SAMOSIR, JAYA POS – Acara kebudayaan bertajuk “Tao Toba Jou-Jou” yang rencananya akan digelar di Kabupaten Samosir pada 25–27 Juli 2025, memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan masyarakat dan tokoh adat. Nama acara, serta konsep pelaksanaannya, dinilai tidak mencerminkan nilai-nilai luhur budaya Batak dan dianggap menyesatkan serta tidak tepat sasaran.
Sejumlah tokoh masyarakat menilai, istilah jou-jou yang digunakan dalam tajuk acara bukanlah istilah yang umum dikenal atau memiliki makna positif dalam konteks budaya Batak kontemporer. Bahkan, dalam banyak percakapan sehari-hari, istilah ini dinilai memiliki konotasi negatif yang justru mengundang kebingungan di tengah masyarakat.
Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, mantan Penjabat Bupati Samosir dan tokoh Batak yang dikenal vokal dalam pelestarian budaya, mengungkapkan keprihatinannya atas penggunaan istilah jou-jou dalam nama acara tersebut. Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan kebudayaan seharusnya berangkat dari kajian mendalam terhadap filosofi dan nilai-nilai kearifan lokal.
“Istilah ‘jou-jou’ dalam tradisi Batak memiliki nuansa spiritual yang dalam, bukan sekadar teriakan atau ajakan kosong. Menggunakannya sebagai nama event publik tanpa pemahaman konteks budaya justru mereduksi maknanya. Ini bisa menyesatkan generasi muda,” tegasnya.
Ia juga mengkritik konsep acara yang menurutnya lebih menonjolkan sisi hiburan seperti pembagian doorprize, ketimbang substansi budaya yang seharusnya diangkat.
“Budaya bukan tontonan atau panggung hiburan semata. Budaya adalah roh masyarakat. Sebuah kegiatan pelestarian budaya seharusnya menghidupkan nilai-nilai leluhur, bukan mengejar keramaian dan sorak-sorai semata,” tambahnya.
Banyak warga menyampaikan ketidaknyamanan. Dalam kehidupan sehari-hari, ‘jou-jou’ kerap dipakai sebagai panggilan kurang sopan. Ini bukan nama yang mencerminkan martabat budaya Batak,
Wilmar juga menekankan bahwa kegiatan kebudayaan bukan hanya soal merayakan, tapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kegiatan seperti ini harus mengedukasi, bukan hanya menghibur.
“Budaya harus menyentuh aspek edukatif, spiritual, dan filosofis. Kalau hanya berisi panggung hiburan dan joget-joget, lebih baik ditunda dan diganti dengan kegiatan yang lebih bermakna, seperti doa bersama memohon hujan,” sarannya.
Di lapangan, banyak warga Samosir, khususnya di wilayah Pangururan dan Simanindo, mengaku bingung dengan maksud dari istilah jou-jou. Mereka menilai istilah itu tidak familiar, tidak menjelaskan substansi acara, dan justru membingungkan masyarakat awam.
Media sosial pun dipenuhi berbagai kritik dan saran dari masyarakat. Banyak netizen mempertanyakan tujuan sebenarnya dari kegiatan ini dan menilai bahwa panitia tidak melibatkan tokoh budaya dalam proses perencanaan.
“Kalau mau promosikan budaya Batak, kenapa tidak pakai istilah yang membangkitkan rasa bangga, seperti ‘Horas Toba’? Itu jelas maknanya dan membanggakan,” tulis salah satu warganet di kolom komentar sebuah unggahan promosi acara.
Berbagai tokoh masyarakat kini mendesak agar panitia dan pemerintah daerah meninjau ulang seluruh aspek kegiatan Tao Toba Jou-Jou, mulai dari nama, konsep, hingga waktu pelaksanaan. Mereka menekankan pentingnya pelibatan tokoh adat, budayawan, dan akademisi agar kegiatan semacam ini benar-benar mencerminkan ruh budaya Batak yang sesungguhnya.
“Budaya bukan sekadar ajang keramaian, tapi sarana menyampaikan nilai-nilai kehidupan, sejarah, dan jati diri. Kegiatan budaya seharusnya menyentuh hati masyarakat, bukan sekadar seremonial sesaat,” tegas para tokoh dalam pernyataan bersama mereka. ***












