BeritaHeadline

Geopark Toba Pasca Chile 2025: Akhir dari Gimmick, Awal dari Kewajiban Serius

×

Geopark Toba Pasca Chile 2025: Akhir dari Gimmick, Awal dari Kewajiban Serius

Sebarkan artikel ini
Dr. Wilmar Eliaser Simanjorang, Dipl_Ec., M.Si

Refleksi Kritis Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simanjorang, Dipl_Ec., M.Si (Penggiat Geowisata Berbasis Komunitas dan Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia)

SAMOSIR, JAYA POS – Geopark Toba akhirnya mencapai satu titik historis dalam lintasan panjang perjalanannya. Di tengah dingin angin pegunungan Chile Selatan, dalam Konferensi Internasional ke-11 UNESCO Global Geoparks (6 September 2025), Toba Caldera diusulkan naik kelas dari status “Kartu Kuning” menjadi “Kartu Hijau”. Sebuah pencapaian administratif, ya — tetapi lebih dari itu, ini seharusnya dibaca sebagai momentum spiritual, peringatan keras, dan panggilan perubahan.

Bagi kami, yang hidup dan bergiat dalam denyut nadi komunitas lokal serta menapaki lanskap geopark dengan kaki telanjang dan hati terbuka, ini bukan perayaan. Ini adalah panggilan untuk bertobat. Bukan pertobatan personal yang bersifat mistis, tetapi pertobatan struktural, ekologis, dan moral yang menyentuh sendi-sendi kebijakan, investasi, dan pola pikir pembangunan itu sendiri.

Kartu Hijau bukan akhir perjuangan. Ia adalah “lampu hijau” untuk mulai bertanggung jawab — bukan hanya pada standar UNESCO, tapi pada bumi, warisan leluhur, dan anak cucu yang belum lahir.

Apresiasi Layak, Tapi Jangan Terjebak Seremonial

UNESCO mencatat adanya kemajuan, dan kita perlu jujur mengapresiasi kerja keras banyak pihak:

Warisan geologi mulai diperluas dengan penambahan geositus baru, walau belum sepenuhnya terdokumentasi.

Narasi geopark semakin inklusif, mulai mengintegrasikan aspek geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya lokal.

Geopark Toba semakin terlihat di panggung nasional dan internasional, menjadi bagian dari diskursus global.

Branding produk lokal seperti kopi, madu, dan tenun ulos mengangkat identitas budaya kawasan.

Namun pertanyaan fundamentalnya tetap: Apakah semua ini merupakan ekspresi dari komitmen jangka panjang, atau sekadar reaksi administratif atas “teguran kuning”? Jangan sampai kita terjebak dalam siklus kosmetik seremonial: merias wajah yang retak dengan cat prestasi, tapi mengabaikan luka di dalam.

Evaluasi UNESCO: Kritik Tajam yang Harus Kita Dengar, Bukan Disangkal

1.Struktur Manajemen: Terlalu Gemuk, Tidak Lincah

“Restructure this very large expert group into a more operative body.”

Struktur pengelolaan yang besar tapi tidak efektif adalah cermin dari mentalitas birokratis yang simbolik, bukan solutif. Manajemen yang sejatinya harus dinamis dan adaptif malah menjadi labirin kekuasaan, tempat elit menjaga kursi dan relasi, bukan menjaga bumi.

Apakah badan pengelola benar-benar bekerja untuk Toba? Atau mereka bekerja untuk mempertahankan status dan pengaruh pribadi?

2.Pendidikan dan Interpretasi: Dangkal dan Tidak Kontekstual

“Interpret the Toba Caldera as one of the largest calderas in the world.”

“Consider the issues of water quality and the risks in the territory.”

Edukasi di kawasan geopark belum menyentuh substansi. Narasi besar seperti mitigasi bencana, kualitas air danau yang semakin menurun, serta krisis spiritualitas ekologi — semua masih terpinggirkan.

Padahal, edukasi bukan hanya soal data, tapi juga soal membangun kesadaran etis dan emosional tentang hidup berdampingan dengan bumi.

3.Pariwisata: Masih Dikuasai Logika Investasi, Bukan Komunitas

“Big scale projects should be discussed with local communities and authorities.”

Model pembangunan pariwisata masih didominasi pendekatan top-down yang lebih mengutamakan akumulasi kapital dibandingkan keberlanjutan sosial dan ekologis. Partisipasi komunitas? Masih sebatas jargon.

Banyak proyek skala besar justru menciptakan alienasi budaya dan tekanan ekologis. Dalam nama “pengembangan”, kita justru menghancurkan basis hidup komunitas lokal.

4.Komunitas Parmalim: Diabaikan, Dihilangkan dari Narasi Resmi

“Evaluators were not aware of the indigenous community.”

UNESCO menyayangkan ketiadaan informasi tentang keberadaan komunitas adat Parmalim. Ini bukan sekadar kelalaian administratif. Ini adalah penghapusan kultural.

Parmalim adalah roh spiritual kawasan Toba. Mengabaikan mereka berarti mencabut akar ekospiritualitas Toba yang selama ini justru menjaga harmoni antara manusia dan alam.

Panggilan Ekoteologi: Geopark Bukan Branding, Tapi Amanat Spiritual

Dari perspektif teologi lingkungan, geopark bukan proyek ekonomi atau sekadar alat pemasaran destinasi. Ia adalah tempat suci di mana manusia seharusnya menyadari posisinya sebagai penjaga, bukan penguasa.

Sebagaimana ditegaskan dalam Forum Nasional Ekoteologi oleh Menteri Agama RI:

“Kita tidak hanya membutuhkan pembangunan berkelanjutan, tetapi pertobatan ekologis — konversi ekologis dalam iman, perilaku, dan kebijakan kita.”

Pertobatan ekologis bukan romantisme, tapi aksi konkret. Ia menuntut perubahan dalam cara kita berpikir, bertindak, dan merumuskan kebijakan. Ia menuntut kita untuk berhenti mengontrol alam, dan mulai merawatnya.

Seruan Kritis: Dari Panggung Politik ke Panggung Pertobatan

Evaluasi UNESCO adalah cermin. Tetapi apakah kita berani menatap wajah kita sendiri?

Pemerintah pusat dan daerah: Jangan jadikan geopark alat retorika. Jadikan ia laboratorium keadilan ekologis.

Tujuh kabupaten Toba: Jangan bersaing dalam egosektoral. Bangun identitas bersama sebagai ekoregion yang satu.

Elite birokrasi dan politisi: Jangan jadikan geopark komoditas kekuasaan. Hormati ia sebagai amanah suci.

Investor dan pengusaha: Letakkan profit dalam kerangka etika ekologis. Jangan rampas tanah, jangan cemari air.

Akademisi dan pendidik: Kembalilah menjadi penjaga narasi yang jujur, kritis, dan berpihak pada bumi.

Naiknya status Geopark Toba bukan akhir perjalanan. Justru ini adalah awal dari perjalanan yang lebih berat, lebih jujur, dan lebih dalam. Kita diberi kesempatan kedua — dan jangan sia-siakan.

Toba bisa menjadi:

  • Laboratorium geowisata yang adil, lestari, dan berbasis komunitas.
  • Pusat spiritualitas ekologis lintas iman dan budaya.
  • Ruang dialog etis untuk masa depan bumi yang lebih manusiawi.

Tetapi semua itu hanya bisa terwujud jika kita berani melakukan pertobatan ekologis yang radikal:

➡️ Dari eksploitasi ke pelayanan.

➡️ Dari pencitraan ke perawatan.

➡️ Dari pusat ke komunitas.

➡️ Dari sertifikasi ke transformasi.

Karena Geopark Toba bukan milik segelintir elit birokrat.

Ia milik semesta.

Ia milik generasi mendatang.

Ia milik iman kita pada ciptaan yang suci.

Geopark Toba Pasca Chile 2025: Bukan Soal Status. Ini Soal Pertobatan Ekologis.

Jika Anda ingin versi dalam format PDF, infografik, atau ringkasan eksekutif untuk audiensi tertentu (akademisi, pemerintah, investor), saya bisa bantu buatkan juga.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *