Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula, Samosir
Kita hidup pada zaman ketika hampir setiap orang bisa menulis. Jari bergerak cepat di atas layar ponsel. Kata-kata berhamburan di grup WhatsApp, memenuhi kolom komentar, dan membanjiri media sosial. Setiap hari, bahkan setiap detik, jutaan kalimat lahir dan menyebar ke ruang publik.
Namun, di tengah derasnya arus tulisan itu, ada satu pertanyaan mendasar yang kerap luput kita ajukan: seberapa banyak yang kita baca sebelum memutuskan untuk menulis?
Pertanyaan ini penting, sebab kemampuan menyusun kalimat tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman berpikir. Kemudahan menerbitkan tulisan juga tidak otomatis melahirkan pengetahuan. Seseorang bisa menulis panjang, tetapi miskin pemahaman. Bisa berbicara lantang, tetapi tidak memiliki cukup dasar untuk menjelaskan apa yang sedang dibicarakannya.
Di sinilah persoalan literasi kita bermula.
Ada dua kecenderungan yang tumbuh bersamaan dalam kehidupan literasi hari ini. Pertama, orang yang membaca banyak, berpikir mendalam, lalu menulis seperlunya. Kedua, orang yang membaca sedikit, tetapi tergesa-gesa menulis banyak. Yang pertama menjadikan tulisan sebagai hasil perenungan dan pengolahan pengetahuan. Yang kedua berisiko menjadikan tulisan sekadar luapan pendapat.
Perbedaannya bukan terletak pada panjang atau pendeknya tulisan, melainkan pada kedalaman proses yang melahirkannya.
Membaca Sebelum Menulis: Pelajaran dari Para Penulis Besar
Sejarah sastra dan pemikiran memperlihatkan bahwa karya-karya yang bertahan melampaui zamannya umumnya lahir dari proses panjang: membaca, meneliti, mengamati, mendengarkan, dan merenungkan kehidupan.
Pramoedya Ananta Toer, misalnya, melahirkan karya-karya penting yang memperlihatkan kedalaman pemahaman terhadap sejarah, masyarakat, kolonialisme, dan pergulatan manusia. Novel Bumi Manusia bukan sekadar rangkaian cerita, melainkan karya yang mengajak pembaca menelusuri hubungan antara kekuasaan, pendidikan, identitas, dan kemanusiaan.
Kekuatan karya semacam itu tidak lahir hanya dari kepiawaian merangkai kata. Ada pengetahuan, pengalaman, pengamatan, dan pergulatan intelektual yang menopangnya. Bahkan ketika menulis dalam keterbatasan, seorang penulis tetap membutuhkan kekayaan bahan yang telah diserapnya melalui proses belajar dan perenungan.
Hal serupa terlihat pada Leila S. Chudori ketika menulis Pulang. Novel tersebut mengangkat pengalaman eksil Indonesia dan luka sejarah yang menyertainya. Pengolahan tema semacam ini menuntut penelusuran sejarah, pemahaman konteks politik, serta perhatian terhadap pengalaman manusia yang tidak selalu tercatat secara utuh dalam dokumen resmi.
Andrea Hirata melalui Laskar Pelangi juga menunjukkan bahwa lingkungan terdekat dapat menjadi sumber pengetahuan yang luas. Belitung bukan hanya latar cerita, melainkan ruang kehidupan yang menyimpan pengalaman tentang pendidikan, kemiskinan, persahabatan, cita-cita, dan keteguhan manusia.
Mereka mengingatkan kita bahwa menulis bukan semata-mata kemampuan menyusun kata. Menulis adalah kemampuan mengolah pengetahuan dan pengalaman menjadi sesuatu yang bermakna bagi orang lain.
Karena itu, membaca seharusnya tidak dipandang sebagai kegiatan tambahan bagi seorang penulis. Membaca adalah bagian mendasar dari proses menulis itu sendiri.
Ketika Kecepatan Mengalahkan Kedalaman
Di era digital, kecepatan sering kali dianggap sebagai ukuran keberhasilan. Siapa yang lebih dahulu mengunggah, lebih cepat berkomentar, atau lebih ramai diperbincangkan, dialah yang memperoleh perhatian.
Akibatnya, tidak sedikit orang merasa harus segera menulis sebelum memahami persoalan secara utuh. Informasi yang baru dibaca sepintas segera berubah menjadi kesimpulan. Potongan video menjadi dasar penilaian. Judul berita dianggap cukup untuk memahami seluruh peristiwa. Pendapat orang lain disalin, lalu disebarkan kembali tanpa pemeriksaan yang memadai.
Tulisan akhirnya beredar lebih cepat daripada pengetahuan yang mendasarinya.
Fenomena ini bukan berarti semua tulisan singkat atau pendapat spontan tidak berguna. Tulisan pendek dapat sangat tajam, sedangkan komentar sederhana bisa membuka perspektif baru. Persoalannya muncul ketika kecepatan menggantikan ketelitian, keyakinan mengalahkan bukti, dan keberanian berpendapat tidak disertai kesediaan memeriksa kebenaran.
Di ruang publik, kita dapat menemukan tulisan yang berbicara keras tentang suatu persoalan, tetapi tidak menjelaskan sumber informasinya. Ada pula pendapat yang menghakimi keadaan tanpa memahami latar belakangnya. Bahkan, persoalan yang rumit terkadang disederhanakan menjadi tuduhan atau kesimpulan yang mudah menarik perhatian.
Tulisan semacam itu mungkin ramai dibicarakan hari ini, tetapi belum tentu memberikan pemahaman yang bertahan esok hari.
Keramaian bukan ukuran kedalaman. Banyaknya tulisan bukan jaminan bertambahnya pengetahuan.
Di sinilah kita perlu mengembalikan kehormatan membaca sebagai fondasi berpikir dan menulis.
Tiga Hal yang Harus Dibaca Sebelum Menulis
Bagi saya, literasi tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan mengenali huruf, memahami kalimat, atau menghasilkan tulisan. Literasi yang utuh menuntut kesediaan manusia untuk memahami dunia melalui setidaknya tiga jalan: membaca alam, membaca buku, dan membaca manusia.
Pertama, membaca alam.
Alam tidak berbicara melalui kalimat, tetapi memperlihatkan tanda-tanda yang dapat diamati dan dipelajari. Air yang berubah warna, lereng yang kehilangan pepohonan, tanah yang terkikis, serta mata air yang berkurang debitnya merupakan gejala yang perlu dipahami melalui pengamatan dan pengetahuan.
Dari kaki Dolok Pusuk Buhit, di kawasan Sianjur Mula-Mula, Samosir, kita dapat belajar bahwa bentang alam bukan sekadar pemandangan. Ia menyimpan sejarah geologi, hubungan ekologis, dan kehidupan masyarakat yang saling berkaitan.
Jika kita hendak menulis tentang Danau Toba, misalnya, kita tidak cukup hanya mengandalkan foto, kabar yang beredar, atau pendapat yang sedang populer. Kita perlu melihat kondisi lapangan, memahami sumber pencemaran yang mungkin terjadi, memeriksa data kualitas air, dan mendengarkan penjelasan pihak-pihak yang memahami persoalan tersebut.
Begitu pula ketika menulis tentang kerusakan hutan. Kita perlu mengetahui lokasi, kondisi tutupan vegetasi, perubahan penggunaan lahan, dan kemungkinan dampaknya terhadap tata air serta kehidupan masyarakat.
Pengamatan langsung penting, tetapi harus dilengkapi data dan pengetahuan ilmiah. Sebab, apa yang terlihat belum tentu menjelaskan seluruh penyebabnya.
Kedua, membaca buku.
Setiap persoalan memiliki sejarah pemikiran yang mendahuluinya. Banyak orang telah meneliti, menulis, berdebat, dan menemukan hal-hal yang dapat membantu kita memahami dunia.
Membaca buku, jurnal, laporan penelitian, arsip, dan dokumen resmi memungkinkan kita belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus mengulangi semua kesalahan mereka.
Ketika hendak menulis tentang lingkungan, misalnya, kita perlu memahami ekologi, konservasi, geologi, dan tata kelola sumber daya alam sesuai dengan persoalan yang dibahas. Ketika menulis tentang masyarakat, kita perlu mempelajari sejarah, kebudayaan, dan perubahan sosial yang membentuk kehidupan mereka.
Membaca juga mengajarkan kerendahan hati intelektual. Semakin luas pengetahuan yang kita peroleh, semakin kita menyadari bahwa tidak semua persoalan memiliki jawaban sederhana.
Buku bukan sekadar sumber kutipan untuk memperkuat pendapat yang sudah kita yakini. Buku adalah ruang untuk menguji keyakinan, menemukan kekeliruan, dan memperbaiki cara berpikir.
Ketiga, membaca manusia.
Pengetahuan tidak hanya tersimpan dalam buku atau laporan penelitian. Ia juga hidup dalam pengalaman petani, nelayan, pengrajin, tetua adat, guru, dan masyarakat yang setiap hari berhadapan dengan persoalan di lingkungannya.
Mereka memiliki pengalaman yang sering kali tidak tercatat dalam dokumen resmi. Namun, pengalaman itu tidak boleh langsung dianggap sebagai kebenaran mutlak. Ia perlu didengarkan dengan hormat, dipahami konteksnya, dan, jika menyangkut klaim faktual, diperiksa bersama sumber lain.
Membaca manusia berarti bersedia mendengarkan sebelum menghakimi. Kita belajar memahami alasan di balik tindakan, kesulitan di balik pilihan, serta harapan yang mungkin tidak pernah disampaikan melalui forum resmi.
Ketiga jalan ini saling melengkapi. Alam memberikan gejala untuk diamati, buku menyediakan pengetahuan untuk memahami, sedangkan manusia menghadirkan pengalaman untuk didengarkan. Ketika ketiganya dipertemukan, tulisan memiliki peluang lebih besar untuk menjadi utuh, adil, dan bertanggung jawab.
Dari Danau Toba, Kita Belajar tentang Tanggung Jawab Kata
Samosir dan kawasan Danau Toba tidak kekurangan orang yang berbicara tentang lingkungan, kebudayaan, pariwisata, dan masa depan masyarakat. Berbagai persoalan telah menjadi bahan diskusi, seminar, pemberitaan, dan tulisan di media sosial.
Namun, pertanyaan pentingnya bukan sekadar berapa banyak tulisan yang telah diterbitkan. Kita perlu bertanya: seberapa jauh tulisan-tulisan itu membantu masyarakat memahami persoalan dan mendorong perubahan yang nyata?
Ketika seseorang menulis tentang kelestarian Danau Toba, apakah ia telah mempelajari kondisi danau tersebut? Apakah ia memahami perbedaan antara dugaan, temuan lapangan, dan hasil penelitian? Apakah ia memberi ruang kepada pihak-pihak yang berkaitan untuk menjelaskan persoalan dari sudut pandang mereka?
Ketika seseorang mengkritik kebijakan lingkungan, apakah kritik itu dibangun berdasarkan data, dokumen, dan pengamatan yang dapat diperiksa? Apakah ia menjelaskan dampak yang mungkin timbul, atau hanya berhenti pada kalimat yang menarik perhatian?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk membatasi kebebasan berpendapat. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut diperlukan agar kebebasan itu menghasilkan manfaat yang lebih besar.
Kritik tetap diperlukan. Bahkan, kritik yang tajam dapat menjadi pengingat bagi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Namun, ketajaman tidak harus dibangun melalui tuduhan yang belum teruji. Kritik yang kuat justru lahir dari ketelitian, keberanian menyampaikan fakta, serta kesediaan membedakan antara apa yang diketahui dan apa yang masih perlu dibuktikan.
Kata-kata memiliki konsekuensi. Tulisan dapat membuka kesadaran, tetapi juga dapat menyesatkan jika dibangun di atas informasi yang keliru. Karena itu, tanggung jawab seorang penulis tidak selesai ketika tulisannya diterbitkan. Ia juga perlu memikirkan apakah tulisannya membantu pembaca memahami persoalan secara lebih jernih.
Bagi kawasan Danau Toba, yang membutuhkan perhatian serius terhadap kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat, literasi seharusnya menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama. Kita membutuhkan tulisan yang tidak hanya mengundang perdebatan, tetapi juga memperkaya pengetahuan dan mendorong tindakan yang tepat.
Menulis Sedikit Bukan Berarti Berpikir Sedikit
Ada hal yang perlu ditegaskan: ajakan untuk membaca banyak dan menulis sedikit bukanlah larangan untuk produktif. Bukan pula anggapan bahwa orang yang sering menulis pasti kurang membaca.
Yang hendak dikritik adalah kebiasaan memproduksi pendapat tanpa memberikan waktu yang cukup untuk memahami persoalan.
Menulis sedikit berarti berani memilih hal yang benar-benar penting. Tidak semua yang kita ketahui harus dituliskan. Tidak semua yang kita rasakan harus segera diumumkan. Tidak semua informasi yang kita terima layak disebarkan.
Kadang-kadang, setelah membaca banyak sumber, kita justru menyadari bahwa kesimpulan awal kita keliru. Kadang-kadang, setelah mengamati lapangan, kita menemukan bahwa persoalan tidak sesederhana yang dibayangkan. Ada kalanya kita perlu menunda tulisan karena data belum cukup, sumber belum terverifikasi, atau pihak yang berkaitan belum memberikan penjelasan.
Menunda tulisan dalam keadaan seperti itu bukan tanda kelemahan. Itu adalah bentuk tanggung jawab.
Seorang penulis yang baik tidak hanya bertanya, “Apa yang ingin saya katakan?” Ia juga bertanya, “Apa yang perlu diketahui pembaca?”, “Apa dasar dari pernyataan saya?”, dan “Apakah tulisan ini membantu menjelaskan persoalan atau justru menambah kebingungan?”
Pertanyaan semacam itu penting bagi siapa pun yang menulis, terlebih bagi insan pers. Dalam jurnalistik, kecepatan memang bernilai, tetapi ketepatan, verifikasi, keberimbangan, dan tanggung jawab kepada publik tidak boleh dikorbankan demi menjadi yang pertama.
Sebab, tulisan bukan sekadar jejak bahwa seseorang pernah berbicara. Tulisan adalah amanah yang membawa informasi, membentuk pemahaman, dan dapat memengaruhi cara orang memandang dunia.
Jalan Sunyi yang Perlu Dihidupkan Kembali
Membaca adalah pekerjaan yang sering berlangsung dalam kesunyian. Tidak selalu ada tepuk tangan ketika seseorang menghabiskan waktu mempelajari buku. Tidak selalu ada pujian ketika seseorang memilih memeriksa data sebelum menyampaikan pendapat. Tidak ada jaminan bahwa tulisan yang disusun dengan teliti akan langsung ramai dibaca.
Sebaliknya, tulisan yang tergesa-gesa terkadang lebih cepat memperoleh perhatian. Judul yang provokatif mudah mengundang klik. Pernyataan yang keras dapat memancing perdebatan. Namun, perhatian sesaat tidak selalu menghasilkan pemahaman yang mendalam.
Di sinilah kita perlu membedakan popularitas dari kualitas, serta jumlah dari manfaat.
Jalan sunyi literasi menuntut kesabaran. Kita membaca ketika orang lain sibuk berkomentar. Kita memeriksa fakta ketika orang lain telah menjatuhkan kesimpulan. Kita mendengarkan ketika orang lain berlomba berbicara. Kita menulis setelah memiliki alasan yang cukup untuk menulis.
Dan setelah tulisan diterbitkan, kita tidak berhenti belajar. Kita bersedia menerima koreksi, memperbaiki kekeliruan, dan mengakui keterbatasan pengetahuan sendiri.
Sikap seperti itulah yang perlu ditumbuhkan, terutama di tengah banjir informasi dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Kini, tulisan dapat dihasilkan dalam hitungan detik. Namun, kemudahan menghasilkan kalimat tidak otomatis menjamin kebenaran isinya.
Teknologi dapat membantu mencari informasi, merangkum bahan, dan memperbaiki susunan bahasa. Akan tetapi, tanggung jawab untuk memeriksa sumber, menilai bukti, memahami konteks, dan memastikan kebenaran tetap berada pada manusia yang menerbitkan tulisan tersebut.
Kita tidak boleh mengukur kecerdasan hanya dari kemampuan menghasilkan banyak kata. Yang lebih penting adalah kemampuan memahami persoalan, menimbang bukti, dan mengambil sikap secara bertanggung jawab.
Samosir dan Danau Toba membutuhkan lebih dari sekadar banyaknya tulisan. Kawasan ini membutuhkan orang-orang yang mau belajar, membaca, mengamati, berdialog, dan bekerja. Tulisan yang baik seharusnya tidak berhenti sebagai rangkaian kalimat, tetapi menjadi bagian dari proses membangun kesadaran dan memperbaiki keadaan.
Pada akhirnya, literasi bukan perlombaan untuk mengetahui siapa yang paling sering menulis atau siapa yang paling cepat menyampaikan pendapat. Literasi adalah perjalanan panjang untuk memahami dunia dengan lebih baik, sekaligus menyadari bahwa pengetahuan manusia selalu memiliki batas.
Karena itu, sebelum menulis satu halaman, luangkan waktu untuk membaca. Sebelum menyimpulkan, periksa fakta. Sebelum menghakimi, dengarkan manusia yang mengalami persoalan. Dan sebelum menyebarkan sebuah informasi, pastikan kita tidak sedang meneruskan kekeliruan.
Sebab, tulisan yang bernilai bukanlah tulisan yang paling banyak jumlahnya, melainkan tulisan yang lahir dari kedalaman membaca, kejernihan berpikir, kejujuran terhadap fakta, dan tanggung jawab terhadap kehidupan.
Membaca banyak, menulis secukupnya, lalu bekerja lebih banyak. Barangkali, inilah jalan sunyi literasi yang perlu kita hidupkan kembali.
Dari Dolok Pusuk Buhit, kita belajar bahwa tidak semua yang berharga harus segera diumumkan. Ada yang perlu diamati, dipahami, dan direnungkan terlebih dahulu. Sebab, seperti alam yang menyimpan pengetahuan dalam keheningannya, pikiran manusia pun membutuhkan kesunyian agar mampu melahirkan kata-kata yang bermakna.***












