Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Pegiat Lingkungan dan Budaya
Keturunan Toga Sinaga berkumpul di JX HomeTown, Pulo Mas, Jakarta, dalam suasana lage-lage tiar. Kami datang dari enam provinsi, dengan latar belakang tempat tinggal yang tersebar di sedikitnya 22 kabupaten/kota. Jarak geografis, kesibukan, dan perjalanan hidup masing-masing tidak menghalangi kami untuk duduk bersama, melepas rindu, berbagi pengalaman, membicarakan persoalan, mencari jalan keluar, saling mendoakan, serta mempererat ikatan persaudaraan, Minggu, (18/10/2026)
Pertemuan itu bukan sekadar perjumpaan keluarga besar. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar berjabat tangan, bertukar cerita, atau mengenang masa lalu. Ada ingatan tentang asal-usul, ada ikatan darah yang menyatukan, dan ada tanggung jawab moral untuk menjaga persaudaraan agar tetap hidup, bukan hanya bagi generasi sekarang, tetapi juga bagi anak cucu yang akan datang.
Bagi kami, Parsadaan Pomparan Toga Sinaga dohot Boru (PPTSB) bukan semata-mata organisasi yang dibangun berdasarkan kesamaan leluhur. PPTSB seharusnya menjadi rumah persaudaraan, tempat setiap anggota merasa diterima, dihargai, didengar, dan memperoleh ruang untuk berkontribusi. Kesamaan darah dan marga akan kehilangan sebagian maknanya apabila tidak diwujudkan melalui kepedulian, sikap saling menghormati, serta tindakan nyata ketika sesama saudara menghadapi kesulitan.
Persaudaraan tidak cukup diucapkan dalam sambutan atau diteriakkan dalam suasana sukacita. Persaudaraan harus hadir ketika ada saudara yang membutuhkan pertolongan, ketika perbedaan pendapat menguji kebersamaan, dan ketika kepentingan pribadi berhadapan dengan kepentingan keluarga besar. Di situlah nilai sebuah parsadaan diuji.
JX HomeTown dan Ingatan tentang Bona Pasogit
Nama JX HomeTown yang digunakan sebagai merek usaha sekaligus dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur memberikan warna tersendiri bagi pertemuan kami. Di tengah kehidupan perantauan, nama yang berkaitan dengan kampung halaman itu seolah membuka kembali pintu ingatan tentang Bona Pasogit, Bona ni Pinasa, dan akar kehidupan yang diwariskan para leluhur Toga Sinaga.
Dalam bahasa Mandarin, jiāxiāng (家乡) berarti kampung halaman, sedangkan zǔxiān (祖先) berarti leluhur. Apabila JX dan ZX memang dimaksudkan sebagai inisial kedua istilah tersebut, keduanya dapat digunakan sebagai jembatan analogi untuk merenungkan hubungan antara tempat asal dan orang-orang yang mendahului kita dalam garis keturunan. Tentu, kedua istilah itu berasal dari bahasa Mandarin, bukan dari bahasa Batak.
Namun, justru di situlah menariknya sebuah nama. Nama dapat melampaui fungsi komersialnya dan menjadi pemantik refleksi tentang identitas, sejarah, serta hubungan manusia dengan asal-usulnya.
JX HomeTown tentu bukan Bona Pasogit itu sendiri. Tempat pertemuan di Jakarta ini tidak menggantikan kampung halaman leluhur. Akan tetapi, ia dapat menjadi ruang yang membangkitkan ingatan kolektif bahwa sejauh apa pun kita merantau, ada akar sejarah yang patut dikenali, dihormati, dan diwariskan.
Kita boleh membangun usaha di kota besar, menempuh pendidikan setinggi-tingginya, menduduki berbagai jabatan, serta mengukir keberhasilan di berbagai daerah. Namun, keberhasilan itu semestinya tidak membuat kita tercerabut dari akar budaya dan kehilangan kepedulian terhadap asal-usul.
Pohon yang menjulang tinggi tidak pernah dapat dipisahkan dari akarnya. Semakin kuat akar menancap ke bumi, semakin besar kemampuannya menopang batang dan cabang ketika diterpa angin. Demikian pula manusia. Identitas dan nilai-nilai yang diwariskan leluhur dapat menjadi pegangan ketika kita menghadapi perubahan zaman, asalkan warisan itu tidak hanya dibanggakan, tetapi juga dipahami dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Tarombo Bukan Sekadar Silsilah
Dalam kebudayaan Batak Toba, pembicaraan tentang asal-usul tidak dapat dilepaskan dari pemahaman mengenai Bona Pasogit, Bona ni Pinasa, dan tarombo. Ketiga istilah ini memiliki hubungan dengan ingatan asal-usul dan identitas, tetapi penggunaannya perlu dipahami berdasarkan konteks tradisi, penuturan keluarga, dan sejarah masing-masing.
Dalam tradisi lisan Batak Toba, Pusuk Buhit dan Sianjur Mula-Mula menempati posisi penting dalam kisah asal-usul yang diwariskan lintas generasi. Kisah-kisah tersebut bukan hanya bagian dari ingatan budaya, melainkan juga kekayaan pengetahuan yang perlu dipelihara dengan sikap hormat, terbuka, dan bertanggung jawab.
Sementara itu, tarombo membantu menelusuri hubungan kekerabatan, garis keturunan, serta hubungan antargenerasi. Karena itu, tarombo tidak semestinya dipandang sekadar sebagai daftar nama yang disusun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di dalamnya terdapat ingatan tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana hubungan kita dengan orang-orang yang mendahului maupun yang akan menggantikan kita. Tarombo membantu generasi muda memahami bahwa identitas keluarga bukan sesuatu yang muncul begitu saja, melainkan hasil perjalanan panjang yang diwariskan melalui cerita, pengalaman, dan tanggung jawab.
Namun, menjaga tarombo tidak berarti menutup diri terhadap perkembangan zaman. Sebaliknya, dokumentasi silsilah harus dilakukan dengan cermat, terbuka terhadap koreksi, dan menghormati pengetahuan para tetua. Cerita lisan yang selama ini tersimpan dalam ingatan orang tua perlu didokumentasikan agar tidak hilang ketika generasi yang menyimpannya telah tiada.
Kita perlu bertanya: apa artinya membanggakan leluhur apabila kita tidak lagi mengenal sejarah keluarga sendiri? Apa gunanya menyebut nama marga apabila kita tidak berusaha memahami nilai persaudaraan yang menyertainya?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menyalahkan siapa pun. Sebaliknya, pertanyaan tersebut merupakan ajakan agar kebanggaan terhadap identitas Batak Toba tidak berhenti pada simbol, tetapi berkembang menjadi kesadaran untuk merawat warisan budaya secara nyata.
Kepemimpinan sebagai Pelayanan, Bukan Sumber Perpecahan
Pertemuan keluarga besar juga mengingatkan kita bahwa persaudaraan membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga keutuhan. Organisasi sebesar PPTSB, dengan anggota yang tersebar di berbagai wilayah, tentu menghadapi perbedaan pandangan, kepentingan, dan cara menyelesaikan persoalan.
Perbedaan merupakan sesuatu yang wajar. Bahkan, perbedaan dapat memperkaya organisasi apabila dikelola dengan bijaksana. Yang perlu dihindari ialah ketika perbedaan berubah menjadi pertentangan berkepanjangan, ketika kepentingan kelompok mengalahkan kepentingan bersama, atau ketika jabatan justru menciptakan jarak di antara sesama saudara.
Kita merindukan kepemimpinan PPTSB di setiap tingkatan yang takut akan Tuhan, mengasihi keluarga besar, berlaku adil, bersedia mendengar, dan mampu merangkul perbedaan. Pemimpin hendaknya menjadi teladan dalam perkataan dan tindakan, bukan hanya pandai menyampaikan nasihat kepada anggota.
Jabatan dalam organisasi kekerabatan seharusnya dipahami sebagai amanah untuk melayani. Ia bukan alat untuk membangun pengaruh pribadi, apalagi menjadi sumber persaingan yang merusak hubungan kekeluargaan.
Pemimpin yang baik tidak harus selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara. Ia juga harus mampu mendengarkan suara yang berbeda, memberi kesempatan kepada generasi muda, menghargai pengalaman para tetua, serta memastikan bahwa setiap keputusan diambil dengan mempertimbangkan kepentingan keluarga besar.
Persaudaraan yang sehat tidak menuntut semua orang berpikir sama. Persaudaraan justru mengajarkan kita untuk tetap saling menghormati meskipun tidak selalu sependapat.
Lage-Lage Tiar: Lebih dari Sekadar Berkumpul
Di sinilah lage-lage tiar memperoleh makna yang lebih luas. Ia bukan sekadar kesempatan untuk bertemu, makan bersama, berfoto, atau mengenang masa lalu. Ia merupakan ruang perjumpaan dongan tubu, tempat saudara saling mengenali, memperbarui hubungan, berbagi pengalaman, dan membangun kesepahaman.
Pertemuan seperti ini menjadi semakin penting di tengah kehidupan modern yang bergerak cepat. Banyak keluarga hidup berjauhan, disibukkan pekerjaan, dan berkomunikasi melalui layar telepon. Hubungan memang dapat dipertahankan melalui teknologi, tetapi perjumpaan langsung memiliki kekuatan tersendiri: kita dapat membaca ekspresi, mendengar cerita secara utuh, merasakan kehangatan, dan membangun kembali kedekatan yang mungkin mulai merenggang.
Karena itu, lage-lage tiar perlu dipelihara sebagai tradisi yang memberikan manfaat nyata. Pertemuan hendaknya tidak berhenti setelah acara selesai. Persoalan yang dibicarakan perlu ditindaklanjuti, kesepakatan yang dibangun perlu dijalankan, dan kepedulian yang diucapkan perlu diwujudkan.
Persaudaraan juga perlu diteruskan melalui kerja nyata dalam pelestarian bahasa Batak, pendokumentasian tarombo, pengumpulan cerita lisan para tetua, serta pengenalan sejarah dan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Anak-anak kita perlu mengetahui bukan hanya nama leluhurnya, tetapi juga nilai kehidupan yang hendak diwariskan: kejujuran, kerja keras, rasa hormat, solidaritas, dan tanggung jawab.
Warisan budaya tidak akan bertahan hanya karena kita sering menyebutnya. Ia akan tetap hidup apabila dipraktikkan, diajarkan, dan diberi ruang untuk berkembang tanpa kehilangan nilai dasarnya.
Dari Persaudaraan Menuju Kepedulian terhadap Bona Pasogit
Ada satu hal lagi yang patut kita renungkan. Jika perantauan telah memberi kita kesempatan untuk berkembang, memperoleh pengetahuan, membangun usaha, dan mencapai kesejahteraan, bukankah sudah sewajarnya keberhasilan itu juga melahirkan kepedulian terhadap kampung halaman?
Kecintaan terhadap Bona Pasogit tidak harus selalu diwujudkan melalui ungkapan sentimental atau kunjungan sesekali. Kecintaan itu dapat hadir melalui perhatian terhadap pendidikan anak-anak, penguatan ekonomi masyarakat, pelestarian adat dan bahasa, serta perlindungan lingkungan.
Kampung halaman bukan hanya tempat yang kita kenang, melainkan juga ruang kehidupan yang perlu dijaga. Tanah, air, hutan, dan lanskap budaya merupakan bagian dari warisan yang menentukan kualitas hidup generasi mendatang. Apabila lingkungan rusak dan pengetahuan lokal menghilang, sebagian kekayaan yang diwariskan leluhur juga ikut terancam.
Oleh sebab itu, persaudaraan PPTSB dapat menjadi kekuatan sosial yang mendorong kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat di Bona Pasogit. Anggota keluarga besar yang tersebar di berbagai daerah memiliki pengalaman, keahlian, dan sumber daya yang beragam. Jika semua itu dipertemukan melalui kerja sama yang tulus, persaudaraan dapat memberikan manfaat yang melampaui lingkungan keluarga sendiri.
Inilah tantangan bagi generasi sekarang: bagaimana menjadikan ikatan marga sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik, bukan sekadar sebagai kebanggaan terhadap masa lalu.
Menjaga Akar, Menatap Masa Depan
Pertemuan keturunan Toga Sinaga di JX HomeTown, Pulo Mas, pada 18 Oktober 2026, memberi kita kesempatan untuk kembali merenungkan arti sebuah persaudaraan. Kita datang dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota, menjalani kehidupan yang berbeda, serta membawa pengalaman masing-masing. Namun, perbedaan jarak dan perjalanan hidup itu tidak menghapus hubungan yang mempertemukan kita.
JX HomeTown mengingatkan kita pada kampung halaman. Bona Pasogit dan Bona ni Pinasa mengajak kita merenungkan akar sejarah serta warisan leluhur. Tarombo membantu kita memahami hubungan antargenerasi. Sementara itu, lage-lage tiar memberi ruang agar ingatan, kasih sayang, dan tanggung jawab tersebut terus diperbarui.
Akan tetapi, semua simbol dan ingatan itu hanya akan menjadi kenangan apabila tidak disertai tindakan. Persaudaraan harus dirawat dengan kepedulian. Organisasi harus dijalankan dengan ketulusan. Tarombo harus didokumentasikan dengan cermat. Bahasa dan budaya harus diwariskan kepada generasi muda. Kampung halaman harus diperhatikan, dan lingkungan harus dijaga.
Kita tidak dapat memilih dari mana kita memulai perjalanan kehidupan, tetapi kita dapat menentukan bagaimana memperlakukan warisan yang telah dipercayakan kepada kita.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah parsadaan bukan semata-mata seberapa besar organisasinya, seberapa sering anggotanya berkumpul, atau seberapa meriah acaranya. Ukuran yang lebih mendasar ialah seberapa kuat persaudaraan itu menjaga martabat setiap anggotanya, menolong mereka yang membutuhkan, merangkul perbedaan, dan meninggalkan warisan yang bermakna bagi generasi berikutnya.
JX HomeTown menggerakkan ingatan di perantauan. Bona Pasogit dan Bona ni Pinasa menghubungkan kita dengan akar leluhur. Tarombo menjaga jejak perjalanan antargenerasi. Namun, kasih, kepedulian, dan tindakan nyatalah yang menentukan apakah persaudaraan itu akan tetap hidup.
Sebab, merawat leluhur bukan hanya mengenang mereka yang telah mendahului kita, melainkan juga menjaga nilai-nilai yang mereka wariskan dan meneruskannya dengan penuh tanggung jawab kepada anak cucu.
Horas ma hita saluhutna!












