Scroll untuk baca artikel
BeritaMetroPendidikan

Universitas Mpu Tantular Sukses Mengadakan Seminar Pelestarian Budaya

29
×

Universitas Mpu Tantular Sukses Mengadakan Seminar Pelestarian Budaya

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, JAYA POS – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mpu Tantular mengadakan seminar pelestarian  kebudayaan, Sabtu (29/7/2024) diruang Kampus Hiobaja. Mengangkat tema “Pelestarian Budaya Dalam Era Globalisasi”. Seminar Nasional ini dihadirin kurang lebih 250 peserta dari berbagai Siswa Menengah Atas atau sederajat dan berbagai Mahasiswa Universitas lain.

Kolaborasi anatarbaik dosen dan mahasiswa,   di bawah penanggungjawab Serepina Tiur Maida , S.Sos., M.Pd., M.I.Kom yang di bantu oleh Koordinator Pelaksana Anton  Irawan Pasaribu, AMd. Bns.

Seminar Nasional ini dibuka oleh Rektor Universitas Mpu Tantula,  Prof. Dr. Ratlan Pardede yang diwakili oleh Wakil Rektor Non Akademik Universitas  Mpu Tantular Ir. Rodeyar S Pasaribu, MM.

Dalam kesempatan tersebut Ir. Rodeyar S Pasaribu, MM. mengajak generasi milineal untuk peduli akan budaya kebaikan dan tetap untuk berkarya.

Pelestarian budaya dalam era globalisasi , pelestarian budaya khususnya dalam budaya beretika tetaplah penting karena globalisasi menghubungkan berbagai budaya dan komunitas di seluruh dunia.

Ada beberapa alasan mengapa budaya beretika sangatlah penting, salah satunya adalah Etika Komunikasi Antar budaya membutuhkan kepekaan terhadap perbedaan budaya dalam bahasa, ekspresi, dan norma-norma sosial.

Penting untuk mengkomunikasikan dengan sopan, menghindari stereotip, dan menghindari menyakiti perasaan orang lain, selanjutnya adalah mendorong keadilan dan kesetaraan  budaya beretika di era globalisasi juga mencakup upaya untuk mendorong keadilan sosial dan kesetaraan di antara individu dan kelompok-kelompok budaya yang berbeda. Ini melibatkan mengatasi ketidaksetaraan yang ada dan memastikan bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Acara dipandu oleh master ceremony  Lili P.I. Kawatu, M.Th dan dimoderatori oleh  Dr. dr. Dicky Yulius, MARS, FISQua.  Pemateri Berti Deliani (Analis Kebijakan Ahli Muda / PIC Pengembang Wisata Budaya) menyampaikan materinya tentang Pengembangan Wisata Cultural Heritage yang bertugas untuk memanfaatkan warisan budaya yang ada untuk dijadikan potensi daya tarik wisata yang kemudian bisa dikemas mulai dari produk wisata, promosi, sampai pemasarannya.

Daya Tarik wisata cultural heritage memiliki 3A yang kurang memadai, contohnya tidak adanya atraksi yang menarik yang dapat memberikan wisatawan pengalaman lebih, aksesibilitas menuju ke daya tarik wisata yang tidak memadai, kebersihan yang kurang. Produktif naratif yang kurang kekinian dan perlu adanya pembaruan dengan menyesuaikan target pasar wisata cultural heritage, Penataan display maupun tata ruang yang menarik, Digitalisasi terutama untuk promosi ke wisatawan asing.

Pemateri Jajang Hasan Basri Hasan, S.Ag., M.SI ( Kasubditbinpolmas Ditbinmas Polda Metro Jaya) dalam materinya menyampaikan pentingnya budaya di tengah arus globalisasi yang dapat mempengaruhi budaya lokal di Indonesia. Ada beberapa contoh problematika budaya yang terjadi di Negara kita, misalnya yang terjadi di lingkungan masyarakat adalah tawuran, geng motor/ begal, dan  bullying. Dan ada juga budaya yang terjadi di lingkup pejabat Negara kita, misalnya korupsi, kolusi, dan pungli. Nilai pancasila merupakan salah satu solusi terdegradasinya budaya bangsa kita.

Pemateri Internal, Dekan Fakultas Hukum Universitas Mpu Tantular dan Ahli Hak Kekayaan Intelektual Nasional, Assoc Prof. Dr. Suyud Margono,  dalam keterangan opening speechnya, Indonesia memiliki Kekayaan sumber hayati yang berlimpah selain itu sejak lama ini menjadi resources baik tradisi yang berkembang baik digunakan bagi masyarakat secara komunal yang harus dijaga kelestariannya. Inilah heritage yg harus dijaga karena Budaya bukan hanya pelestarian ataupun sebagai Pembeda saja dengan negara maju alih-alih Indonesia sebagai negara berkembang yang belum berbasis sains dan teknologi namun Budaya didalamnya terdapat knowledge dan wisdom menjadi value yang pasti menjadi daya saing di Era Global, pungkasnya.

Serepina Tiur Maida, S. Sos., M.Pd., M.I.Kom Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mpu Tantular, pada materinya tentang budaya dapat mempengaruhi mental. Ukuran kecerdasan tidak bisa dijadikan kebijakan sebagai alat ukur dalam pencapaian kesuksesan seseorang. Sebab kecerdasan intelektual memiliki keterbatasan, jika memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, dan tidak diimbangi kecerdasan emosional dan spiritual, maka ia akan berpotensi untuk mengalami kegagalan dan bahkan akan menjadi fatal untuk dirinya sendiri. Maka kita harus bisa menyeimbangan itu semua. Seminar ini mengajak para generasi milenial, menjaga kebudayaan adalah sebuah keharusan agar budaya yang ditinggalkan nenek moyang kita sebagai alat yang bermanfaat di kehidupan. Semoga kita bisa menjaga, mengingat, dan terus melestarikan budaya bangsa yang hampir hilang karena Modernisasi.

Jasatua Butarbutar, Psi., CIRP, CHCCP, CHRM, KNK Pratama, Madya, Utama, POP, Accesor LSP BNSP Indonesia (Bidang Humas Seminar) menyampaikan bahwa ini merupakan pembelajaran yang berharga tidak saja bagi mahasiswa tetapi untuk semua peserta umum yang hadir, dengan budaya yang baik maka kita semua akan menjadi sumberdaya manausia yang berguna dan bermanfaat untuk Indonesia. Bangga bisa menjadi bagian panitia, ujarnya, sesuai motto panitia “Together we can, together we Success.” ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *