BeritaHeadline

Refleksi Wilmar Eliaser Simandjorang: Menulis sebagai Jalan Konsistensi Hidup

×

Refleksi Wilmar Eliaser Simandjorang: Menulis sebagai Jalan Konsistensi Hidup

Sebarkan artikel ini
Wilmar Eliaser Simandjorang.

Oleh : Wilmar Eliaser Simandjorang

SAMOSIR, JAYA POS – Pada mulanya saya hanyalah seorang penikmat tulisan. Saya membaca berbagai karya, menikmati kedalaman gagasan orang lain, dan mengagumi cara para penulis merangkai pemikiran menjadi sesuatu yang bernilai. Namun seiring waktu, muncul sebuah pertanyaan sederhana yang terus mengusik kesadaran saya: mengapa hanya menjadi pembaca, jika saya juga dapat menjadi penulis?

Pertanyaan itu menjadi titik awal perjalanan intelektual sekaligus spiritual yang perlahan mengubah cara saya memandang hidup. Saya kemudian bersentuhan dengan sebuah gagasan yang sederhana tetapi sangat mendalam: “Think what you believe, write down what you think, and do what you have written.” Pikirkan apa yang Anda yakini, tuliskan apa yang Anda pikirkan, dan lakukan apa yang telah Anda tuliskan.

Bagi saya, kalimat tersebut bukan sekadar nasihat, melainkan sebuah filosofi hidup. Ia mengajarkan bahwa manusia yang utuh adalah manusia yang mampu menyelaraskan keyakinan, pikiran, tulisan, dan tindakan. Apa yang diyakini akan membentuk cara berpikir. Apa yang dipikirkan perlu dituangkan dalam tulisan. Dan apa yang telah dituliskan seharusnya diwujudkan dalam tindakan nyata. Di sanalah integritas menemukan maknanya.

Pemikiran tersebut sejalan dengan pandangan Francis Schaeffer yang menekankan pentingnya integrasi antara iman, rasio, dan kehidupan. Menurutnya, manusia tidak dipanggil untuk hidup dalam keterpecahan antara apa yang dipercayai dan apa yang dijalani. Sebaliknya, kehidupan yang bermakna lahir dari keberanian untuk menjadikan keyakinan sebagai dasar tindakan. Sebab nilai-nilai yang hanya berhenti dalam pikiran tidak akan pernah menghasilkan perubahan.

Dari sanalah saya belajar bahwa pikiran tidak boleh berakhir sebagai wacana. Sebuah gagasan harus diuji, direnungkan, disusun, lalu dituliskan. Menulis bukan hanya kegiatan menuangkan kata-kata, melainkan proses menguji kebenaran dan mempertanggungjawabkan pemikiran. Ketika seseorang menulis, ia sebenarnya sedang berdialog dengan dirinya sendiri, dengan realitas yang dihadapinya, dan dengan nilai-nilai yang diyakininya.

Dalam proses tersebut, saya banyak belajar dari berbagai sumber kehidupan: Firman Tuhan yang menjadi kompas moral, nilai-nilai luhur adat yang menjaga identitas, ilmu pengetahuan yang memperluas wawasan, filsafat yang mempertajam nalar, serta logika yang menuntun pada ketertiban berpikir. Semua itu saya renungkan, saya timbang, lalu saya kristalisasi dalam tulisan sebagai upaya sederhana untuk mencari makna yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara intelektual maupun moral.

Pada titik ini saya teringat pada pesan Pramoedya Ananta Toer yang begitu terkenal: “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah.” Kalimat itu menyadarkan saya bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan karya, melainkan tentang menjaga keberadaan. Pikiran yang tidak dituliskan mudah hilang ditelan waktu. Pengalaman yang tidak dicatat akan lenyap bersama usia. Namun tulisan mampu melampaui batas ruang dan generasi, menjadi jejak yang dapat dibaca, dipelajari, bahkan diperdebatkan oleh mereka yang hidup setelah kita.

Karena itu, saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa menulis bukan sekadar keterampilan, melainkan disiplin hidup. Menulis adalah cara merawat kesadaran. Apa yang dipikirkan perlu dicatat agar tidak menguap begitu saja. Apa yang dicatat perlu direnungkan agar tidak menjadi sekadar kumpulan kata. Dan apa yang telah direnungkan perlu diwujudkan dalam tindakan agar tidak berhenti sebagai teori.

Tulisan pada akhirnya menjadi jembatan antara refleksi dan realitas. Ia menghubungkan dunia gagasan dengan dunia tindakan. Melalui tulisan, seseorang belajar bertanggung jawab atas pikirannya sendiri. Melalui tindakan, ia membuktikan bahwa tulisannya bukan sekadar retorika.

Dari membaca saya belajar memahami dunia. Dari berpikir saya belajar menyaring makna. Dari menulis saya belajar mengikat dan merawat pemahaman. Dan dari menjalankan apa yang saya tuliskan, saya belajar tentang konsistensi. Sebab ukuran sejati dari sebuah pemikiran bukanlah seberapa indah ia dituliskan, melainkan seberapa jauh ia diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, menulis adalah jalan untuk menjaga keutuhan diri. Sebuah upaya agar keyakinan, pikiran, perkataan, dan tindakan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menyatu dalam kehidupan yang utuh, bermakna, dan bertanggung jawab. Di tengah dunia yang sering dipenuhi kebisingan kata-kata tanpa tindakan, menulis menjadi pengingat bahwa integritas dimulai ketika seseorang berani hidup sesuai dengan apa yang ia pikirkan dan tuliskan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *