BeritaHeadline

Lansia Limbong Mulana Sejabodetabek-Banten Tampil Memukau di HUT ke-165 HKBP, Angklung Rohani dan Nasional Tuai Apresiasi Jemaat

×

Lansia Limbong Mulana Sejabodetabek-Banten Tampil Memukau di HUT ke-165 HKBP, Angklung Rohani dan Nasional Tuai Apresiasi Jemaat

Sebarkan artikel ini
Lansia Limbong Mulana Sejabodetabek Banten ikut berpartisipasi dalam perayaan HUT 165 tahun HKBP melalui memainkan alat musik tradisional Angklung. (Foto/A1)

JAKARTA, JAYA POS – Semangat pelayanan dan sukacita iman ditunjukkan para lanjut usia (lansia) Limbong Mulana se-Jabodetabek dan Banten dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-165 Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Melalui penampilan musik tradisional angklung yang membawakan lagu-lagu rohani dan nasional, kelompok lansia tersebut turut menyemarakkan perayaan akbar yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (18/10/2026).

Perayaan bersejarah tersebut berlangsung dalam suasana penuh sukacita melalui ibadah raya dan perjamuan kudus yang dihadiri jemaat HKBP dari berbagai daerah. Sekitar 80 ribu jemaat diperkirakan memadati kawasan GBK untuk bersama-sama merayakan perjalanan panjang HKBP selama 165 tahun dalam pelayanan gerejawi, pembinaan iman, serta penguatan persekutuan umat.

Di tengah kemeriahan perayaan itu, kehadiran Lansia Limbong Mulana se-Jabodetabek-Banten memberikan warna tersendiri. Mereka tidak sekadar datang sebagai peserta, tetapi juga mengambil bagian aktif dalam pelayanan melalui pertunjukan angklung. Dengan penuh semangat, para lansia memainkan alat musik tradisional tersebut secara bersama-sama, menghadirkan harmoni nada yang berpadu dengan pesan spiritual dan semangat kebangsaan.

Lagu-lagu rohani yang dibawakan mengajak jemaat untuk semakin menghayati makna iman, rasa syukur, dan kesetiaan dalam kehidupan. Sementara itu, lagu-lagu nasional yang dipersembahkan turut membangkitkan semangat kebersamaan serta menegaskan bahwa kecintaan terhadap gereja dan bangsa dapat berjalan beriringan.

Penampilan tersebut menjadi salah satu momen yang menarik perhatian jemaat. Dengan kekompakan dan ketekunan, para lansia menunjukkan bahwa memainkan angklung membutuhkan konsentrasi, koordinasi, serta kerja sama antarpemain. Setiap nada yang dihasilkan menjadi bagian dari harmoni yang tercipta berkat kebersamaan dan latihan.

Tepuk tangan jemaat yang menyaksikan penampilan mereka menjadi bentuk apresiasi atas semangat dan dedikasi para lansia. Penampilan itu sekaligus memperlihatkan bahwa usia lanjut bukanlah penghalang untuk terus berkarya, mengembangkan talenta, dan mengambil bagian dalam pelayanan gereja.

Semangat Pelayanan Tidak Mengenal Batas Usia

Partisipasi Lansia Limbong Mulana dalam perayaan HUT ke-165 HKBP memiliki makna lebih dari sekadar penampilan seni. Keterlibatan mereka menjadi gambaran tentang keteguhan iman, kesetiaan dalam pelayanan, dan komitmen untuk tetap berkontribusi bagi kehidupan persekutuan gereja.

Di tengah aktivitas kehidupan yang terus berubah, para lansia tetap menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk melayani sesuai dengan kemampuan dan talenta yang dimiliki. Melalui musik angklung, mereka menghadirkan pesan bahwa pelayanan tidak selalu harus dilakukan melalui khotbah atau kegiatan formal gerejawi. Seni, budaya, dan kebersamaan juga dapat menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan serta mempererat hubungan antarsesama jemaat.

Keterlibatan tersebut juga menjadi inspirasi bagi generasi yang lebih muda agar senantiasa menghargai peran para orang tua dalam kehidupan bergereja. Pengalaman, ketekunan, dan kesetiaan yang mereka tunjukkan merupakan nilai penting yang dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Bagi para lansia, mengikuti perayaan HUT ke-165 HKBP bukan semata-mata menghadiri acara besar, melainkan kesempatan berharga untuk memperkuat persekutuan, memperbarui semangat pelayanan, serta merasakan kebersamaan dengan puluhan ribu jemaat dari berbagai wilayah.

Perayaan ini juga menjadi ruang perjumpaan bagi warga gereja dari beragam latar belakang dan generasi. Dalam suasana ibadah dan sukacita bersama, setiap kelompok memiliki kesempatan untuk mengambil bagian sesuai dengan talenta masing-masing, termasuk melalui seni musik tradisional yang memiliki nilai budaya tersendiri.

Angklung sebagai Sarana Mempererat Kebersamaan

Angklung merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang dimainkan dengan mengandalkan kerja sama antarpemain. Setiap instrumen menghasilkan nada tertentu sehingga keharmonisan musik bergantung pada kemampuan seluruh pemain untuk saling mendengarkan dan menjaga keselarasan.

Nilai tersebut sejalan dengan semangat persekutuan dalam kehidupan gereja. Sebagaimana setiap angklung memiliki peran dalam membentuk sebuah lagu, setiap jemaat juga mempunyai tempat dan tanggung jawab dalam membangun kehidupan bergereja yang harmonis.

Melalui penampilan di GBK, Lansia Limbong Mulana se-Jabodetabek-Banten turut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pelayanan rohani. Musik tradisional tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan persatuan, rasa syukur, dan kecintaan terhadap tanah air.

Kehadiran mereka sekaligus mengingatkan bahwa kelompok lansia merupakan bagian dari kehidupan gereja. Mereka perlu terus diberi ruang untuk berpartisipasi, mengembangkan potensi, dan berkontribusi dalam berbagai kegiatan sesuai dengan kondisi serta kemampuan masing-masing.

Perayaan HUT ke-165 HKBP pun menjadi momentum untuk merefleksikan arti pelayanan yang melibatkan seluruh generasi. Gereja tidak hanya bertumbuh melalui pembangunan fisik atau bertambahnya jumlah jemaat, tetapi juga melalui keterlibatan umat, kepedulian antargenerasi, serta kesediaan untuk saling mendukung dalam iman.

Dengan semangat dan sukacita yang ditunjukkan, Lansia Limbong Mulana se-Jabodetabek-Banten telah mengambil bagian dalam menyukseskan perayaan bersejarah tersebut. Penampilan angklung mereka menjadi pengingat bahwa pengabdian, kreativitas, dan semangat melayani dapat terus tumbuh sepanjang kehidupan.

Pada akhirnya, perayaan 165 tahun HKBP bukan hanya menjadi ajang mengenang perjalanan sejarah gereja, tetapi juga kesempatan memperkuat komitmen untuk melanjutkan pelayanan pada masa mendatang. Partisipasi para lansia menjadi salah satu gambaran bahwa setiap generasi memiliki peran berharga dalam menjaga iman, merawat kebersamaan, melestarikan budaya, dan meneruskan nilai-nilai pelayanan kepada generasi berikutnya. (A1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *