BeritaHeadline

Marsialapari dan Akal Batak

×

Marsialapari dan Akal Batak

Sebarkan artikel ini
Wilmar Eliaser Simandjorang.

Refleksi dari Lereng Pusuk Buhit, Saat Hume, Kant, Hegel, Gadamer, Heidegger, dan Paulus Membaca Ulang Cara Batak Berpikir

Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia (PS-GI)

SAMOSIR, JAYA POS — Modernitas kerap memperlakukan kearifan lokal layaknya benda museum: menarik dipandang, namun dianggap usang untuk dijadikan pedoman hidup. Padahal, jika dibaca ulang melalui perspektif para pemikir besar dunia, kearifan lokal justru tampil sebagai laboratorium pemikiran yang hidup dan terus relevan menjawab perubahan zaman.

Salah satu contohnya dapat ditemukan dalam praktik marsialapari di lereng Gunung Pusuk Buhit, Sianjur Mula-mula — kawasan yang diyakini sebagai tanah asal orang Batak menurut tarombo.

David Hume: Kebenaran yang Lahir dari Pengalaman

Filsuf empiris David Hume mungkin akan melihat marsialapari sebagai bentuk pengetahuan yang lahir bukan dari teori, melainkan dari pengalaman hidup yang berulang.

Lereng Pusuk Buhit yang curam, berbatu, dan keras membuat satu keluarga mustahil membuka ladang seorang diri. Dari kondisi alam itulah muncul tradisi saling membantu: hari ini membersihkan huma milik tetangga, esok bersama-sama menanam di ladang yang lain.

Tradisi itu bertahan lintas generasi keturunan Si Raja Batak. Bila tidak berguna, masyarakat Sianjur Mula-mula tentu telah lama tercerai-berai. Fakta bahwa praktik ini tetap hidup menunjukkan satu hal penting: kearifan lokal memiliki kebenaran praktis karena menjaga manusia tetap bertahan sekaligus tetap bersaudara.

Immanuel Kant: Moralitas di Balik Tradisi

Namun Immanuel Kant akan mengingatkan bahwa marsialapari bukan sekadar kebiasaan turun-temurun. Di dalamnya terdapat struktur moral yang menjadi dasar cara pandang orang Batak terhadap kehidupan.

Nilai somba mengajarkan penghormatan kepada orang tua sebagai penjaga tarombo dan sejarah asal-usul. Nilai eleh menuntun sikap menahan diri demi menjaga kerukunan di kampung yang hidup berdampingan dalam ruang terbatas. Sementara haholongan menjadi ikatan kasih sayang antar sesama keturunan.

Bagi masyarakat luar yang hanya memakai ukuran efisiensi ekonomi, marsialapari mungkin tampak tidak produktif. Namun bagi masyarakat Batak, tradisi itu adalah cara menjaga Pusuk Buhit tetap menjadi pusat kehidupan, bukan sekadar bentang alam atau objek wisata.

Georg Hegel: Tradisi yang Hidup Selalu Berdialektika

Filsuf Georg Hegel akan melihat bahwa kearifan lokal tidak pernah benar-benar diam. Ia terus bergerak mengikuti sejarah.

Dulu, marsialapari hadir dalam bentuk gotong royong membuka ladang di lereng gunung. Ketika orang Batak mulai merantau ke Humbang, Samosir, Medan, bahkan ke luar negeri, tradisi itu tidak ikut mati.

Nilainya justru bertransformasi menjadi arisan marga, koperasi simpan pinjam, hingga gotong royong membangun Tugu Si Raja Batak di berbagai daerah perantauan. Bentuknya berubah, tetapi semangatnya tetap sama: saling menopang sebagai satu komunitas.

Di situlah letak kekuatan kearifan lokal — ia mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan ruhnya.

Hans-Georg Gadamer: Memahami dengan Dialog

Hans-Georg Gadamer menekankan bahwa memahami budaya tidak bisa dilakukan dengan memaksakan sudut pandang sendiri.

Modernitas sering datang dengan prasangka bahwa gotong royong menghambat kebebasan individu. Sebaliknya, masyarakat Batak memiliki keyakinan bahwa tanpa dongantubu dan solidaritas kekerabatan, Pusuk Buhit hanyalah sebongkah batu tanpa makna.

Pemahaman lahir bukan ketika salah satu pandangan menang, tetapi ketika keduanya berdialog. Dari dialog itulah muncul kesadaran baru bahwa kemajuan tidak selalu harus memutus akar budaya.

Martin Heidegger: Cara Batak “Berada” di Dunia

Bagi Martin Heidegger, marsialapari bukan hanya metode bekerja bersama, melainkan cara manusia “berada” di dunia.

Bagi masyarakat Batak, tanah bukan semata komoditas ekonomi. Ia adalah tano na sinundut — tanah yang dipijak leluhur, ruang tempat identitas dan sejarah diwariskan.

Karena itu, relasi manusia dengan tanah tidak dibangun atas logika eksploitasi, melainkan keterikatan eksistensial. Inilah titik di mana kearifan Batak menolak cara berpikir modern yang mereduksi segala sesuatu menjadi angka, keuntungan, dan efisiensi.

Paulus: Adat Harus Tetap Diuji

Meski demikian, Rasul Paulus mengingatkan bahwa tidak semua adat otomatis benar dan suci.

Jika marsialapari berubah menjadi tekanan sosial yang membebani keluarga miskin, atau menghambat anak-anak memperoleh pendidikan karena diwajibkan membantu di ladang, maka tradisi itu perlu dikritik dan diperbarui.

Kearifan lokal bukan berhala yang tidak boleh disentuh. Ia harus terus diuji: apakah masih menghadirkan keadilan, kemerdekaan, dan kesejahteraan bagi manusia?

Refleksi Akhir

Pada akhirnya, kearifan Batak bukan jawaban yang selesai. Ia adalah pertanyaan yang terus hidup di tengah perubahan zaman.

Masih mungkinkah manusia bekerja bersama tanpa selalu menghitung upah?
Masih mungkinkah tanah asal dipandang sebagai rumah, bukan sekadar destinasi wisata atau aset ekonomi?

Selama pertanyaan-pertanyaan itu masih relevan, maka marsialapari di lereng Pusuk Buhit bukan sekadar kisah masa lalu. Ia tetap hidup sebagai cara orang Batak memikirkan masa depan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *