan kebenaran dengan cara yang bertanggung jawab.
Komunitas yang sehat bukan komunitas yang tidak pernah mengalami konflik, melainkan komunitas yang mampu menghadapi konflik tanpa kehilangan rasa hormat dan tujuan bersama.
Ketiga, memulihkan berarti bersedia mengosongkan diri.
Dalam Filipi 2:7, Rasul Paulus menggambarkan Kristus yang mengosongkan diri-Nya. Dalam tradisi teologi Kristen, gagasan ini dikenal sebagai kenosis. Maknanya tidak sesederhana membuang segala yang dimiliki, tetapi berkaitan dengan kerendahan hati, kesediaan mengambil rupa seorang hamba, dan pengorbanan demi kebaikan orang lain.
Di sinilah kisah Diogenes dan jalan pemulihan yang kita perlukan bertemu sekaligus berpisah.
Diogenes membuang mangkuknya setelah menyadari bahwa ia dapat hidup dengan lebih sedikit. Tindakan itu merupakan kritik terhadap kebutuhan yang diciptakan oleh kebiasaan dan kemewahan.
Namun, bagi kita yang bergumul dengan masa depan Danau Toba dan kehidupan bersama, pelajaran itu perlu dibawa lebih jauh. Kita tidak cukup hanya mengurangi benda yang dimiliki. Kita perlu mengurangi keserakahan yang mengendalikan cara kita memiliki dan menggunakan sesuatu.
Kita harus bersedia melepaskan keuntungan yang diperoleh dengan merusak alam, kekuasaan yang dipertahankan dengan mengorbankan orang lain, dan kebanggaan yang membuat kita menolak koreksi.
Mengosongkan diri bukan berarti berhenti membangun. Bukan pula menolak kemajuan atau menuntut masyarakat hidup dalam kekurangan. Sebaliknya, kita perlu membedakan kemajuan yang meningkatkan kesejahteraan dengan pertumbuhan yang menghabiskan sumber kehidupan.
Pemulihan Danau Toba tidak menuntut masyarakat berhenti mencari nafkah. Pemulihan menuntut agar penghidupan dibangun dengan cara yang tidak merampas masa depan generasi berikutnya.
Pemulihan komunitas juga tidak menuntut semua orang kehilangan pendapat atau kedudukan. Pemulihan menuntut agar jabatan tidak lebih penting daripada pelayanan, perbedaan tidak lebih besar daripada persaudaraan, dan kepentingan pribadi tidak mengalahkan kebaikan bersama.
Membuang Keserakahan, Menyelamatkan Kehidupan
Dari gubuk kayu di Pusuk Buhit, saya semakin memahami bahwa mangkuk bukanlah musuh kehidupan. Mangkuk diperlukan untuk menampung air. Organisasi diperlukan untuk menata kerja bersama. Aturan diperlukan untuk menjaga keadilan. Teknologi dan pembangunan diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Yang menjadi persoalan bukan keberadaan mangkuk, melainkan ketika kita lebih sibuk menambah mangkuk daripada menjaga sumber airnya.
Bukan organisasi yang harus kita singkirkan, melainkan kesombongan yang merusak tujuan organisasi. Bukan pembangunan yang harus kita hentikan, melainkan cara membangun yang mengabaikan batas alam dan hak generasi mendatang.
Kita membutuhkan kecukupan, bukan kemiskinan yang dipaksakan. Kita membutuhkan kesederhanaan, bukan kemunduran. Kita membutuhkan pertumbuhan, tetapi pertumbuhan yang tahu kapan harus berhenti mengambil dan mulai memulihkan.
Diogenes membuang mangkuk agar dirinya tidak bergantung pada benda yang sebenarnya tidak ia perlukan. Kita, sebaliknya, perlu belajar melepaskan hasrat yang membuat kita terus mengambil dari alam dan terus menuntut dari sesama.
Diogenes membuang mangkuk demi kebebasan dirinya. Kita perlu membuang keserakahan demi keberlangsungan hidup bersama.
Di Danau Toba, pelajaran itu harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata: melindungi hutan, memulihkan kawasan yang rusak, menjaga kualitas air, mengendalikan pencemaran, menegakkan aturan secara adil, dan melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Pemulihan tidak akan berhasil jika hanya menjadi slogan, seremoni, atau bahan pidato yang terdengar indah.
Di dalam komunitas, pelajaran itu berarti membangun kepemimpinan yang rendah hati, menghidupkan kembali semangat gotong royong, merawat kepercayaan, dan mengembalikan organisasi kepada tujuan awalnya: menjadi wadah bagi kehidupan bersama.
Kita tidak dapat meminta danau terus memberi jika kita tidak bersedia menjaga. Kita tidak dapat mengharapkan komunitas tetap utuh jika setiap orang hanya ingin menerima. Kita tidak dapat mewariskan masa depan yang baik kepada anak cucu jika hari ini kita menghabiskan segala sesuatu untuk memuaskan keinginan sendiri.
Angin Danau Toba masih berembus di sekitar gubuk kayu di Pusuk Buhit. Dari kejauhan, air tampak membentang tenang. Namun, ketenangan itu tidak boleh membuat kita lengah. Keindahan bukan jaminan bahwa alam baik-baik saja. Begitu pula keramaian sebuah komunitas bukan bukti bahwa persaudaraan di dalamnya masih sehat.
Barangkali, kebijaksanaan terbesar bukan terletak pada kemampuan kita memiliki lebih banyak, melainkan pada keberanian untuk mengenali batas, mengakui kesalahan, dan mengubah cara hidup.
Dari Dolok Pusuk Buhit, doa dan harapan saya sederhana: semoga anak cucu kita kelak masih dapat merasakan kesejukan angin dari Danau Toba, menyaksikan air yang terjaga kejernihannya, dan hidup dalam komunitas yang saling menguatkan.
Semoga mereka tidak hanya mewarisi danau, hutan, adat, dan nama leluhur, tetapi juga mewarisi kebijaksanaan untuk menjaga semuanya.
Sebab, pada akhirnya, yang harus kita selamatkan bukan sekadar mangkuknya, melainkan kehidupan yang ditampungnya.
Dan mungkin, sebelum meminta alam memberi lebih banyak, kita perlu belajar bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita merasa cukup untuk mulai merawat apa yang telah diberikan kepada kita. ***










